Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Mengulang masa bersama Tania


__ADS_3

Setelah makan siang, dokter yang dari tadi ditunggu akhirnya datang juga.


"Assalamualaikum..." sapa dokter Hisyam yang masuk keruangan langsung dengan senyum ramahnya.


"Waalaikum salam...dok" ibu segera mendekati dokter yang berada disamping tempat tidur pasien.


"Bagaimana mas Adryan, apa tenggorokannya masih terasa panas?" tanya dokter sambil memeriksa bagian tubuh pasiennya itu


"Masih terasa sedikit dok... sebenarnya saya sakit apa ya dok ..?"


" Sebenarnya kamu sudah lama terinveksi virus EBV ini, mungkin gejalanya memang baru terlihat dan puncaknya saat tubuh kamu lemah jadi imunitas tubuhmu kalah dengan virus ini...untungnya segera ditangani, sebelum menyebabkan komplikasi, dan fisik mas Ryan juga mendukung jadi cepat bereaksi terhadap obat yang diberikan.."


"Virus EBV? dari mana bisa terkena virus itu dok?"tanya ibu


Dokter masih dengan senyumnya menjawab ibu dengan sabar.


"Dari segi usia, biasanya orang dewasa yang terinfeksi karena sering kontak langsung dengan banyak orang dan memiliki aktivitas sosial yang tinggi...jadi harus menjaga kebersihan, mungkin berbagi alat makan minum bahkan sikat gigi dengan orang yang terinfeksi akan otomatis tertular.."


"Dengarkan Ryan, kamu jangan jorok gitu..."


"Tapi dok, seingat saya, nggak pernah berbagi alat makan apalagi sikat gigi dengan orang lain kok..."ucap mas Ryan membela diri


"Aktifitas lain yang berisiko adalah berciuman dan hubungan seksual..." ucapan dokter Hisyam itu membuat kami semua terkejut.


"Benarkah kamu melakukannya Ryan???" tanya ibu dengan nada tinggi.


"Astaghfirullah ibu...Ryan masih takut dosa. Sudah dok penjelasannya, mungkin saya jorok...daripada dituduh yang macem-macem...." mas Ryan pasrah


Dokter tertawa lepas mendengarnya, diikuti oleh perawat yang selalu mendampinginya.


Setelah itu dokter memperbolehkan mas Ryan pulang dengan dua kali kontrol kembali.


Dan sore itu kami sudah sampai dihalaman rumah.


Tania dengan perut buncitnya langsung bersandar ke tempat tidur setelah selesai makan malam.


"Kinan..aku masih tak percaya, kisah cintamu serumit ini.." ujar Tania sambil mengelus perutnya.


Aku yang masih menyisir rambut panjangku lalu menoleh kearahnya. Kususul dia dan duduk disampingnya sambil menerawang ke langit-langit kamar.


"Tania...aku hanya percaya, Allah masih menyayangiku, semua ada hikmahnya, aku pasti menemukan jodohku kembali..."ucapku saat menoleh kearahnya yang sedang menatapku.


"Aku pasti mendoakan kebahagiaanmu..Kinan" ucapnya tersenyum

__ADS_1


"Oh iya, seandainya ada kesempatan kembali bersama mas Ryan, apa perasaanmu yang dulu masih sama,hmm?" Tania kembali berucap dengan wajah imutnya.


"CK..jangan aneh-aneh deh, bulan depan dia akan menikah dengan gadis baik-baik, Tania..."


"Hei bukan itu yang kutanyakan,Kinan...apa kamu masih merasakan suatu getaran saat bersamanya?"Tania terus saja berlagak seperti detektif membuatku merasa terpojok.


"Nggak tuh.."ucapku bohong


"Benahkah? kok aku nggak percaya ya..."Tania masih saja cengengesan membuatku tambah kesal padanya.


"Bodo amat.." aku menjulurkan lidahku padanya.


"Apa kamu takut dengan mas Devan? Secara kamar ini kan kamarnya, jangan-jangan dia masih disini menemanimu, jadi kamu nggak mau jujur tentang ipar tercinta..."


Aku melotot pada Tania.


"Aku akan minta mas Devan menghantuimu, kalau kamu terus meledekku..."sahutku sewot


Tania menggeser tubuhnya , berbaring miring agar terasa lebih nyaman.


"Kinan...sini deh.." dia menepuk tempat disampingnya.


Akupun menuruti ibu hamil itu, sambil ikut mengelus perutnya yang membesar itu.


"Mana ada Tan..kita masih seperti dulu kok .... bedanya sekarang kamu gendutan..he..he.."


