
Hari sudah menjelang malam, matahari pun sudah tak terlihat lagi dan sudah berganti menjadi bulan. Alea yang tadinya tertidur kini sudah bangun dan sudah membersihkan diri. Ia menatap langit-langit yang tiada bintang, rasa berkecamuk, aneh dan resah. Ia mengelus perutnya sambil tersenyum.
Kalau benar Leon hanya mempermainkan nya, apa ia akan sanggup merawat anaknya sendirian? Uang yang sekarang tidaklah bisa menjamin kehidupan nya di masa depan, bagaimana kalau uang itu habis?
Ding dong.
Suara bel membuyarkan lamunannya, Alea berjalan menuju pintu lalu membukanya.
Ceklek.
"Selamat malam nona," sapa Jack yang berdiri di depan pintu sambil menenteng kantung plastik.
"Malam tuan." Alea tidak mempersilahkan Jack masuk karena ini sudah malam,lagi pula ia tak ingin mencari masalah dengan mengundang laki-laki asing masuk ke dalam.
"Saya membawakan anda makanan, kebetulan di depan apartemen ada orang yang menjual mie goreng jadi saya membelikan seporsi untuk anda." Jack memberikan satu bungkusan padanya.
"Terimakasih tuan, tapi saya tidak bisa mengajak anda masuk karena ini sudah malam. Maafkan saya," ucap Alea.
"Tidak apa-apa nona, sebenarnya saya juga tinggal di sini. Kamar saya ada di lantai 13, jadi karena saya akan melewati kamar anda saya berinisiatif untuk mengantarkan makanan. Siapa tahu anda menyukainya." Ada sedikit rasa aneh yang terselip di pikiran Alea, laki-laki ini terlalu baik pada orang yang baru saja ia kenal. Meski alasan nya adalah karena Alea sedang hamil, tapi ini sudah berlebihan.
"Terimakasih tuan, maaf sudah merepotkan Anda."
"Sama-sama, kalau ada sesuatu yang menggangu anda bisa menghubungi saya lewat telepon yang sudah ada di kamar anda, di sana ada nomer ponsel saya."
"Baik tuan."
"Jack, tolong panggil saya Jack saja."
"Baik Jack."
Setelah kepergian Jack, Alea pun pergi masuk dan mengunci pintunya. Ia duduk di di sofa sambil menonton TV. Ia membuka bungkusan yang di berikan Jack, mata Alea berbinar ketika melihat seporsi mie goreng dan juga salad buah. Alea mengambil piring ke dapur dan langsung menaruhnya di dalam piring.
"Kelihatan nya sangat enak." Tanpa basa-basi lagi Alea langsung memakan mie nya dengan lahap melupakan semua kesedihan dan kegelisahan nya.
Malam, cepatlah berlalu.
Hidup, cepatlah berubah
Waktu, kembalikan masa lalu
Ada sesuatu yang ingin aku ubah
*******
Mansion Glen.
"Bagaimana Xei?" tanya Glen yang sedari tadi menunggu hasil pencarian lokasi Alea.
"Hmmm, menurut urutan cctv...." Ucapan Xei terhenti membuat Glen semakin penasaran.
"Ada apa?"
"Tuan, sepertinya kita punya musuh baru."
__ADS_1
Deg
"Apa maksud mu?" tanya Glen bingung. Musuh baru apa maksudnya? Musuhnya hanya Leon semata tak ada yang lain, siapa yang di maksud Xei.
"Entahlah tuan, tapi dari hasil pencarian saya mobil ini berputar-putar seperti sedang mengecoh pencarian dari kita. Mobil ini menuju arah Utara kota dimana daerah itu sudah tidak terlengkapi cctv."
"Jadi maksud mu, ada yang sedang melakukan rencana Jahat pada Selena?" tanya Glen. Rasa khawatir dan juga bersalah menggerogoti hatinya.
"Sepertinya begitu."
"Apa kita tidak bisa mencari cctv terdekat di arah Utara?" tanya Glen.
"Hmmm, ada beberapa cctv di bagian kota sebelah utara. Hanya saja ketika saya meretas cctv di sana, mobilnya sudah tak terlihat lagi. Saya rasa si pengendara sengaja mengambil jalan pintas."
"Kita harus cepat Xei, sebarkan semua anak buah dan juga para hacker untuk mencari keberadaan Selena!" perintah Glen.
