
Kurapikan selimut ayah, kuhela nafas saat menatap wajah lelap pria tua yang terlihat lelah itu. Ayah...aku tak akan pernah bosan untuk selalu menjagamu, sebagaimana kasih sayangmu padaku selama ini. Tak sadar air mata mulai mengalir memikirkan kemungkinan yang akan terjadi nanti.
Suara ponselku bergetar, dan saat kulihat nama mas Ryan disana.
"Assalamualaikum mas..."
"Waalaikum salam dek, Kenapa kamu nggak beritahu kalo ayah opname? lalu dimana sekarang? gimana keadaannya? diruang mana?"nada khawatir terdengar disana. Darimana dia tau?pikirku
""Hmm...." aku menahan tawa mendengar deretan pertanyaan itu.
"Dek...kamu nggak pa pa kan? Kok diam?"
" Nggak pa pa mas, cuma bingung mau jawab pertanyaanmu yang mana dulu..."
"Ya udah, tunggu sebentar ya... wasallam"
"E eh...maksudnya?...kok ditutup?" bener-bener cowok tengil. Tapi aku cinta..eeaa...
Kurebahkan tubuhku ditempat duduk, rasa kantuk kembali menyerangku, karena semalam harus tidur dilantai. Memang tabungan ku harus kupertahankan sehemat mungkin, agar bisa menopang kebutuhan hidup kami berdua.
Sejak serangan jantung pertama beberapa tahun lalu, aku yang baru lulus SMA bersikeras agar ayah berhenti bekerja disebuah pabrik. Sejak itu akulah yang bekerja.
Karena itulah, ayah hanya bisa kutempatkan diruangan kelas dua.
Entah berapa lama aku tertidur. Akupun menggeliat , meregangkan tangan dan kakiku yang terasa kebas karena tidur dengan posisi duduk. Samar-samar kubuka mata, dengan kepala masih bersandar dikursi, nyawaku belum terkumpul sepenuhnya.
"Mas Ryan?..."kutegakkan badanku
__ADS_1
"Lelah ya..."ucapnya tersenyum
Saat kutoleh tempat ayahku berbaring, ternyata kosong.
"A..ayah mana...ayah mana mas...?"aku mulai panik karena tempat tidur ayah kini telah rapi.
"Hei..tenanglah. Ayah baru saja dipindahkan diruang VIP.."
"Hah..." aku masih merasa linglung
"Ayo kita kesana..."
Mas Ryan menuntunku menuju ruang rawat VIP.
"Kenapa ayah dipindahkan mas?"
"Aku ingin ayah mendapatkan kenyamanan agar cepat sembuh. Bukankah kamu ingin ayah cepat sembuh..hmm?"
"Jangan khawatir , aku sudah mengurus semuanya. Yang penting kamu juga harus jaga diri, tetap sehat karena tugasmu sangat berat. Maaf ..aku nggak bisa menggantikan lelahmu...."
" Tapi harusnya kamu nggak perlu seperti ini mas, aku..."
"Hei...apa salah aku juga ikut menjaga ayahku sendiri?"
"Ish...ayahku kok.."
" Apa sekarang aja ayahmu itu kujadikan ayahku juga, setuju?" godanya padaku
__ADS_1
Kucubit lengannya dengan kesal.
Saat sampai diruangan, kulihat Tania sudah berada disisi tempat tidur ayah.
"Akhirnya putri tidur sudah berhasil dibangunkan oleh pangeran ya?Lama banget,hayo ngapain aja kalian.." Tania menyambut kami berdua dengan celotehannya.
"Iya nih...butuh banyak ciuman untuk membangunkan putri tidur yang satu ini.." sahut mas Ryan yang langsung membuatku terbelalak.
"APA!!!"ucapku dengan nada tinggi sambil melotot pada pria usil disampingku.
Mas Ryan dan Tania tergelak bersama.
Meski tau hanya bercanda, namun sempat terbayang mas Ryan mencuri ciumanku. Dan tentu saja itu membuat wajahku merah padam.
" Kalian nih so sweet gitu, masih aja nggak berani nikah.."ucap Tania
" Heleh yang udah mau nikah, sombong banget sih.."sahutku mencebik
" Jadi benar, kamu akhirnya mau nikah dengan Dion?" tanya mas Ryan pada Tania
" Iya dong Bro, Emangnya kamu, nggak maju-maju kulangkahi kan...Kalo aku sih khawatir aja, kalo Kinan nggak segera Lo halalin, ada yang nikung kapok Lo..." ucap Tania yang membuat ku tersedak.
" Sialan Lo ..Emangnya aku nggak pengen apa? Lha temanmu nih yang ngeles terus..." sahut mas Ryan menatapku.
Aku hanya bisa memutar bola mataku menanggapi obrolan dua orang beda gender itu.
"Makanya, kalian harus hadir loh ya, jadi saksi dinikahanku nanti...tenang aja mas bro, akan kuambil kan kembang kantil milik suamiku, biar kamu cepet nyusul jadi suami..."
__ADS_1
"Wah...jadi suami ya...nggak sabar nih, he..he.." mas Ryan manggut-manggut sambil mengusap cambang didagunya.
"CK... kalian berdua emang paling bisa kalo memojokkanku..."sahutku lelah