Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Menikmati kesendirian


__ADS_3

Hari ini, hari yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan. Hari dimana pesta pernikahanku dengan mas Devan digelar. Hari dimana orang-orang mengucapkan selamat atas pernikahan kami. Hari dimana ibu mengumbar senyuman pada kerabat dan teman-teman nya. Namun semuanya seakan lenyap dalam sekejap, hanya bekas duka yang tersisa. Ya..dua hari yang lalu, pengantin pria memilih untuk pergi selamanya, meninggalkan pengantin wanita sendirian meratapi kesedihan yang seakan terus hadir dalam hidupnya.


Orang-orang datang silih berganti, bukan untuk mengucapkan selamat namun mengucapkan bela sungkawa. Suara ibu yang biasanya riang, terganti oleh Isak tangis saat sanak saudara datang mengunjunginya.


Mas Ryan pun tak jauh berbeda, mungkin dia yang paling terpukul dengan kejadian ini. Mas Devan satu-satunya kakak yang selalu menjadi orang terdekat, bahkan dia rela melepasku hanya untuk kebahagiaan kakak dan ibunya.


Sedangkan aku, seorang janda yang baru satu bulan dinikahi mas Devan, seperti membawa beban penyesalan yang begitu besar. Dengan egois kubiarkan diriku larut pada masa lalu, dan membiarkan suamiku hanya menjadi seorang teman demi mendapatkan hati istrinya yang masih tertinggal pada orang lain.


"Kinan...kamu baik-baik saja nak...wajahmu pucat..." ucap ibu menemuiku saat aku baru saja keluar dari kamar mandi.


"Nggak apa-apa Bu, nanti kalo udah minum obat juga baikan...udah pernah kayak gini kok.." sahutku berusaha mengurangi kekhawatiran ibu.


"Kinan...apakah mungkin kamu hamil...?"


Inilah yang kukhawatirkan. Maaf Bu, maaf karena membuat ibu berharap lebih padaku.


"Maaf Bu...aku tidak hamil .." air mataku tumpah seketika. Aku tak sanggup menyembunyikan, apakah aku harus jujur pada ibu, bahwa mas Devan bahkan belum pernah menyentuhku.

__ADS_1


Tapi aku selalu mengingat pesan dari mas Devan , apa yang terjadi didalam kamar tidur kami, sebaiknya selalu menjadi area privasi. Demi menjaga nama baik suamiku, aku akan menepatinya, biarlah aku menyimpannya meski dengan hati yang tersiksa seperti ini.


"Shh..sudahlah, belum rejeki kita Kinan... ibu juga minta maaf ya, sekarang makanlah ...kulihat kamu makan tak teratur.."


Aku menganggukkan kepala dan mengusap air mata yang mengalir deras, meluapkan rasa berdosa pada seorang ibu yang selalu menyayangiku itu. Aku begitu menyesal membuat harapan ibu mempunyai keturunan dari darah dagingnya sendiri pupus sudah.


Sebenarnya aku sudah berusaha menutupi rasa nyeri diperutku yang kambuh lagi seperti dulu. Mungkin karena lelah, stres, nafsu makan berkurang menyebabkan rasa mual yang sering kurasa. Sebelumnya aku pernah merasakan hal ini saat berpisah dengan mas Ryan, saat kubawa ke dokter dan konsultasi tentang kram perut yang menyiksaku ini, ternyata radang usus , dokterpun memberikan resep, bila kram menyerang lagi, obat itu bisa meredakan rasa nyerinya.


"Ibu..bolehkah Kinan meminta sesuatu ?"ucapku pada ibu setelah selesai pengajian tujuh hari meninggalnya mas Devan


" Apa Kinan? Apa kamu perlu sesuatu?"kulihat wajah ibu lebih tua dari biasanya yang selalu tampil segar, kini seakan tak peduli lagi dengan penampilannya.


"Meski Devan telah pergi, kalo kamu masih menganggap ku sebagai ibu, jangan takut meminta apapun dari ibu..Kinan ..."


" Tentu saja ibu akan selalu menjadi ibuku sampai kapanpun..."sahutku sambil memeluknya" Ibu...bolehkah aku pulang kerumah ayah..."


Ibu melepaskan pelukanku dan menatapku dengan penuh tanya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu nggak mau tinggal dengan ibu lagi? Apa kamu merasa tak nyaman disini?"


" Bukan seperti itu Bu...hanya satu Minggu saja, disini terlalu banyak kenangan bersama mas Devan Bu, rasanya masih berat untukku..."


Karena alasan itulah akhirnya ibu mengijinkan aku pulang kerumahku yang lama. Sebenarnya alasanku karena rasa mual yang sering terjadi, membuat orang-orang yang mengunjungi ibu selalu berasumsi bahwa mas Devan meninggalkan benihnya dalam rahimku. Dan itu pasti membuat ibu semakin sakit mendengarnya. Lagipula ada mas Ryan yang menjaga ibu, sebelum kepergiannya kembali ke Thailand.


Keesokan harinya aku membawa tas ransel, berisi beberapa baju ganti, karena dulu sudah kubawa semua bersama mas Devan.


Aku juga memutuskan untuk resign dari kantor. Merasa tidak enak dengan atasan dan teman-temanku karena seringnya aku mengajukan cuti. Aku berencana mencari pekerjaan lain setelah moodku kembali. Untuk biaya hidupku, kini jauh lebih ringan. Apalagi mas Devan memberikan semua miliknya untukku, termasuk finansial.


Hari kedua berada dirumah , aku mulai menikmati kesendirianku. Setelah puas membersihkan seluruh sudut rumah, akupun mandi lalu duduk setelah menyiapkan perlengkapan untuk menonton Drakor yang selalu membuatku baper itu.


Setelah sholat magrib, kubuka aplikasi untuk memesan makanan, namun setelah lama melihat-lihat menu, belum juga ada yang membuatku tertarik. Aku juga bingung sampai kapan selera makanku akan kembali lagi. Hari ini kutimbang berat badanku sudah turun dua kilo, kalo begini terus lama-lama aku jadi mayat hidup.


Tak lama kemudian, aku terlelap diruang tamu dengan laptop yang masih menyala menemani tidurku karena merasa lelah.


Saat aku terbangun, suasana sudah mulai sepi dari lalu lalang kendaraan yang selalu terdengar. Jam berapa ini? Berulang kali aku mengerjapkan mata melihat kearah jam dinding. Hampir jam sembilan. Akupun beranjak dari tidurku berniat untuk sholat isya.

__ADS_1


Namun tiba-tiba kurasakan nyeri begitu kuat pada perutku sebelah kanan. Rasanya berdenyut dan semakin lama semakin membuatku berkeringat dingin.


__ADS_2