Berpindah Ke Masa Depan

Berpindah Ke Masa Depan
Aku ingin itu


__ADS_3

Setelah pernyataan yang penuh dengan kebingungan di taman Alea merasa bersalah pada Leon. Entah mengapa rasa bersalah kian menggerogoti hatinya. Apalagi perubahan sikap Leon yang masih saja mendiaminya. Walau Leon masih menjawab ataupun menyapanya hanya saja Alea merasa kurang karena perhatian Leon yang ia tak dapatkan hari ini. Jujur saja Alea sangat haus akan perhatian dari laki-laki itu.


"Aku merindukan nya."


Alea hanya bisa menunduk menangis di atas balkon memandangi kelap-kelip bintang. Ia tak tahu perasaan apa yang ada di dalam hatinya untuk suaminya tapi yang ia tahu ia sangat nyaman dan bahagia bila berada di sisi Leon.


"Ini tak boleh terjadi, aku tak boleh menangis. Aku harus menemuinya dan menanyakan apa salah ku?" masih tak tahu apa sebenarnya salahnya, padahal ia sudah mendengar penuturan Leon yang mengatakan bahwa Alea mencintai orang lain ketika ia sedang tidur.


Alea pun memilih keluar dari kamar, katanya Leon sedang berada di ruang kerja jadi Alea berinisiatif untuk pergi kesana. Sesampainya di depan pintu Alea langsung membuka pintu dengan pelan, disana ia melihat Leon tengah fokus pada berkas-berkas nya. Ada sedikit kelegaan di hati Alea, mungkin saja Leon mendiami nya karena sibuk bekerja.


"Leon." Alea mendekat sembari memeluk Leon dari belakang, Leon yang terkejut pun menoleh keatas mendapati wajah lusuh istrinya yang sedang menatapnya dengan sendu.


"Ada apa?" tanya Leon kembali melihat berkas-berkas nya.


"Ada apa dengan mu? mengapa kau marah-marah pada ku? hiks hiks," tanya Alea terisak. Hal itu membuat Leon khawatir, ia pun berbalik lalu menarik Alea untuk duduk di atas pangkuannya.


"Aku tidak marah, sayang. Aku hanya sedang bekerja, pekerjaan ku sangat banyak. Maaf jika aku membuat kau menangis atau merasakan hal yang tak nyaman."


Seulas senyuman terukir di bibir Alea dalam pelukan Leon, ini lah yang ia nantikan. Sebuah kata lembut dan juga perlakuan hangat, sungguh ia sangat haus akan itu.


"Ayo kita ke kamar," ajak Alea membulatkan matanya lucu membuat Leon terkekeh geli dan menciumi pipi Alea.


"Ayo!"


Sesampainya di kamar, Alea langsung menarik Leon ke atas ranjang. Leon pun hanya bisa mengikuti kemauan istrinya tanpa banyak bicara hanya seulas senyuman yang terukir di bibirnya walau hatinya masih sakit ketika mengingat kejadian tadi sore.


"Aku ingin tidur."


Oh istrinya ternyata ingin tidur, jadi Leon harus membuat istrinya tertidur. Leon pun ikut berbaring membelai kepala Alea dengan lembut.


"Bukan tidur seperti ini," cetus Alea.


"Lalu bagaimana?"


"Aku ingin tidur yang itu," Leon yang masih bingung pun terus berfikir, tidur apa yang di maksud istrinya ini. Bukannya memberitahu maksudnya, tapi malah main kode-kode. Sungguh Leon bukanlah orang yang peka terhadap sebuah kode.


"Tidur seperti apa Lea? Aku tak mengerti," tanya Leon.


Alea pun mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Leon membuat Leon terkekeh serta ingin berteriak. Ternyata yang di maksud istrinya itu tidur ena-ena.


"Bolehkan?" tanya Alea.


"Hahahaha kau sedang hamil sayang dan kehamilan mu masih sangat muda. Aku takut kalau itu akan membahayakan anak kita." Jelas Leon membuat Alea menjadi lesu.

__ADS_1


"Tapi aku mau," rengek Alea.


"Hmmm bagaimana yah?"


"Pelan-pelan saja, jangan keras-keras. Bolehkan?" usul Alea. Sungguh Leon di buat tertawa karena istrinya sangat ingin melakukan hubungan intim bahkan menawarkan cara yang bagus padanya. Seharusnya laki-laki lah yang ada di posisi Alea membujuk istri untuk melakukan hubungan intim, tapi kini Alea lah yang merayu nya untuk melakukan hubungan intim.