"Baik tuan, tapi apa kita tak perlu memberitahu Leon masalah ini?" tanya Xei.
"Laki-laki tidak berguna itu jangan terlalu berharap padanya, jika ia memang hebat ia pasti sudah menemukan fakta tentang lokasi Selena seperti kita."
"Baik tuan."
"Ku harap kau baik-baik saja Lena."
*******
Mansion Leon.
"Leon!!" teriak Arsel mengejutkan Leon yang sedang makan bersama Danish.
"Kita harus segera bergerak!" tegas Arsel membuat seisi ruangan bingung dan juga panik.
"Apa maksud mu Ars?"
"Ini sebuah konspirasi, aku yakin itu. Ada yang sedang merencanakan hal buruk untuk mu dan juga istri mu," terang Arsel.
Deg
"Apa kau sudah mengetahui lokasi kakak ipar?" tanya Danish.
"Aku belum bisa mengatakan nya dengan pasti, tapi si pengendara sangat pintar dengan berputar-putar untuk mengelabui kita."
"Sebaiknya kita bergerak langsung tuan, saya khawatir nona Alea akan kenapa-kenapa," saran pak Andi.
"Siapkan semuanya, kita berangkat malam ini juga!" perintah Leon.
"Kota Sambo adalah kota yang besar sangat sulit untuk mencari kakak ipar hanya dengan rekaman cctv yang menunjukkan mereka ke arah Utara. Bisa saja pengendara itu sengaja memilih arah sana yang tak memiliki cctv untuk mengecoh kita."
"Kerahkan semuanya untuk mencari keberadaan Alea!" titah Leon sembari memakai jaketnya lalu berjalan keluar di ikuti yang lainnya.
"Pak Andi, tolong jaga Nena dan juga Mita!" perintah Leon.
"Baik tuan."
__ADS_1
*********
Apartemen
Setelah memakan satu porsi mie goreng pemberian Jack, Alea merasa kurang. Ia memegangi perutnya yang sudah besar karena usia kandungan nya yang sudah menginjak 4 bulan.
Alea tidak tahu, apakah normal kalau perutnya sebesar ini tapi usianya masih 4 bulan, yang Alea tahu usia kandungan itu akan besar kalau sudah masuk usia 6-9 bulan.
"Apa mungkin aku mengandung bayi kembar yah?" tanya Alea tersenyum kecut. Jika ia benar-benar mengandung bayi kembar berarti ia harus mencari uang yang banyak agar bisa menghidupi anak-anaknya kelak.
"Aku sangat lapar, mengapa seporsi saja tidak cukup?"
Alea berjalan ke arah balkon melihat ke arah bawah apartemen. Matanya membulat berbinar-binar melihat banyaknya pedagang yang menjual aneka jajanan. Jiwa kelaparan nya pun meronta-ronta ingin menjelajahi satu persatu makanan yang menggugah selera.
"Apa aku turun saja kebawah?"
Alea tampak berpikir dan akhirnya memilih untuk turun, ia memakai daster panjang dan juga sweater.
Sesampainya di bawah, Alea pun mulai menjelajahi dagangan pinggir jalan yang dekat dengan apartemen. Serasa tak ada masalah Alea tersenyum bahagia di setiap langkah nya.
"Nona," panggil seseorang membuat Alea terkejut lalu berbalik.
Kening Alea tampak berkerut melihat pria yang ada di belakang nya tadi. "Tuan Jack?"
"Apa yang anda lakukan malam-malam di luar?" tanya Jack.
"Hmmm aku lapar," jawab Alea singkat. Entah mengapa ada rasa tak nyaman karena sikap Jack yang terlalu over padanya.
"Oh....."
"Kalau anda sendiri?" tanya Alea.
"Sama, mie goreng yang tadi saya beli ternyata sangat enak. Jadi saya ingin membelinya lagi," kata Jack memperlihatkan bungkusan plastik yang ada di tangannya.
"Ohh..."
"Mau saya temani nona, saya khawatir karena di sini rawan akan kejahatan. Terutama pada wanita." Entah mengapa bulu kuduk Alea tiba-tiba berdiri karena merasa aneh dengan tatapan Jack.
"Hmmm, tidak per..." Saat Alea ingin menolak tawaran Jack, suara seseorang membuat Alea menghentikan ucapannya dan membulatkan matanya.
"Menantu, apa yang kau lakukan di sini?"
Deg
_
_
_
_
_
__ADS_1
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tnc