Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Ending


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Setelah kejadian yang menimpa Alea dan Glen maupun Mita dan Nena. Semuanya kembali menjadi normal. Masing-masing pergi ke tempat mereka yang mereka rasa itu adalah tempat yang menenangkan. Begitu juga pak Andi, hari itu hari dimana Glen di kabarkan tewas pak Andi langsung meninggalkan tempat dimana ia menyekap Mita dan Nena, sehingga Vino dan Danish menemukan Mita dan Nena dengan mudah.


Pak Andi pergi jauh sejauh nya kesebuah pulau pribadi milik Glen. Pulau yang di rancang khusus untuknya di berikan Glen sebagai rasa kasih sayang kepada pak Andi selaku paman yang membesarkan Glen.


Sedangkan Xei, ia menjalankan perusahaan dan juga semua milik Glen. Ia tak ingin semua yang di gapai tuannya dengan bersusah payah hancur dalam sekejap mata.


*******


Rumah sakit.


Leon yang baru saja membeli makanan di pinggir jalan melangkah kakinya menuju ruang VIP tempat Alea berada, kandungan Alea sekarang sudah masuk usia tua, tinggal menghitung beberapa hari atau minggu lagi Alea akan melahirkan.


Senyuman Leon terukir manis tak kala mengingat kalau ternyata mereka akan memiliki baby twins. Ia sudah tak sabar lagi menuju hari itu, ada rasa bahagia ada juga rasa takut kalau Alea akan kenapa-kenapa sewaktu melahirkan, karena Alea menginginkan melahirkan secara normal.


Ceklek.


"Sayang," panggil Leon tersenyum sambil mengangkat kantong plastik berisikan jajanan yang di minta Alea.


Dengan manis pula Alea membalas senyuman Leon sambil merentangkan tangannya. Pipinya yang berisi membuat Leon menjadi gemas ingin mencubit. Namun, setiap kali Leon ingin merasakan pipi bulat itu Alea selalu memelototi nya.


"Kau sudah datang Boo? Aku sangat merindukanmu." Leon sangat gemas dengan tingkah Alea, dengan senang hati ia langsung memeluk Alea yang memposisikan tangan nya merentang menyambut.


"Baru beberapa menit saja sudah rindu," ledek Leon.


"Yasudah kalau kau tak mau aku rindukan, aku tak akan merindukanmu lagi. Biar saja aku mati!" cebik Alea namun masih memeluk dan membaui aroma tubuh Leon yang membuat Alea mabuk kepayang setiap menciumnya.


"He, cerewet sekali. Ini makanannya," kata Leon memberikan kantung plastik yang berisi makanan.


"Aku sudah tak ingin makan lagi," tolak Alea membuat Leon kembali mendengus kesal. Leon serasa sudah muak mendengar alasan Alea yang selalu saja memesan makanan lalu tak memakannya.


"Yasudah, nanti saja kalau kau lapar yah."


"Tidak! Kau harus memakan nya suamiku," kata Alea mengambil makanan dari dalam kantong plastik.


"Aaaaaaa," kata Alea membuka mulutnya untuk mengintruksikan Leon untuk membuka mulutnya.


Leon pun agak ragu membuka mulutnya karena ia tak suka dengan makanan yang di sodorkan Alea.


"Sayang, itu tidak enak."


"Mana ada makanan yang tidak enak, kau ini!" timpal Alea.


Leon kembali memberengut melihat makanan yang terbuat dari kerang, ia sungguh tak suka kerang.


"Cepat buka mulut mu!" ketus Alea.


Leon pun hanya bisa pasrah lalu membuka mulutnya memakan makanan yang seharusnya tak bisa ia makan. Dengan cepat ia menggigit dan menelan agar makanan lekas habis.


Setelah drama makan memakan itu selesai, Leon kini berada di atas ranjang memeluk Alea yang sudah tertidur. Perut Alea yang sangat besar itu membuat Leon was-was.


"Semoga tidak terjadi apa-apa."


******

__ADS_1


Hari-hari dilewati dengan sempurna, kebahagiaan dan juga senyuman manis.


Hari ini adalah hari yang sangat menegangkan, Alea akan melahirkan membuat Leon tak henti-hentinya mengelus dadanya karena khawatir.


Di ruang persalinan Leon mengelus rambut Alea yang terlihat basah karena berkeringat. Leon tersenyum ketika Alea menatap matanya lalu mengembangkan senyumannya. Itu terlihat sangat lucu.


Proses persalinan pun di mulai, dimana bidan kini sedang memberi aba-aba apa yang harus dilakukan Alea. Leon yang merasakan sakit yang di rasakan Alea menggenggam tangan Alea dengan erat begitu pula Alea yang menggenggam tangan Leon begitu kuat.


"Tarik nafas, buang. Tarik, buang...."


Alea mengikuti instruksi yang di katakan bidan, ia merasa sangat sakit dan juga lelah. Ini sebuah pengorbanan yang sangat besar. Air matanya jatuh tak kala mengingat ketika ia ingin membunuh anak nya. Ia berfikir, apakah nanti ia masih hidup ketika anaknya berhasil di lahirkan?