"CK...kamu udah nggak mau curhat ma aku lagi, kamu pasti punya sahabat lain yang membuatmu lebih nyaman untuk berbagi masalahmu kan, ternyata aku udah tergantikan ya..pasti gitu kan"


"Idiiih..kenapa kamu jadi baper gitu, kamu masih yang terbaik bagiku Tania..."


" Jadi beneran kamu udah nggak ada perasaan sama mas Ryan,hmm?"


Posisi kami tiduran saling menghadap. Tania mengapa kamu terus menyudutkan aku seperti ini?


Aku menghela nafas panjang dan memejamkan mataku, meresapi apa yang dikatakan oleh Tania, apakah aku benar-benar tak merasakan getaran yang sama seperti dulu.


"Tania, apa pentingnya perasaanku sekarang...semua telah berlalu, bagiku semua harus berubah.."


"Benarkah perasaanmu telah berubah?"pertanyaan itu benar-benar menyiksaku.


"Mas Ryan ... tak mau bergeming dari sudut hati ini, sekeras apapun aku melupakannya, terus menerus mengelak, namun rasa itu masih ada, dan makin lama mulai menyakitiku.."


Tania tersenyum, seakan puas dengan jawabanku. Dia mengulurkan tangannya dan mengelus pipiku.

__ADS_1


"Tak apa Kinan, bukankah kita hanya manusia biasa yang tak dapat menolak anugrah dari Tuhan yang bernama cinta ...jangan mengelak lagi, karena akan lebih menyakitkan, nikmati dan syukurilah perasaan itu .."


Sepertinya aku pernah mendapatkan wejangan seperti ini dari seseorang..


"Semoga setelah dia menikah dan dia jauh dari mataku, bisa mengikis bersih semua yang kurasakan ini, aku merasa sangat lelah.." aku tak bisa membendung air mataku yang mulai membasahi pipi.


"Semoga jodohmu yang sebenarnya akan segera menjemputmu, dan hanya kebahagiaan yang ada dalam hidupmu .."Tania mengusap air mataku


"Terima kasih ..." ternyata aku merasa lega telah mengakuinya.


Meoong...


Suara itu membuatku bangkit dari tidurku.


"Hei..kamu mau kenalan sama kembaranmu ya Tania..." aku menggendong Tania berkumis itu pada Tania si perut buncit


"Heh...maksudmu apaan!!" Tania tak mengerti


"Lihatlah...namanya Tania, yang selalu mengobati rinduku padamu..."


"Eeuuhh...aku jadi terharu, tapi kenapa harus kucing sih, aku kan geli ngelihatnya...jangan dekat-dekat ah..."


"Jadi nggak mau kalau kucing ya, disini cuma ada tikus, cicak , kodok dan ulat bulu, mau yang mana?" aku tahu Tania geli dengan semua hewan itu.


" Idiiih...tokek aja sekalian.." ucapnya sambil menarik selimut sampai ujung dagunya.


Keesokan harinya, aku gantian ikut Tania pulang kerumahnya diantar pak Joko.


Rumah yang ditempati Tania sekarang adalah rumah mertuanya, karena dia ingin melahirkan dikota ini. Dan ibu mertuanya dengan senang hati menemani Tania , karena ibunya itu juga berasal dari kota ini. Berhubung usia kandungannya baru enam bulan, suaminya harus pulang pergi untuk menjenguknya.


Memang wanita hamil adalah raja, apapun yang Tania inginkan pasti diterkabul, meski


kadang tak masuk akal.


"Lihatlah Kinan, bahkan keinginanku mempunyai satu set baju pengantin ala India akhirnya terkabul..he..he.." Tania terkekeh.


Dari dulu tu anak emang ngefans sama artis-artis India. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat satu persatu benda yang menurutku nggak berguna itu. Mulai dari kain sari sampai semua perhiasan termasuk yang dipasang dihidung.


"Jangan bilang kamu akan memakainya...."ucapku kemudian.


"Justru aku pengen kamu yang pertama kali melihatku mencobanya..." sahutnya bersemangat


Dan benar saja, dia mencoba semuanya dan menyuruhku mengambil gambarnya. Bayangkan saja dengan perut buncitnya dia mulai berlenggak lenggok mengajakku menari India.

__ADS_1


Setelah puas dengan kegilaannya, dari India kami berbelok arah ke Korea. Tania meminta pelayannya menyiapkan makanan kecil dan minuman ke kamarnya. Kami berdua menangis dan tertawa bersama, maraton Drakor favoritku. Rasanya kami kembali pada masa-masa masih pertama kali kuliah dulu....


__ADS_2