
Setelah berkutat dengan kepanikanku, rasa khawatir yang besar membuatku tak bisa berpikir lagi, kain apa yang akan kubalutkan pada luka itu.
Apa harus pakai kerudung pasmina ku, yang tadi kupakai sekenanya dan tanpa inner juga. Ah ... sudahlah, ini keadaan darurat aku tak peduli yang lain dulu.
"Bismillah..." kuhela nafas panjang, lalu dengan cepat kubuka kerudung yang kupakai.
Hawa dingin langsung menerpa, mengusap rambut yang selama ini selalu kujaga dari pandangan orang lain.
Dengan pelan, kusentuh tangan mas Ryan yang terlipat karena menjadi tumpuan kepalanya.
Mungkin karena merasakan tangan kanannya terangkat, diapun terbangun dan tertegun menatapku.
"Tanganmu terluka..kenapa kamu diam saja..." dengan cepat kubalutkan kerudung pasmina ku itu beberapa putaran dilengannya yang terluka cukup panjang itu. Mungkin patahan batang pohon yang dihempasnya tadi menyayat lengannya.
Dia masih terdiam memperhatikan kegiatanku itu, sambil sesekali melirik kearahku.
Sambil menahan nafas kuikat kain itu dengan erat berharap luka itu tak meneteskan darah lagi.
Kemudian aku beringsut mundur, agak menjauh darinya.
"Terima kasih..." ucapnya
Rasanya ingin mengecilkan tubuhku ini, karena malu berada disampingnya dengan rambut bergerai seperti ini.
Sedikit terlonjak ketika dia mengulurkan kedua tangannya kearahku. Aku hanya bisa memejamkan mata dan mengerutkan kedua bahuku, ketika tangan itu melewati kepalaku. Kurasakan topi jaket yang kupakai tertarik keatas, lalu dilingkarkannya ke wajahku, hingga menutup seluruh rambutku.
"Begini lebih baik..."ucapnya tersenyum padaku
Aku hanya bisa menunduk dan memainkan jemariku.
"Kinan...saat kita telah bersama pasangan kita masing-masing, maukah kamu berterus terang pada ibu tentang masa lalu kita? Aku merasa sangat bersalah pada ibu telah menyembunyikan semua ini..."
Aku mulai berpikir, apakah itu perlu dilakukan? Bagaimana reaksi ibu nanti.
"Baiklah...tapi hanya saat kita telah mempunyai pasangan masing-masing ya..aku takut dengan reaksi ibu .."
"Hmm..apa kamu sudah punya gambaran pengganti mas Devan..."
"Kamu ngeledek ya, aku hanya seorang janda...mungkin waktuku lebih lama untuk sendiri dulu..."
"CK ..andai aku bisa menemanimu..."
"Mulai lagi deh...kamu tu adek ipar aku, ingat itu!!"
"Pernah dengar istilah turun ranjang...?"dia menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman mesum.
"Hah...!!!"aku hanya melotot padanya.
Melihatku tak berkutik ,dia jadi terbahak-bahak membuatku tambah kesal padanya.
Beberapa saat kemudian, mendung mulai berangsur-angsur menghilang. Kami segera beranjak dari tempat itu sebelum kembali terjebak cuaca buruk lagi.
"Kinan....kamu nggak apa-apa kan?"ibu berhambur menghampiriku, saat kami masuk rumah
__ADS_1
"Maaf Bu, membuat ibu khawatir, Kinan nggak papa..tapi dia yang terluka, sepertinya lukanya perlu dijahit ..."
"Apa?? Ryan ... kamu terluka, Bu..Rismi...cepat panggil pak mantri ,minta segera kesini ya...ayo Ryan, kamu ganti baju dulu...!!"ibu tergopoh-gopoh menuntun putranya itu
Akupun segera masuk kedalam kamar dan membersihkan diri.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, setelah sholat ashar, aku keluar kamar ingin menjenguk mas Ryan. Namun saat aku berada didepan kamarnya yang terbuka, kulihat ibu dan Adel masih disana, sehingga mengurungkan niatku untuk menjenguknya.
"Ibu...bagaimana keadaannya? apakah sudah makan malam?"tanyaku pada ibu saat makan malam
" Lukanya sudah dijahit, tadi Adel membawakannya sup ayam...sekarang masih tidur, mungkin karena obat yang diminumnya tadi..."
"Maaf Bu, gara-gara Kinan dia jadi terluka..."
"Kita ini keluarga Kinan, memang seharusnya saling menjaga, kamu jangan khawatir, Ryan itu termasuk bandel, jarang sekali dia sakit...sekali sakit paling hanya satu hari sudah sembuh"
"Tapi sepertinya dia kelihatan lemah..."
