Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Akhirnya terbongkar semuanya


__ADS_3

Sampai dirumah waktu menunjukkan hampir pukul tujuh pagi.


"Assalamualaikum Bi..."salamku pada bi Sumi yang sedang menyapu diteras


"Waalaikum salam mbak Kinan, bagaimana keadaan mas Ryan sampai harus masuk rumah sakit segala..."Bu Sumi meletakkan sapunya dan menghampiriku


"Nggak papa kok bi, semalem demam tinggi tapi ini tadi sudah terlihat baikan...Kinan kekamar ya Bi, mau membersihkan diri..."


" Iya mbak..."


Akupun segera mandi, menghilangkan jejak rumah sakit yang seakan bau obat-obatan menempel di tubuhku.


"Meoong..." suara Tania berkumis membuatku tersenyum. Meski dulu saat hari pertama kali menemukannya, membuatku sangat sedih karena hari itu juga aku kehilangan mas Devan untuk selamanya, kini Tania kecil itu selalu menemaniku dirumah ini.


" Hai ..Tan, kamu kangen ya ma aku..hmm?"kugendong kucing yang suka masuk lewat jendela samping kamarku itu.


"Ayo keluar dulu, aku lelah sekali pus..nanti aja ya mainnya..." kulepas Tania kecil itu kembali keluar jendela.


Dengan rasa kantuk yang begitu berat, kurebahkan tubuh lelahku ketempat tidur. Semalam rasanya tidurku sama sekali tak nyenyak dan hanya terlelap beberapa jam saja. Seketika aku terbawa rasa nyaman bantal dan guling yang selalu kupeluk. Dan akupun benar-benar terlelap...


Triiiiinggg


Suara ponsel sangat mengganggu tidur lelapku. Kupicingkan mata berulang kali, lalu beranjak dari tidurku.


Kutoleh jam dinding yang berdetak pada angka sepuluh lebih dua puluh menit.


Kuraba ponsel yang dari tadi berdering seakan tak sabar menunggu ku mengumpulkan nyawa.


"Halo... assalamualaikum..."


"Kinannnnn.....kamu nih kayak pejabat aja, sulit banget dihubungi sih!!!" suara lengkingan dari seberang membuatku menjauhkan ponsel dari telingaku.


"Tania.... waalaikum salam..." sahutku menyadarkannya


"Ah..iya , waalaikum salam sista...he..he.."


"Gimana kabarmu neng geulis..."


"Tanyanya nanti aja, udah kangen banget...aku udah nyusul kamu dirumah sakit S...ruang mana?"


"Apa!!!" waduh ni anak, kenapa udah sampai sana sih


" Hei..kenapa kaget, cepat jemput aku diruang tunggu..."


"Aku nih masih dirumah, mau bawa baju ganti non...bentar lagi baru mau meluncur kesana..."


"Hadeeeh...kamu nih bikin pusing aja. Ya udah aku tunggu cepetan ya... wassallam.."

__ADS_1


Bukannya dia yang bikin aku pusing...


Dengan tergesa aku mengganti bajuku, stelan kaos ungu muda motif bunga dan rok polos warna navi menjadi pilihanku saat itu.


"Hei...janda muda, pesonamu lumayan juga kok ..."gumanku saat berada didepan kaca.


Hhh... sepertinya aku sudah gila.


Kulangkahkan kakiku menuju kamar ibu dan mengambil dua set baju. Lalu kulipat rapi dalam paperbag besar.


Setelah itu aku menuju kamar mas Ryan. Ini pertama kalinya aku masuk diarea privasi pria tengil itu.


Kamar dengan ukuran sama besar dengan kamar mas Devan. Bedanya isi kamar ini terdapat sebuah meja arsitek, dan gulungan-gulungam kertas yang tersusun rapi disudut ruangan.


Dengan penasaran, aku berkeliling melihat kegiatannya sehari-hari itu. Sebuah buku lumayan besar warna hitam yang berada dimeja samping tempat tidur menarik perhatianku.


Kubuka satu persatu, buku yang ternyata berisi coretan desain karyanya. Sepertinya gambar adalah dunianya.


Sampai pada sebuah gambar dengan tulisan yang membuatku tertegun.


Sebuah gambar fasad depan rumah dengan taman didepannya yang bertuliskan" hanya mimpi"


Lembar berikutnya , gambar taman samping dengan kolam ikan yang dikelilingi pot-pot bunga, dan disudut lembar itu bertuliskan "untukmu Ki..."


Air mataku seketika mengalir, mengingat saat masih bersama dulu, aku pernah memintanya dibuatkan taman dengan kolam ikan yang indah.


