Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Secuil harapan


__ADS_3

Setelah beberapa jam perjalanan menuju apartemen Jack, akhirnya mereka pun sampai. Apartemen yang bagus dan juga bersih, sangat menarik perhatian Alea.


"Berapa sewa nya tuan?" tanya Alea. Siapa tahu harga nya sangat mahal, bisa-bisa ia jadi tekor karena membayar apartemen mewah itu.


"Untuk anda akan saya beri diskon, nona. Jadi, anda hanya perlu membayar 25 JT perbulannya," kata Jack.


"Hmmm, baiklah. Nanti aku akan bayar ketika sudah ada di dalam."


"Baik nona, mari saya hantarkan."


Jack pun menuntun Alea masuk ke dalam apartemen, apartemen yang memiliki puluhan tingkat, sangat luar biasa.


"Nona, kamar anda berada di lantai 12. Ini kuncinya, maaf karena tidak bisa menghantarkan anda ke lantai 12 karena saya memiliki urusan yang mendadak," jelas Jack. Alea pun mengangguk lalu mengambil kunci kamarnya.


"Terimakasih tuan."


"Sama-sama, lain kali saya akan berkunjung jika anda tidak keberatan," kata Jack.


"Yah, baiklah."


"Saya permisi dulu nona, semoga anda nyaman selama menginap di sini."


*******


Setelah kepergian Jack, Alea pun langsung naik ke lantai 12 menggunakan lift. Ia sudah sangat mahir kalau mengenai gedung-gedung tinggi, jadi ia tak akan kesulitan bila naik lift ataupun eskalator.


Ting.


Sesampainya di lantai 12, Alea mengambil kunci yang tadi di berikan Jack, ia pun membuka pintu.


Ceklek.


Sederhana namun nyaman, itulah kesan pertama yang Alea rasakan. Meski tidak terlalu mewah, tapi Alea sudah merasa nyaman hanya dengan melihat ruangannya saja.


Apartemen yang dilengkapi dengan 2 kamar tidur utama, 2 kamar mandi, ruang keluarga, ruang makan, dapur, balkon disertai dengan kapasitas listrik 6600 watt memiliki luas bangunan SGA 91,40 m2 - 91,69 m2 dan Nett Area 78,32 - 78,56 m2.


Sangat cocok dengan Alea yang sangat menyukai suasana nyaman dan tenang.


Alea pun menutup pintu dan meletakkan tas ranselnya yang sangat berat di atas sofa. Ia mendaratkan tubuhnya di sofa empuk sambil memejamkan matanya.


Sangat lelah.


Karena sangat lelah Alea pun tanpa sadar tertidur di sofa, di saat tidur entah sedang bermimpi atau memang hormon kehamilan. Air mata Alea menetes membasahi pipinya.


"Le-leon, hiks hiks......."


********


Di mansion Leon.


Leon dan Arsel kini sedang memeriksa chip yang di temukan Arsel, di sana sudah ada Mita, Danish, Vino dan juga pak Andi yang sedari tadi khawatir.


Mereka dengan seksama melihat putaran video dari memory card mobil taksi itu.


"Itu dia," seru Leon ketika melihat Alea berjalan tepat di depan mobil, karena memang kamera depan jadi hanya bisa menampilkan tampilan di depan mobil saja.


Tampak di dalam video Alea terus berjalan lurus menjauhi taksi sampai terlihat sebuah mobil berwarna merah berhenti di samping Alea.


Semuanya terdiam mengamati apa yang di lakukan si pemilik mobil, Leon dan yang lainnya tak bisa mendengar apa yang di ucapkan si pemilik mobil dan Alea, namun terlihat di sana Alea mengangguk dan masuk ke dalam mobil orang yang tidak di kenal.


Mobil pun berjalan lurus menuju kota Sambo sampai belakang mobil itu tak terlihat lagi di dalam video.

__ADS_1


"Cari tahu tentang pemilik mobil itu!"


Tanpa menunggu lama lagi Arsel pun mencari tahu melalui plat nomor mobil yang membawa Alea pergi.


"Tuan, saya akan mengambilkan air minum dan beberapa makanan. Karena sedari pagi Anda belum menyantap apapun," ucap pak Andi.


"Baik pak Andi, terimakasih."


"Saya juga permisi sebentar tuan," sambung Vino.


"Mau kemana kau?" tanya Leon namun matanya masih fokus ke laptop.


