Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Saat ku melepasmu


__ADS_3

Perjalanan pulang dengan Bu Rismi, tak terasa begitu singkat karena asyik menikmati obrolan kami.


Saat memasuki rumah, kuedarkan pandanganku karena tak menemukan seorangpun disana. Apa mungkin sepasang ibu dan anak itu sudah pergi?


Kuletakkan bungkusan jajanan pasar dimeja makan, sementara Bu Rismi menuju ke dapur.


Akupun masuk ke kamar untuk meletakkan tas kecil yang tadi kubawa sebagai tempat dompet dan ponsel.


Setelah masuk kamar, aku duduk ditempat tidur dan berniat mengambil ponsel untuk mengecek chatt yang masuk saat suara pintu kamar mandi terdengar terbuka ..


Seketika aku terlonjak mendapati seorang pria dengan celana pendek bertelanjang dada mengeringkan rambutnya dengan handuk sedang keluar dari kamar mandi dalam kamar yang kutempati itu.


"Astaghfirullah.."kutepuk dadaku untuk menghilangkan kekagetanku itu.


Tentu saja aku langsung berbalik badan karena melihat adegan yang mencemari pikiranku itu. Hhh..pria dengan tubuh atletis..ya ampuuun...


"Eh..kamu udah pulang Kinan!!" suara tengil pria dibelakangku seolah tanpa dosa.


"Ngapain kamu mandi dikamarku"


"Maaf-maaf..kamar mandiku airnya macet, sedangkan ibu ribut banget menyuruhku cepetan mandi...saat aku mau mandi dikamar ibu, tiba-tiba ibu mengusirku karena kebelet..."ucapnya lagi


"Ya..udah cepetan keluar sana.."


"Iya-iya..maaf ya mencemari pandanganmu...tapi menurutku tubuhku nggak jelek-jelek amat, sama seperti mas Devan kan..he..he.."


"Ya ampun ni anak... cepetan keluar sana!!"aku mulai menutup wajah dengan tanganku


"Hei aku udah pake baju nih, nggak usah ditutupin juga kali.."


Suara itu terdengar persis didepanku, dan benar juga saat kubuka tanganku, pria tengil itu sudah tersenyum usil didepanku.


"Pipimu merah sekali tuh.. memangnya apa yang kamu pikirkan saat melihatku hmm..."


Aku semakin salah tingkah dibuatnya, lalu kuambil tas kecilku untuk menghardiknya.


"Hiiih...sana pergi.." aku memukul mas Ryan dengan tasku itu.


Diapun tertawa terbahak melihat reaksiku.


Setelah dia berhasil kukeluarkan dari kamarku, kututup pintu rapat-rapat.


Ya..Allah..tu orang berani-beraninya menggodaku lagi!!

__ADS_1


Bodohnya kamu Kinan!!!Kenapa kamu juga jadi berdebar-debar melihatnya.


Kujatuhkan tubuhku tertelungkup dan berguling-guling ditempat tidur, untuk menetralkan debaran jantungku yang masih saja tak beraturan.


Aku akan membalasnya, Yap aku harus membalasnya ... awas saja kau pria tengil, suka sekali membuat perasaanku semakin tak menentu!!!!


Tok ...tok..tok...


"Mbak Kinan..." suara Bu Rismi dari balik pintu kamarku


"Iya Bu...sebentar.."aku segera beranjak dan merapikan bajuku yang berantakan karena berguling-guling ditempat tidur.


Klek...


"Ada apa Bu..?"aku berusaha seperti tak terjadi apa-apa.


"Sudah ditunggu mbak Adel diteras .."


"Ah iya...aku segera kesana..terima kasih ya Bu..."


Aku berbalik kembali masuk kamar untuk meraih tas kecilku tadi. Setelah itu kuayunkan langkahku menuju teras.


Kulihat sekarang gadis yang tinggi semampai, dengan rambut ekor kuda dan tampil dengan busana casual siap untuk mengajakku keliling perkebunan.


"Selamat pagi mbak Kinan..." serunya dengan riang


Kami berdua melangkahkan kaki menyusuri jalanan yang hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki.


"Mbak Kinan pernah ikut pecinta alam?" tanyanya padaku.


"He..he...sebenarnya pengen sih, cuma pas pertemuan selalu ada acara, batal deh jadi anggota..."


"Hmm...kalo gitu kita pelan-pelan aja, takute kaki mbak Kinan belum terbiasa..."


