Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Target tidak tepat sasaran


__ADS_3

Seorang pria yang beberapa menit lalu, sempat berbincang dengan kami, masuk setelah mengucap salam. Dengan senyum percaya diri, dia berdiri ditengah kelas dan meletakkan tas punggungnya dimeja yang ada dihadapannya.


"Fix...targetmu masuk jebakan Tan..." bisikku pada cewek jomblo di sebelahku, sambil bergerak ringan seakan membetulkan kerudungku.


"Yes! Target terkunci, dia tampan dan terlihat dewasa ... masuk kriteria" Tania pun menyentuh rambut panjangnya yang indah itu.


Dialah pria yang menjadi incaran Tania, sejak kami berada di kantin dan menunggu jam masuk kuliah dimulai. Seorang pria dengan wajah tampannya sedang membeli air mineral disalah satu warung.


Dan saat pria berkacamata itu menoleh, ternyata beberapa cewek terdengar histeris dibelakang kami. Kami pun menoleh kebelakang dan kulihat beberapa cewek juga sedang memperhatikan pria tampan yang terlihat pintar itu.


Aku hanya bisa menahan tawa, melihat Tania sewot karena banyak sekali saingannya.


Dan sekarang pria itu masuk keruangan kami, itu berarti dia satu semester dengan kami.


"Hmm .. sepertinya dia cari bangku kosong, Tan...dibelakang kita masih kosong" aku masih berbisik saat kulihat pria didepan kelas itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Tania menoleh kebelakang, lalu menatapku seakan memohon.


"Apa kamu bersedia pindah kebelakang? Plisss...."matanya mengedip beberapa kali seperti boneka.


"Eh..." aku membelalakkan mata mendengar permintaannya itu. Tega nian dia mengusirku...


"Selamat pagi, semuanya..." suara pria tadi menggema menyita perhatian kami semua.

__ADS_1


"Perkenalkan saya tutor mata kuliah Matematika Ekonomi kelas Manajemen semester pertama ini..."


Dweeeeng....Nah Lo...


Pernyataan pria itu sungguh membuat gaduh seluruh kelas.


Aku segera menyenggol bahu Tania untuk menghentikan tatapan intens pada tutor kami itu.


Siapa sangka dengan penampilan anak muda banget, akan menjadi tutor kelas kami yang sebagian besar telah berumur diatasnya ini.


Tutor muda kami itu mengambil boardmarker dan menulis sesuatu di whiteboard yang ada dibelakang punggungnya.


"Nama saya Devano Rahardian, M.Pd umur 28 tahun, rumah belum punya karena masih nebeng orang tua ...."ucapnya berbalik kembali ke arah kami, setelah menulis nama lengkap dan gelarnya.


"Sayang sekali, masih belum ada yang bersedia menerima lamaran saya..." ucapnya sambil memamerkan senyum simpulnya.


Tentu saja membuat suasana kelas semakin gaduh saling melemparkan gurauannya.


"Apa aku harus pindah kebelakang sekarang..." bisik ku pada Tania sambil menahan tawa.


Dasar mahasiswa narsis, yang dikira mahasiswa target gebetan ternyata seorang dosen yang tempatnya harus didepan bukan menggeser tempat dudukku ini.


" Eh jangan deh, mending sadarkan aku sekarang juga karena sepertinya aku mulai berhalusinasi. Bagaimana rasanya jadi pacar dari seorang pria tampan, mapan dan pintar..." sahutnya dengan mata semakin berbinar.

__ADS_1


Sontak, tingkah sahabat terbaikku itu membuat perutku sakit karena mulai dilanda halu seperti cewek-cewek lain yang merasa jomblo dikelas ini.


Setelah beberapa sesi perkenalan Tutor dan masing-masing mahasiswa, Pak Dev, panggilan yang tercipta begitu saja oleh kami itu, melanjutkan dengan pengenalan sistem belajar mandiri.


Dan ternyata selain kami yang masih mahasiswa baru, ternyata pak Dev juga baru semester ini bergabung menjadi Tutor di Universitas ini. Sedangkan kesehariannya, dua tahun terakhir dia bekerja sebagai guru matematika disebuah sekolah menengah atas kota ini.


Kurasa dengan profil yang menurutku sempurna itu, pak Dev akan menjadi target semua jomblowati seperti Tania.


Namun aku tetap optimis, dengan ukuran tubuh proporsional, wajah semi oriental, kulit putih, rambut panjang kecoklatan dan sikap yang ramah yang dimiliki seorang Tania, semoga pak Dev bukan target tidak tepat sasaran.


Setelah mata kuliah pertama oleh pak Dev, dilanjutkan dengan dua mata kuliah lagi sampai pukul 15.00 sore. Tentu saja dua mata kuliah lainnya juga tak kalah heboh, karena Tutor cantik mungil masih single gantian jadi bahan keseruan semua mahasiswa cowok, meski kebanyakan tidak single lagi.


Saat kelas telah bubar, Tania mengajakku pulang bareng.


" Maaf Tan, dia udah didepan nih...." jawabku pada Tania


"Hhh...ya udahlah, dunia milik kalian berdua..."ucapnya dengan nada cemburu


Aku hanya terkekeh menanggapinya.


Setelah menenangkan kecemburuan sahabatku itu, kulangkahkan kaki keluar gerbang. Diantara orang-orang yang berhamburan keluar dari tempat kuliah ini, dengan cepat kutemukan dia.


Seorang pria yang sudah mengisi hatiku hampir satu tahun belakangan ini.

__ADS_1


"Hai.." senyuman pria itu tak pernah membuatku bosan.


__ADS_2