Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Bonus Chapter


__ADS_3

Setelah beberapa minggu, akhirnya Alea pun keluar juga dari rumah sakit dan pulang ke sebuah rumah minimalis yang cocok untuk sebuah keluarga kecil.


Rumah idaman Leon, apabila nanti ia sudah mempunyai anak. Karena dengan interior dan juga design rumah yang aman membuat Leon sedikit leluasa jika melepaskan anak-anak nya bermain.


"Ahhh, akhirnya sampai juga," kata Leon melirik Alea yang duduk di kursi penumpang sambil menggendong kedua buah hati mereka.


"Wah, rumah nya sangat cantik," puji Alea kagum.


"Hmmm, semua ini sudah aku impikan sedari dulu. Hidup sederhana dan bahagia."


"Tunggu apalagi, ayo kita masuk!"


Leon pun keluar dari mobil, ia melihat mobil Arsel dan Danish juga sudah sampai untuk mengantarkan sekaligus bertamu untuk pertama kalinya di rumah baru mereka.


Leon membuka pintu mobil lalu membantu Alea keluar dengan menggendong baby Zenith yang tertidur.


Setelah keluar dari mobil, Alea pun melangkahkan kakinya mengikuti Leon masuk ke rumah baru mereka. Sedangkan Arsel dan yang lainnya juga ikut menyusul masuk ke dalam rumah.


"Wow, beautiful," puji Arsel.


"Yah, rumah yang sangat menyejukkan."


Mereka pun masuk kedalam rumah lalu menuju kamar Leon dan Alea untuk menaruh Baby Zein dan Zenith yang sudah tertidur.


Setelah meletakkan kedua buah hatinya di atas tempat tidur khusus bayi. Alea langsung merebahkan tubuh nya di atas ranjang.


"Mama, kapan bayi nya bangun?" tanya Nena naik ke atas ranjang memeluk Alea yang berbaring.


"Entahlah, mama juga tidak tahu kapan bayi akan bangun. Leon kapan bayi kita bangun? Berapa lama ia tertidur?" tanya Alea yang juga penasaran.


"Aku tidak tahu, memangnya aku ingat ketika aku masih bayi dulu."


"Hmmm, memangnya Nena mau main apa dengan adik bayi?" tanya Alea membelai rambut anak angkatnya itu.


"Main boneka-boneka."


"Hehehehe, kenapa tidak main pistol-pistol saja?" ledek Alea dan mendapatkan tatapan menusuk dari Leon.


"Tidak mau, pistol itu mainan anak laki-laki. Kalau perempuan mainannya boneka-boneka," tolak Nena.


"Hehehe, yasudah. Nena tidur saja dulu, nanti kalau bayi nya sudah bangun kalian bisa main kejar-kejaran, hahahaha."


"Tidur dekat mama yah?"


"Iya sayang."


******


Beberapa jam kemudian


Leon kini tengah berada di kamar duduk dilantai memperhatikan tangan seorang bidan yang sedang menggendong anaknya masuk ke dalam sebuah ember kecil berisikan air untuk membersihkan bayi nya,begitu juga dengan Alea.


Meski sudah berminggu-minggu di rumah sakit, Leon dan Alea tak pernah memandikan buah hati mereka lantaran karena Alea yang masih sulit berjalan dan Leon yang masih takut-takut.


"Selesai, satu sudah bersih. Silahkan tuan dan nyonya memandikan yang satunya lagi," ucap bidan itu.


Leon pun menggendong baby Zein dengan hati karena tegang melihat anaknya yang telanjang dan juga banyak bergerak. Setelah berhasil Leon dan Alea mulai membasuh baby Zein dengan perlahan-lahan, ada rasa bergejolak di hati ketika anak mereka menggeliat dan juga bersuara.


Setelah situasi yang menegangkan, Leon dan Alea kini beralih memakaikan pakaian pada buah hatinya, kali ini tidak di bantu oleh bidan karena mereka sudah terbiasa.


"Dia mirip dengan ku," kata Leon mengelus pipi baby Zein.


"Hmmm, kalau ini mirip dengan ku," kata Alea tak mau kalah.


Hahahahaha


********


Beberapa bulan kemudian


Bulan kebulan sudah di lewati dengan suka dan duka dalam bahtera rumah tangga. Kini baby Zein dan Zenith sudah bisa merangkak membuat Alea dan Leon terkadang kewalahan.


Zein dan Zenith yang sudah menggigit benda-benda yang ada di tangan mereka terkadang membuat Alea lelah, bahkan ia juga merasakan bagaimana anaknya menggigit pay**ara nya ketika sedang menyusui.


"Papa pulang!" teriak Leon dari pintu dengan membawa kantong plastik.


"Yeay, papa pulang," sambut Nena berlari memeluk Leon yang merentangkan tangannya lalu menciumi pipi Nena.

__ADS_1


"Papa bawa sesuatu," ucap Leon menyodorkan kantong plastik yang ia bawa tadi kepada Nena.


"Wah, eskrim." Dengan senang Nena berlari menuju Alea yang duduk tersenyum.


"Mama ada eskrim," kata Nena bahagia.


"Wah, ini sangat lezat." Bukan hanya Nena yang suka, Alea pun sangat suka dengan eskrim.


Terlihat baby Zein mendekat lalu merangkak naik kepangkuan Alea, ia menggerakkan tangannya membuka kancing baju Alea.


Alea paham maksud anak nya itu, apalagi kalau bukan susu.


"Hmmm, anak papa anak papa." Leon dengan gemas menggendong Zenith, menciumi pipi anaknya yang gembul. Sangat menggemaskan.