"Hari ini dia berusaha menyelesaikan semua urusan disini, karena dia ingin lusa pulang bareng kita, fokus membantu kita pada acara seratus hari kakaknya... kurasa Ryan terlalu lelah, kita berdoa saja agar dia segera pulih.."
"Amiin...oh iya Bu, tadi siang kata Bu Rismi ibu berkunjung kerumah Adel ya, ada perkembangan?"tanyaku pada ibu.
Bagaimanapun perjodohan ini adalah misi kami berdua, jadi aku harus ikut memantau perkembangannya.
Raut wajah ibu yang dari tadi mengkhawatirkan putranya, kini menjadi sumringah saat membicarakan misi kami itu.
"Iya Kinan...tadi ibu sudah membicarakannya dengan pak Agung, tentu saja mereka senang sekali bila Ryan bersedia menjadi menantunya...dan sesuai kebiasaan daerah sini, tidak ada lamaran langsung pada ijab qobul saja di mempelai wanita...kita tinggal menetapkan tanggal saja.."
"Wah..tinggal selangkah lagi ya Bu ..'
Akupun manggut-manggut sambil menghabiskan makan malamku.
Malam ini baru aku merasakan capek yang teramat sangat, petualangan tadi siang benar-benar menguras tenaga. Kalau kemarin aku tidur jam sepuluh malam lebih, malam ini setelah sholat isya aku sudah merangkak ke tempat tidur dan langsung terlelap.
Tengah malam aku terbangun, ternyata aku masih memegang ponsel saat tertidur tadi. Saat kubuka ponselku, ada tujuh panggilan tak terjawab dari Tania. Dan pesan wa yang bertubi-tubi darinya.
Assalamualaikum
Kinannn....
Woeeiii, angkat dong...
Kamu kemana sih...
Kinaaaan, nyebelin banget deh...
Huh...awas ya kalau ketemu..Aku sedang mudik nih...kamu berutang banyak penjelasan padaku!!
Wah parah nih anak!!!pingsan Lo???
Langsung telfon aku, kalau udah sadar!!!
Dasar Kinaaaan rese!!!
__ADS_1
Wassallam
Aku terkikik tengah malam membaca pesan dari Tania itu. Besok aja deh kubalas menelfonnya.
Lalu aku beranjak dari tempat tidur, untuk mengambil air putih didapur. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Aku berjalan menuju dapur, dan kulihat lampunya menyala, berarti ada orang disana.
Mas Ryan, duduk di meja makan sambil menopang kepala dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa?" tanyaku yang membuatnya menoleh kearahku.
"Kinan...kepalaku pusing sekali ..."
" Mau kuambilkan obat?"
"Ini aku sudah meminumnya...mungkin belum bereaksi..."sahutnya sambil menunjukkan bungkus obat yang masih digenggamnya.
"Hmm ..."aku meraih gelas yang telah kuisi air putih dan meminumnya. Kulihat pria itu masih meringis sambil memijat kepalanya.
"Kubuatkan sesuatu yang hangat ya? Mau air madu?"
"Tidak usah Kinan, aku kembali saja kekamar..."
"Baiklah..." setelah melihatnya berdiri, akupun berbalik ke washbak untuk mencuci gelasku dan meletakkannya dirak gelas.
Saat aku berniat kembali kekamar, kulihat sesosok tubuh tergeletak dilantai.
"Astaghfirullah..." sedikit berlari aku menghampirinya.
Dengan hati yang tak karuan kubalikkan tubuh berat itu hingga telentang, dan kupangku kepalanya.
"Panas sekali..." kupegang wajahnya terasa sangat panas.
Air mataku mengalir saat melihat wajah pucat itu. Kutepuk-tepuk pipinya dan memanggil namanya namun mata itu tetap saja rapat terpejam.
Ya Allah selamatkan dia.
"Mas...Mas Ryan bangunlah..."air mataku tak berhenti mengalir saat kuusap wajah pria itu.
Ketakutan yang luar biasa mulai merayapi pikiranku. Takut akan kehilangan pria yang selama ini mengisi hariku.
"Ibu...ibu....tolooong...siapapun...tolong aku!!!"akhirnya aku menjerit-jerit histeris karena panik.
Setelah berulang kali berteriak, ibu dan suami Bu Rismi menghampiriku.
"Astaghfirullah....Ryan kenapa?"
"Nggak tau Bu, tiba-tiba dia tergeletak disini...badannya juga panas sekali..." ucapku disela-sela Isak tangisku.
"Ryan...bangun nak...!"ibu mengusap sayang wajah putranya itu.
"Kita bawa kerumah sakit saja ya Bu...aku takut sekali..."
__ADS_1
"I..iya ...pak tolong panggil bantuan untuk mengangkatnya dan siapkan mobil.."ucap ibu pada suami Bu Rismi.
Aku dan ibu sama sekali tak sanggup mengangkat tubuh jangkung yang tak sadarkan diri itu.