Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Cerita tentang mantan


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, kami melanjutkan aktivitas masing-masing. Aku masih bekerja di perusahaan distributor seperti biasanya, sedangkan mas Devan juga berangkat mengajar diSMA.


Umur pernikahan kami sudah satu Minggu, dan aku masih memintanya untuk tinggal dirumah ayah ini dengan alasan untuk menuntaskan rindu pada ayah. Namun ibu mertuaku membuat kesepakatan bahwa sebelum resepsi nanti, kami harus mulai tinggal dirumah keluarga suamiku itu. Kupikir ada benarnya ibu menginginkan kami tinggal disana, karena selama ini ini hanya tinggal bersama mas Devan tentu saja ada pembantu dan sopir.


Dan ternyata, ibu adalah seorang pengusaha perkebunan meneruskan usaha suaminya. Namun ibu tetap memberikan kebebasan pada anak-anaknya untuk mengejar impian mereka masing-masing.


Bagaimana dengan mas Devan? Dia benar-benar berniat untuk berteman denganku, buktinya dia bersedia tidur dikamar ayah, sedangkan aku berada di kamarku sendiri. Sebab itulah dia setuju bahwa kami tidak pulang kerumah ibu dulu, agar aku bisa mempersiapkan diri untuk berada dalam satu kamar dengannya.


"Mas..." suatu malam saat aku dan mas Devan sedang menikmati suasana diteras rumahku.


"Hmm..." diapun menyesap kopi buatanku.


" Boleh aku tanya sesuatu?"


" Boleh, asal pertanyaannya jangan yang susah ya..."


Aku tertawa mendengarnya.


"Nggak susah kok, cuma pengen menghilangkan penasaranku saja..dari awal aku mengenalmu namun selalu tanpa kekasih, bahkan ibu sampai menjodohkanmu denganku, benarkah kamu tidak punya seseorang yang spesial?"


" Benarkah kamu ingin mendengarnya?Ceritanya sangat panjang"


"Tentu saja. aku akan menyiapkan pop corn dan minuman..."


Kamipun tertawa.


" Jangan lupa tisu, aku khawatir kamu akan menangis .." ucapnya masih terkekeh


" Hmmm...aku makin tak sabar mendengarnya..."


Kemudian dia bercerita pernah seorang gadis merebut hatinya. Gadis itu adalah teman seangkatan waktu kuliah, dan mereka telah menjalin hubungan hingga sama-sama bekerja. Kalista Mauren nama gadis itu. Seorang guru bahasa Inggris disekolah yang sama tempat mas Devan mengajar sebagai guru matematika.

__ADS_1


Namun seperti kisah Romeo dan Juliet, hubungan mereka tak direstui keluarga masing-masing karena persaingan usaha yang membuat keduanya selalu berhubungan dalam diam. Hingga puncaknya adalah kematian ayah mas Devan yang ditengarai ada kaitannya dengan keluarga gadis itu.


Setelah berbagai penyelidikan, benarlah... penyebab kematian ayah mas Devan adalah kakak dari Kalista, dan hasil keputusan pengadilan orang itu dihukum seumur hidup.


" Ibu bersikeras tak mau memiliki menantu dari keluarga Mauren, bahkan ibu sampai masuk rumah sakit dengan tekanan darah tinggi nya ..dan keluarga Mauren pun tak Sudi mempertemukan kami dengan memaksanya keluar dari sekolah .."


"Setelah sekian lama, apa ibu belum bisa melupakan hal itu mas? Apakah tak ada jalan lain bagimu untuk mendapatkannya kembali?"tanyaku


" Hhh...apa kamu tau akhir dari kisah Romeo dan Juliet?"


Aku tercengang, jangan-jangan dia minum racun?


"Ya benar, Kinan...dia minum racun setelah kedua orangtuanya memutuskan untuk menjodohkannya dengan pria lain..."


Ya Allah....


" Sejak itu, aku bagaikan mayat hidup. Seandainya aku tidak berjanji pada ayahku akan menjaga ibu dan adikku, aku hampir saja menyusul Kalista ke alam baka..."


"Hei..kenapa kamu beneran menangis, Kinan? Apa kamu yakin ceritaku ini bukan fiktif heh..."


"Apa!!" ucapku dengan nada tinggi. Benarkah cerita itu hanya karangannya saja?


Mas Devan tergelak melihat reaksiku.


" Sudahlah jangan menangis, cerita itu bukan fiktif, meski berat namun aku sudah ikhlas dengan kepergiannya" ucapnya sambil mengusap air mataku.


Sejak saat itulah, mas Devan tak bisa menerima wanita lain, hatinya telah beku. Meski beberapa wanita mencoba untuk mencairkan hatinya itu.


" Maaf ya mas, gara-gara aku , sekarang kamu terjebak dalam pernikahan yang tidak kamu inginkan..."


" Tentu saja aku menginginkan sebuah pernikahan, Kinan...aku ini masih normal Lo..."

__ADS_1


Bluuusss...pipiku memanas mendengar kode keras darinya. Maksudku bukan itu mas!!teriakku dalam hati.


" Mm..bagaimana sosok mbak Kalista?Apa dia sepertiku?"kucoba mengalihkan pembicaraan.


Mas Devan terkekeh, lalu mulai mengenang lagi.


"Ya, dia cantik sepertimu...hanya saja dia tinggi dengan rambut panjang ikal yang hitam, sikapnya juga lembut dan selalu tampil feminim.."


Waduuh.. kenapa aku jadi minder, aku pendek, tomboy dan sikapku yang urak'an jauh dari kata lembut.


Aku benar-benar terpuruk mendengar kriteria wanita yang disukai suamiku itu.


"Kok diam?"


" Minder mas.." ucapku jujur


"Ha..ha..kamu tu lucu, imut dan spontan...aku suka kok. Kamu ya kamu nggak perlu jadi orang lain ..."


" Apa kamu merayuku mas?"


" Apa aku berhasil...? " sahutnya dengan senyum masih menempel diwajahnya.


Aku jadi terdiam. Suasana seperti ini mengingatkanku padanya. Bedanya mas Devan lebih lembut , sedangkan dia kocak dan tengil membuatku selalu gemas ingin menimpuknya.


" Kamu jadi ingat mantan ya...?" pertanyaan itu membuatku tersentak.


"Maaf..." sahutku membenarkan ucapannya tadi


"Aku nggak cemburu .., bukankah kita akan belajar saling memiliki dan biarlah masa lalu hanya akan menjadi kenangan ... "


" Iya mas.." mataku menatap jauh ke jalanan yang mulai sepi karena malam telah larut.

__ADS_1


Kurasa aku harus terus berjalan kedepan, meski kadang harus menoleh sejenak namun kakiku akan tetap maju bersama orang yang telah Allah pilihkan untukku.


__ADS_2