"Saya ingin mengambil ponsel saya yang tertinggal di mobil."


"Hmmm."


Selang beberapa detik pak Andi keluar dari ruangan, Vino pun ikut keluar juga.


******


Tap


Tap


Tap


Drrrrttt


Drrrrttt


"Katakan!"


"Keberadaan nona Alea sudah hampir di temukan tuan," kata pria itu.


"Dari memory card mobil taksi yang di tumpangi nona Alea."


"Sebutkan plat nomor nya!"


"Baik tuan," kata pria itu. Setelah menyebutkan plat nomor mobil yang membawa Alea, ia pun mematikan ponselnya lalu pergi dari tempat itu.


********


Di mansion Glen.


"Bagaimana Xei?" tanya Glen.


"Hmmm, kalau menurut urutan cctv di kota Sambo. Mobilnya beberapa kali terlihat, hanya saja ini terlalu acak hingga butuh beberapa jam untuk mengetahui kemana sebenarnya mobil ini melaju," jelas Xei.


"Kalau begitu, jangan berhenti mencari!" tegas Glen.


"Tuan, apa kita tidak perlu mencegah Leon untuk menemukan nona Alea?" tanya Xei.


"Tidak perlu, sekarang yang lebih penting adalah keselamatan Selena. Meski Leon berhasil menemukan Selena, kecil kemungkinan Selena akan memaafkan Leon dengan mudah.


"Baik tuan."


"Kuharap kau baik-baik saja Lena."


******


Mansion Leon.

__ADS_1


"Tuan, silahkan," kata pak Andi menghidangkan beberapa makanan dan juga air minum. Leon sebenarnya tidak selera makan, hanya saja ia harus menjaga kesehatan nya kalau ia ingin melindungi Alea.


"Dimana Vino?" tanya Leon.


"Tuan Vino tadi keluar sebentar mengambil ponselnya di mobil," jelas pak Andi.


"Ohh....."


"Leon, coba perhatikan ini!" perhatian Leon pun beralih pada video cctv hasil retasan Arsel. Sambil memakan makanannya Leon melihat mobil yang sama membawa Alea menuju kota.


"Ini terlalu acak, seperti...."


"Direncanakan," sambung Leon menghentikan kunyahannya.


"Hmmm, tapi bisa jadi mobil ini berputar-putar karena mencari jalan pintas. Lihat saja, jalanan nya macet," tutur Arsel.


"Bisa saja."


"Butuh beberapa jam untuk mencocokkan video nya, jadi kita harus bekerja keras." Arsel memegangi perutnya yang keroncongan, ia melihat makanan di atas meja dan meneguk salivanya.


"Makanlah terlebih dahulu, baru nanti kita lanjutkan lagi." Leon pun merasa iba melihat tatapan kelaparan Arsel, bagaimana pun Leon lah yang membutuhkan Arsel, jadi tak mungkin ia terlalu memaksakan kehendak.


"Papa." Tatapan Leon beralih pada Nena yang baru saja masuk bersama Vino. Dengan mata yang bengkak khas orang bangun tidur Nena duduk di pangkuan Leon.


"Kau sudah bangun?" tanya Leon menciumi pucuk kepala anak angkatnya itu.


"Hmmm, dimana mama?" tanya Nena. Ia memang belum tahu kalau Alea kabur dari rumah karena memang tidak ada yang boleh memberi tahu, apalagi kondisi Nena yang sedang tidak enak badan.


"Mama sedang berada di rumah bibi Ayla," tutur Leon berbohong.


" Untuk apa dia kesana?" tanya Nena.


"Hmmm, katanya ia merindukan bibi Ayla, jadi ia pergi kesana."


"Kapan mama pulang?"


Tampak Leon berpikir, jawaban apa yang harus ia berikan.


"Nena sayang, mama nanti akan pulang kalau ia ingin pulang. Ayo kemari bermain bersama bibi saja," bujuk Mita. Nena pun dengan patuh mengikuti Mita keluar dari ruangan.


Leon memandang kepergian Nena, ia menghela nafas berat karena bukan hanya Nena saja yang rindu Alea. Ia juga sangat merindukan Alea.


"Dimana kau Bee?"


_


_


_


_


_


Oh yah.


Cerita ini tidak menyangkut negara manapun, agama, suku, tempat dan lain-lain. Hanya sekedar pemikiran author saja.


Kasih semangat dong:)


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.

__ADS_1


tbc


__ADS_2