Namun, ia berharap Tuhan akan memberinya kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu dan wanita normal.


Satu teriakan kuat Alea berhasil lolos dan juga membuahkan hasil yang indah. Babay twins nya lahir ke dunia dengan tangisan yang merdu di telinga Alea. Alea menatap Leon dengan penuh kasih sayang, melihat laki-laki yang selalu berada di sisinya.


"Kau berhasil sayang, kau berhasil." Leon memeluk Alea dengan erat sambil menciumi kepala Alea.


"Yah, aku berhasil hiks hiks aku berhasil." Tangis kebahagiaan Alea pecah, ia kembali memeluk Leon sambil meneteskan air matanya.


"Selamat tuan dan nyonya, anak anda berjenis kelamin laki-laki dan perempuan."


Deg


Semburat kebahagiaan kembali menghampiri Alea dan Leon, sebuah kesempurnaan dalam sebuah rumah tangga. Bidan itu memberikan kedua bayinya pada Alea dan Leon agar mereka dapat melihat wujud anak mereka.


Alea tersenyum tak kala melihat kedua buah hatinya yang kecil dan juga imut.


"Dia sangat kecil," kata Alea mengelus pipi anaknya.


"Nona, siapa yang pertama kali lahir?" tanya Alea pada bidan itu.


"Yang berjenis kelamin laki-laki, nyonya," jawab bidan itu.


"Terimakasih."


"Leon, menurut siapa nama yang cocok dengan anak kita?" tanya Alea antusias.


Tok


Tok


Tok


Sebelum Leon menjawab ketukan pintu membuat Alea dan Leon melirik.


Leon berjalan membukakan pintu dan terkejut ketika orang yang mengetuk pintu langsung menerobos masuk.


"Kakak ipar..."


"Mama..."


Ternyata itu adalah Mita dan Nena, tak lupa pula tiga orang pria yang mengekor di belakang.


"Selamat yah Leon," ucap Arsel dan Danish.

__ADS_1


"Selamat tuan, semoga kedepannya keluarga anda akan semakin bahagia." Kini Vino yang mengucapkan selamat pada Leon.


"Kau ini, kita sedang tak berada di kantor, jadi jangan terlalu baku." Vino tersenyum lalu mengangguk, mereka mendekat pada wanita-wanita rempong yang sedang berbincang di atas ranjang.


"Wah, adik kecil badannya kecil sekali," ucap Nena gemas menoel-noel pipi adik kecil nya.


"Jadi kau pikir dia akan lahir dengan tubuh sebesar dirimu?" tanya Leon sambil menciumi pucuk kepala Nena yang duduk di samping Alea. Nena pun mengangguk lucu membuat semua orang tertawa.


"Jika dia lahir dengan ukuran seperti mu, papa yakin mama Alea tak akan pernah hamil, karena papa takut mama akan kenapa-kenapa."


"Sudah-sudah, kalian ini. Siapa nama kedua anak kucing ini?" tanya Mita membuat Leon mendengus kesal.


"Kau pikir kami kucing," ketus Leon.


"Hahahaha."


"Hmmm, kami belum memberikan nama karena belum menemukan yang cocok. Apa kalian punya saran?" tanya Alea.


"Hmmm, bagaimana dengan Zein dan Zenith? Aku suka nama itu, itu sangat menggemaskan," saran Mita.


"Hmmm, lumayan."


" Yeay, berarti nama yang laki-laki adalah Zein dan yang perempuan adalah Zenith. Wah, aku sangat senang," celetuk Mita.


"Cih, senang sekali. Kalau kau sangat suka dengan nama itu, mengapa tak memberikan nya pada anak mu?" ketus Leon.


"Kau bercanda ha? Aku tidak punya anak, jangankan anak, suami saja aku tak punya."


"Maka cepatlah menikah!"


"Menyebalkan!"


"Hmmm, Zein dan Zenith. Semoga kalian berdua menjadi anak yang baik, sehat selalu anak ku." Alea menetes air matanya karena terharu, ia sangat senang karena sudah di berikan kesempatan untuk menjadi wanita normal.


"Kau bahagia?" tanya Leon.


"Hmmm, aku sangat bahagia."


"Aku mencintaimu Lea, terimakasih sudah hadir di hidupku dan juga memberiku hadiah yang sangat istimewa dan berharga."


"A-aku juga mencintaimu."


Deg


Jantung Leon serasa berhenti berdetak mendapatkan penyataan cinta yang sudah lama ia tunggu sedari dulu.


"Terimakasih," ucap Leon memeluk Alea.


"Terimakasih sudah mencintaiku."


"Aku juga berterima kasih karena kau sudah menerima ku dengan segala kekurangan ku dan tak pernah meninggalkan ku walau aku selalu membuat ku marah, hiks hiks. Terimakasih karena kau selalu ada di sisi ku dan selalu mengerti. Maafkan aku karena telat mengucapkannya.


"Aku mencintaimu Leon."


"Aku juga mencintaimu Alea. Selamanya."

__ADS_1


End


__ADS_2