
Setelah dua Minggu lebih aku dan mas Devan menginap dirumah ayah, ibu meminta kami mengemas barang-barang dan segera pulang kerumah ibu. Alasannya adalah karena ibu telah berhasil menyeret adiknya mas Devan untuk pulang. Tentu saja memamerkan bahwa ibu akhirnya berhasil membuktikan bahwa mantan pacarnya yang notabene bos dari anaknya, tidak bisa menolak permintaan nya agar iparku itu mendapat cuti.
Sore itu kami berdua menuju rumah ibu.
Mas Devan membawakan koper milikku. Semua bajuku sudah kubawa, karena memang aku harus menetap dirumah mertuaku ini. Sementara rumahku, rencananya akan ku kontrakkan saja.
Saat aku masuk kedalam rumah itu, suasana hangat langsung terasa. Dari ruang tamu, terlihat langsung ruang keluarga yang cukup luas dengan sofa besar yang menghadap televisi berukuran jumbo itu. Memang masih seperti rumah khas jaman dahulu, hanya saja beberapa titik dihiasi ornamen modern yang membuatnya tidak terkesan berat. Mungkin ibu menyewa arsitek untuk merombak beberapa ruangan.
Termasuk taman samping rumah yang memang sangat luas itu, terlihat begitu indah dengan gazebo, kolam ikan dan waterfall , juga penataan tanaman penghiasnya membuat mataku terpikat.
Mas Devan menyentuh lenganku, membuatku tersadar bahwa aku belum bertemu ibu dari tadi.
"Ibu masih didapur, aku akan membawa barang-barang kita ke kamar yang itu..." mas Devan menunjuk salah satu pintu yang ada disana.
Akupun mengangguk. Saat kulihat dia menghilang masuk kekamar, aku mencari ibu didapur.
Disana kulihat ibu dengan apronnya sibuk menumis bumbu masakan.
" Assalamualaikum ibu..."
" Waalaikum salam...hei mantu ibu yang cantik sudah sampai..."
" Maaf ya Bu, Kinan baru datang, jadi sekarang Kinan bantuin apa Bu?" kulihat semua sudah hampir selesai.
" Eh..nggak usah, nanti kamu bau bawang, udah cantik gitu... Sebentar lagi selesai kok.."
__ADS_1
" Tumben ibu pake masak segala, biasanya ibu paling anti bau bawang...biasanya bi Sumi yang nyiapin semua.."
"Ini gara-gara adekmu itu, pengen ibu yang masakin tongseng ayam...kalo ibu nolak, dia mengancam bakalan kabur lagi..!"
" Jadi beneran, Tukik sudah pulang? Dimana dia sekarang?"
" Iya jam 4 tadi baru sampai rumah, sekarang masih ngorok noh dikamarnya...bangunin gih suruh mandi, habis itu kita makan bareng mumpung hangat.."jelas ibu sambil bergerak mengambil ini itu dan dimasukkan ke wajan.
"Hmm...baiklah aku akan membangunkannya dulu..."lalu mas Devan melangkahkan kakinya keluar dapur itu.
" Emang si Tukik itu suka ngerjain ibunya, harusnya jam segini ibu sudah leha-leha nonton sinetron kumenangis ..eh apa sih judulnya?"
Akupun menahan tawa mendengar ocehan konyol ibu mertuaku itu.
" Biar Kinan yang nyiapin meja ya bu,.." ucapku kemudian
Setengah jam kemudian kami berkumpul dimeja makan antik itu. Meja panjang dari papan jati dan tempat duduknya berupa bangku panjang yang saling berhadapan.
Kuambil kan nasi untuk ibu, mas Devan, adek iparku yang belum juga hadir di tempat makan itu, lalu untukku sendiri.
Sambil menunggu, kami sudah mengambil lauk masing-masing.
"Heh...tumben mandimu lama banget, luluran dulu Lo? Masakan kesukaanmu ini hampir saja kuhabiskan.." celetuk mas Devan pada orang yang baru bergabung dengan kami itu.
Saat aku menoleh kearahnya, diapun sedang menatapku dalam diam. Namun hanya dua detik, dan detik selanjutnya menoleh ke mas Devan. Seketika tenggorokan ku tercekat, nasi yang sempat masuk ke mulutku terasa sulit tertelan, dan kepalaku mulai berdenyut menyiksa ku.
__ADS_1
" Habisin aja nggak papa mas, ibu masih sanggup masakin aku lagi kok, iya kan Bu? kalo nggak mau..."
Pletak...!! ibu menjitak orang yang disebelahnya itu.
" Awas aja kalo kamu berani kabur lagi...kupasung kakimu dikandang ayam" ucap ibu sewot
Seharusnya aku bisa tertawa lepas seperti mereka mendengar gurauan itu. Namun aku hanya bisa tersenyum kecut.
Ya. Pria yang duduk disebelah ibu itulah penyebabnya. Mungkinkah benar, dunia ini semakin mengecil hingga harus membuatku bertemu dengannya lagi dalam posisi seperti ini.
Pria itu adalah adik iparku. Sosok yang sama dengan pria yang pernah lama mengisi ruang hatiku, bahkan setelah berusaha keras aku melupakannya dan menggantinya dengan sosok suami ku sendiri, masih saja tersisa rasa itu. Ya..Allah, ampuni hamba mu ini
" Oh...iya Kinan, dialah si Tukik adek semata wayangku, meski agak rese tapi dia sangat baik kok"
"Hei Devan, kenalin yang benar dong..." ucap ibu" Namanya Adryan Syahputra, Kinan .. kenapa jadi tukik? karena waktu kecil dia sangat pemalu dan pendiam. Kalo bertemu orang selalu bersembunyi dibelakang ibu..ha..ha" ibu dengan santainya tertawa lepas.
" Seperti anak kura-kura gitu...ha..ha.."mas Devan menimpali.
Ibu dan mas Devan tertawa puas saat membuat adek ipar ku itu sewot.
Aku hanya bisa memaksakan senyumku dihadapan mereka.
Ibupun melanjutkan ceritanya.
"Dulu itu dia kurus ,item lagi...tapi sekarang lihatlah dia begitu ganteng dan gagah bukan? Tentu saja ini berkat ibu loh .." seru ibu dengan bangga.
__ADS_1
" Tapi sayangnya, dia baru saja patah hati karena putus dengan gadis pujaannya! Padahal ibu berencana akan mengadakan resepsi untuk kalian berdua barengan gitu biar irit..he..he.."