Tampak di bawah sana Leon melirik Zein yang masih menggerakkan tangan nya menarik baju Alea. Entah mengapa ada rasa kesal dalam hatinya.


"Untung kau anak ku."


*****


Beberapa tahun kemudian.


Sudah bertahun-tahun, sekarang umur Zein dan Zenith sudah Tujuh tahun. Sudah cukup untuk paham akan apa-apa yang ada di sekitar nya.


Malam sudah semakin larut, lain dan Alea kini sedang memperhatikan ketiga buah hati mereka yang sudah terlelap. Merasa sudah cukup, Leon dan Alea pun keluar dari kamar dan menuju kamar mereka.


"Sayang, sudah lama kan?" tanya Leon cengengesan.


"Lama apa nya?"


"Itu," kode Leon.


"Itu apa?"


"Ck, kau ini!"


"Kau ini, kau ini. Kau yang apa?" cetus Alea.


"Hehehe, bagaimana kalau kita membuat baby selanjutnya," goda Leon.


"Kau sudah gila, tiga saja kita sudah susah. Memangnya kau mau berapa baby?" tanya Alea naik ke atas ranjang.


"Mimpi mu tinggi sekali yah," ledek Alea.


"Ck, kalau begitu ayo kita melakukannya."


"Melakukan apa?"


"Aku sudah merindukan nya Lea." Secara tiba-tiba Leon langsung menindih Alea yang masih bingung. Leon mulai menjelajahi leher Alea yang putih mulus.


"Le-leon?"


"Aku menginginkan mu." Mata Leon sudah di penuhi kabut gairah yang tak bisa terbendung lagi.


"Tapi kan..."


"Aku mohon Lea, aku mohon."


"Aku sedang datang bulan.'


Deg


Pupus sudah harapan Leon, mengapa ia sampai melupakan hal sekejam itu. Kini dirinya harus menanggung beban dan melepaskan nya bersama sabun kesayangan.


"Sayang kau mau kemana?" tanya Alea tertawa.


"Menemui madu ku."


"Hati-hati yah." Tawa Alea pecah melihat ekspresi wajah suaminya yang sangat menggemaskan.


Setelah mendinginkan otak, Leon pun keluar dan langsung berbaring di atas ranjang.


"Leon."


"Hmmm."


"Apa kau masih marah?" ledek Alea.

__ADS_1


"Entahlah."


"Heheheh."


Alea menarik tubuh Leon untuk memposisikan agar Leon menghadap nya.


"Apa?" ketus Leon.


"Hehehehe, bibir mu sangat lembut," goda Alea menyentuh bibir Leon yang memberengut kesal.


"Hmmm."


"Terbuat dari apa yah bibir lembut nan menggoda ini," goda Alea tersenyum nakal.


"Dari semen!" ketus Leon membalikkan tubuhnya, ia sangat kesal karena Alea sengaja kembali memancing birahinya.


"Sayang, jangan menghadap kesana," rengek Alea.


"Terserahku," ketus Leon.


Dengan jahil Alea pun duduk lalu naik menindih Leon sambil mengecup bibir Leon.


"Maaf."


"Hmmm."


"Hehehehe."


"Aku mencintaimu, selamanya," ucap Alea.


"Aku juga mencintaimu."


******


Zein Pov


Hai namaku Zein, yah kalian tahu aku adalah anak pertama dari pasangan serasi yaitu mama dan papa. Maksudku anak yang di lahirkan, kalau secara umum kak Nena lah yang jadi anak pertama.


Aku akui aku sangat tampan dan juga menawan tak jarang ketika aku pergi jalan-jalan bersama dengan keluarga ku. Banyak para wanita yang menyentuh pipi ku. Itu sangat menjengkelkan.


Kalian tahu, aku sangat suka dengan sesuatu, tapi aku takut kalau mama dan papa akan tahu apa yang paling aku suka.


Entah dari mana darah itu mengalir di tubuh ku, tapi jujur aku sangat suka darah. Itu sangat menggiurkan untuk di pandang dan di jadikan mainan.


Ahhh, aku lupa kalau aku punya adik. Namanya Zenith, dia sangat cantik, tapi juga cengeng. Terkadang aku merasa geli melihat nya, entah karena apa. Matanya membuat aku takut.


Dia sangat suka bernyanyi sendirian di pojok dengan sorot mata yang aku sendiri tak tahu apa artinya. Aku kira adik ku itu ada kelainan, tapi ternyata dia memang lain. Alias aneh.


Aku pernah bertanya, apa maksud dari nyanyian mengerikan nya itu dan juga tatapan nya.


Dia bilang kalau dia sedang bernyanyi bersama teman-teman nya.


What?


Teman?


Ini dia, dari sini aku pun mulai curiga kalau adik ku itu memang aneh. Padahal ia hanya duduk sendirian sambil bernyanyi, lalu ia mengatakan kalau ia sedang bernyanyi bersama teman nya.


Teman yang mana?


Zenith itu seperti hantu. Hanya kak Nena lah yang normal bagiku, hehehehe.


"Kalian semua, ayo kemari. Makanan nya sudah siap!"


Wah, Mama memanggil. Aku sangat sayang pada mama ku yang sangat cantik, aku jatuh cinta padanya, tapi dia sudah menikah dengan papa yang menyebalkan.


Aku heran, mengapa mama bisa menikah dengan papa yang menyebalkan.


"Kami datang, mama sayang."


Ini lah kami, sebuah keluarga kecil penuh misteri. Aku bahagia bisa di lahirkan disini.


Sampai disini aku ucapkan terimakasih karena sudah mendengarkan ceritaku dan juga keluargaku.


Good bye.


See you next time

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2