Selanjutnya ada sebuah ruangan bermain anak dengan ayunan dan perosotan, dengan coretan "akan ada banyak cucu untuk ibu.."


Aku tertawa membayangkan dia langsung mengatakannya pada ibu.


Lembar berikutnya sebuah gambar kamar tidur dengan tempat tidur bergaya klasik dan berbagai pernak-perniknya. Dan bertuliskan.. "Kira-kira, apa yang akan terjadi disana ya Ki?he..he.."


Seketika wajahku memanas membacanya.


Hhh...pria ini pasti berpikiran mesum saat menulisnya...dasar pria tengil!!


Oh iya aku harus segera ke rumah sakit, kalau nggak si Tania pasti rewel lagi.


Kuambil beberapa set baju untuk mas Ryan dari lemarinya lalu bergegas menuju halaman untuk menemui pak Joko.


Dalam perjalanan, aku membuka pesan, namun tumben Tania tidak protes karena terlalu lama menungguku.


Sampai dirumah sakit, aku mencari keberadaan sahabatku itu diruang tunggu depan namun tidak ada.


Kuputuskan untuk mengantar baju ganti diruang ranap mas Ryan dulu, baru menelfon Tania.


"Assalamualaikum..."salamku saat membuka pintu kamar rawat inap itu.

__ADS_1


"Waalaikum salam..." jawaban dari ketiga orang disana.


"Tania..." aku terkejut dia ada disini dan telah duduk bersama ibu disofa.


"Lama banget sih.." pipinya yang mulai chubby itu membingkai bibirnya uang cemberut itu.


"Kyaa..aku mau punya ponakan nih.." hatiku merasakan kebahagiaan melihat perut buncit sahabatku itu.


" Iya Tante Kinan, kami siap menghabiskan uangmu untuk beli mainan di mall..."


"Kami? Kembar yak.." aku masih saja heboh dan mengelus perut gendut itu dengan sayang.


Taniapun tersenyum bangga.


"Eh..kok bisa kamu sampai sini?" tanyaku heran


"Aku bertemu dengan Bu Yahyu, dulu kami tak sengaja bertemu dan dikenalkan oleh mas Devan..." sahutnya dengan wajah sendu


"Kinan...aku tak tau kalau kamu menikah dengan mas Devan dan juga tentang kepergiannya ..." ucapnya lagi


Akupun tersenyum menatap Tania dan ibu bergantian. Kulihat wajah ibu juga penuh dengan hawa mendung. Jangan-jangan...mungkin inilah akhirnya...


"Semua sudah ditakdirkan Tan, aku hanya menjalaninya..." aku berusaha setenang mungkin


" Dan yang membuatku syok, kenapa pria itu jadi iparmu juga..." Tania menoleh kearah mas Ryan yang masih diam tak berkutik sambil memainkan ponselnya.


"Kinan...Tania sudah menceritakan semuanya, ternyata ibu lah yang memisahkan kalian.." suara ibu bergetar dan air mata mulai membendung dimatanya.


"Ibu.." aku menghampiri dan duduk disampingnya.


Kupeluk dan kuusap lengan ibu yang begitu sayang padaku itu.


"Ibu tak boleh berkata seperti itu, semua itu sudah digariskan,dan kami adalah masa lalu Bu..sekarang kami akan berjalan kedepan dengan jalan masing-masing, jadi bukan ibu yang salah.."


" Tapi...ibu menyesal Kinan, maafkan ibu.."


" Astaghfirullah...jangan membuat Kinan menjadi anak durhaka yang tega menyakiti ibunya. Kinan nggak mau ibu sedih seperti ini ..." akupun ikut larut dalam kesedihan yang ibu rasakan.


"Kinan...apa ibu bisa memperbaikinya..." ibu menghapus air matanya dan berusaha tegar


"Ibu sudah melakukannya kok, ibu sangat sayang pada Kinan...jadi ijinkan Kinan berbakti pada ibu ya...Kinan merasa berdosa bila ibu sedih seperti ini"


Ibu menatapku dengan tatapan yang sulit kumengerti.


"Bu Yahyu..bolehkah nanti malam aku bermalam bersama Kinan?" tanya Tania pada ibu.


"Tentu saja nak, kalian pasti kangen...Ryan juga tinggal menunggu visit dokter kok, kondisinya sudah stabil..."

__ADS_1


"Syukurlah kalau mas Ryan sudah stabil, tapi nanti perlu ditanyakan dokter deh biasanya dia kan rame, kenapa sekarang jadi lowbatt gitu.." Tania terkekeh sementara mas Ryan hanya bisa memutar bola matanya.


__ADS_2