"Baiklah."


Dengan senang hati pula Leon meladeni nafsu birahi istrinya yang tak terkendali. Katanya pelan-pelan namun ketika mereka sedang melakukan aktivitas panas Alea malah merengek agar Leon mempercepat gerakan. Tentu Leon menolak, seinginnya ia melakukan hubungan itu ia tak akan mau melakukan lebih jika itu akan melukai anaknya.


Malam pun terlewatkan dengan penuh kehangatan dan desahan kenikmatan.


******


Hari sudah menjelang pagi namun kedua insan di dalam kamar belum juga kunjung bangun. Tidur sembari berpelukan membuat mereka terhanyut akan kehangatan satu sama lain.


Drrrrttt


Drrrrttt


Suara getaran handphone membuat Leon membuka matanya, ia mengucek matanya karena masih merasa lelah dan mengantuk akibat pertempuran semalam yang memakan waktu yang lama.


Leon pun mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar handphone nya.


"Hmmm, mengapa kau menghubungi ku pagi-pagi sekali ha?" tanya Leon tak suka.


"Pagi? Hahaha apa kau masih tidur bos besar? Kau bahkan tak tahu jam berapa sekarang."


Leon pun melihat kembali layar ponselnya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Oh tidak, ia terlambat untuk rapat bersama klien nya hari ini.


"Ada apa?" tanya Leon buru-buru bangun dan pergi ke kamar mandi.


"Aku tadi..."


"Ahhh nanti saja aku terlambat."


Tut


Tut


Di seberang sana Danish mengumpat kesal karena Leon memutuskan panggilan secara sepihak. Padahal ada hal penting yang ingin Danish katakan.


"Dasar tuan muda bodoh, kalau ia tak mau terlambat mengapa tak cepat bangun? Untung saja aku menghubungi nya tadi kalau tidak, mungkin saja ia akan bangun di sore hari."

__ADS_1


"Hmmm nanti sajalah aku mengatakan nya." Ucap Danish memandang sebuah foto yang ada di layar ponselnya.


*****


Setelah membersihkan diri Leon pun bergegas mengambil pakaian nya.


"Akhh aku terlambat, aku terlambat. Di mana Vino? Mengapa ia tak menghubungi ku?" gerutu Leon kesal.


Drrrrttt


Drrrrttt


"Ada apalagi!" cetus Leon kembali melihat ponselnya. Ternyata dari Vino.


"Ada apa?" ketus Leon.


"Tuan, pertemuan dengan klien di batalkan karena penerbangan mereka menuju negara kita terganggu oleh cuaca."


"Oh, shit!" umpat Leon membuka pakaian nya dengan kasar. Kalau tahu begini ia tak akan melompat kesana-kemari. Lagi pula siapa kliennya ini sebenarnya, seenak jidat membatalkan pertemuan.


Leon pun kembali ke atas ranjang berbaring memeluk Alea dengan erat. Ia memandang wajah Alea yang tertidur pulas dengan sedikit air liur yang keluar dari mulutnya yang terbuka.


"Dia tidur seperti anak kecil saja."


*****


Di lain sisi. Glen kini sedang berada di dalam mobil kembali menuju mansion selepas dari bandara. Penerbangan yang harusnya ia lakukan hari ini malah terbatalkan karena kondisi cuaca. Sebenarnya ia bisa saja menaiki jet pribadi nya hanya saja ia tak ingin terlalu terburu-buru karena ia tahu siapa yang akan menjadi rekan bisnisnya.


"Aku merindukan mu Lena, kira-kira apa yang sedang kau lakukan di sana? Apa kau merindukanku juga atau kau sudah melupakan ku dan memilih dia untuk menjadi pendamping mu?"


"Jika nanti kau mengingat ku, aku ingin tahu apa pilihan mu. Aku tak akan merusak hubungan mu dengan suami mu selama kau tak mengatakan kalau kau ingin bersama ku. Aku juga rela bila nanti suatu hari aku harus mengorbankan lagi nyawaku untuk mu seperti dahulu. Aku rela."


_


_


_


_


Beri dukungan dong🤧🤧


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.

__ADS_1


tbc


__ADS_2