"Mmm ...gitu ya, oke deh aku nurut aja dari pada malah merepotkan orang ha..ha.."


"Mbak Kinan ternyata asyik ya, kupikir sangat pendiam...e...mbak Kinan sudah lama kenal mas Ryan?"


Waduuuh...mulai menjurus nih, aku harus hati-hati, jangan sampai kebablasan, apalagi sampai tau hubungan kami sebelumnya.


"Mmm...lumayan sih, tentu saja kamu malah mengenalnya sedari kecil ya ..?"


"Iya mbak.. dari masih SD, mas Devan dan mas Ryan sering dibawa Bu Yahyu menginap disini"

__ADS_1


Akupun manggut-manggut menanggapinya. Jalanan yang mulai terjal menurun, membuat nafasku mulai naik turun. Namun pemandangan hijau kebun kopi dan suasana yang sejuk telah membayar lunas rasa capek yang mulai merayapi seluruh tubuhku.


Setelah hampir stengah jam berjalan, Adel mengajakku duduk di sebuah gubuk terdekat.


Gubuk itu berukuran cukup luas untuk kami meluruskan kaki.


Adel mengeluarkan dua botol air mineral untuk kami.


Ah iya betul juga, mengapa aku tak punya persiapan konsumsi sih.


"Maaf ya Adel, aku malah tak membawa apapun.."aku memanyunkan bibirku


"Ha..ha..santai aja mbak, disini mbak Kinan masih tamu, aku tuan rumah nya...bagaimana pemandangan disini mbak...?"


"Subhanallah...ini pertama kali aku melihat dengan langsung, biasanya cuma lewat layar doang...hei disini cocok untuk foto prewedding loh..."


"Hmm..iya mbak, banyak yang melakukannya disini..."


"Mungkin sebentar lagi kamu juga melakukannya di sini..."godaku padanya


"Siapa juga yang mau pada gadis desa sepertiku mbak..."


"Sabarlah sebentar lagi , pangeranmu masih dalam perjalanan..."


"Hmm..amin...oh iya mbak, aku pengen ngaku nih, dulu waktu aku masih ABG aku penggemar mas Devan Lo...bagiku dia tu pria yang dewasa, penyayang, pokoknya semua yang baik-baik komplit dimilikinya..."


Aku menyimak cerita masa lalunya itu. Benar juga yang dikatakannya tentang mas Devan. Mungkin harusnya bukan aku yang mendampinginya. Aku yang tak sepenuhnya menerima kebaikannya ... seketika dadaku terasa sesak mengingat kebersamaan kami yang begitu singkat itu..


" Eh..maap ya mbak..kok malah jadi sedih gitu..."


"Ah nggak kok...cuma baper dikit, he he...trus bagaimana dengan adek iparku hmm..."


"Mas Ryan...dia juga baik, meski usil gitu.." dia pun tersipu menyebut nama mas Ryan


"Ibu sudah menceritakan padaku Lo...tentang rencana untuk kalian...apa kamu bahagia?"


"Sebenarnya semakin aku dewasa, aku jadi tertarik dengan pria usil itu...tapi aku jadi ragu kenapa tiba-tiba dia menerimaku, yang kudengar dia juga punya pujaan hati yang sulit dilupakannya...jadi menurut mbak Kinan, apa yang harus kulakukan?"


"Dia pria yang baik Adel, menurutku meski pada awalnya masih ada yang menempati hatinya, aku yakin dia tak pernah meninggalkan tanggung jawab pada istrinya. Lihatlah dia sangat menyanyangi ibunya, jadi aku yakin dia juga pasti akan menyanyangi istrinya kelak..."


"Mbak Kinan...bolehkah aku memelukmu..."ucap Adel sambil menitikkan air mata


"Hei...kemarilah..." kuulurkan kedua tangan menyambut pelukannya. "Tenanglah adek ipar, jangan pikirkan hal-hal yang buruk ya, berbaiksangkalah pada takdir Allah..."

__ADS_1


Adel melepaskan pelukannya dan mengangguk pasti.


Hari itu akhirnya aku menepati janjiku untuk membantu ibu mendekatkan mas Ryan dan Adel, semoga mereka berhasil sampai kepelaminan. Biarlah waktu akan mengikis semua yang dulu pernah menjadi cerita manis tentang kami. Sungguh Allah telah memberiku pelajaran hidup yang begitu berharga...


__ADS_2