Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Terima aku sepenuhnya


__ADS_3

Untuk masalah penampilan , ibu mertuaku benar-benar all out, dan itu juga yang dilakukannya padaku.


" Beneran nih nggak mau Toning, Kinan? Biasanya anak muda seperti kalian, suka mencoba hal baru..." ucap ibu yang melihatku selesai smoothing


" Tidak Bu, lagian kan tertutupi juga...kan jadi mubadzir gitu.." jawabku. Sebenarnya aku sudah capek karena lebih dari 5 jam aku hanya tiduran dan duduk saja.


" Nggak ada yang mubadzir Kinan, kamu juga kan tampil cantik untuk Devan, suamimu. Biar dia betah dirumah gitu deh...atau kamu takut gara-gara ada pertanda cucu ibu akan hadir hmm..."mungkin ibu mengira aku khawatir dengan bahan-bahan yang mengandung zat kimia karena sedang mengidam.


"Eh...bukan Bu, hari ini saya masih dapat tamu bulanan kok ..." sahutku tersipu. Maaf Bu, kami sudah melambungkan halusinasi ibu yang sudah ingin punya cucu . Seandainya saja ibu tahu, apa yang terjadi dibalik pintu kamar kami, mungkin ibu akan histeris...karena menantunya ini masih ori.


" Hmm... tidak apa-apa, kalian berusaha terus ya, sisanya biar ibu yang berdoa...oh iya, tapi menurutmu, Devan pria sehat kan? Apa dia bisa melakukan kewajibannya itu dengan baik?" ibu tersenyum dengan penuh arti, membuatku salah tingkah.


"Ma..maksudnya?"


"Kinan..kita wanita dewasa yang sudah menikah, bukan cuma para pria saja yang butuh kepuasan..."ibu mulai berbisik padaku" Kalo Devan terlalu cepat keluar, padahal kamu belum menikmatinya...konsultasikan ke dokter aja...biar ibu antar"


Wajah ibu seakan tanpa dosa itu membuatku mengernyit.


Ya ampun...ibu makin vulgar saja sih.


"Kamu nggak usah malu dengan ibu...kau tau ibu sangat senang bila kamu juga menganggap ibu sebagai teman..." ibu mengusap lenganku dengan sayang sambil tersenyum.


Beginikah rasanya mempunyai ibu rasa teman. Bahkan aku sudah lupa akan kasih sayang seorang ibu, karena sudah bertahun-tahun aku memang tak merasakannya.


" Pokoknya ..apapun masalahmu, bicara pada ibu ya.."


" Iya Bu...terima kasih..bolehkah Kinan memeluk ibu?"sepertinya aku mulai terbawa suasana, sementara rasa kangen terhadap ibu kandungku mulai membuat air mataku menggenang.

__ADS_1


Ibupun menarikku dalam pelukannya. Dan sepertinya dia berhasil menyalurkan kasih sayang seorang ibu padaku.


Sudah lewat dari makan siang, saat kami sampai rumah. Dan suasana rumah masih sepi, entah kemana dua kakak adik yang tadi pagi ibu minta untuk ambil baju-baju seragam untuk resepsi lusa nanti.


"Sepertinya mereka belum pulang Kinan...kamu istirahatlah dulu..."


Akupun mengangguk lalu berjalan menuju kamarku.


Setelah ganti baju rumahan, hampir kuraih kerudung instan yang selalu kupakai.


Apakah ini saatnya...? Aku harus mengakhiri perasaan egois ini, bukankah aku harus bersyukur mendapatkan keluarga baru yang begitu menyayangiku.


Ibu yang menganggapku putrinya sendiri, suami yang menerimaku apa adanya...apalagi yang kuinginkan?


Dengan mengucap bismillah, kuputuskan untuk keluar dari kotak tempatku selama ini untuk menutup diri. Aku akan mengabdi pada suamiku, aku akan menjadi anak yang baik untuk ibu, semoga Allah memberikan kesempatan padaku untuk memberi ibu cucu yang sangat diharapkannya itu.


Memang selama ini aku tak terlalu memperhatikan penampilan, apalagi banyak kebutuhan lain yang lebih penting. Paling aku creambath bila aku menerima bonus lebih dari kantor, itupun karena Tania yang ribut sekali agar kami bisa ke salon barengan.


Suara pintu kamar terbuka membuatku menoleh.


" Sudah pulang ya mas..?Kok lama..." ucapku sambil menghampirinya yang membawa beberapa paperbag besar.


Kuambil barang-barang itu dari tangannya.


" Iya...tadi...mampir dulu ke rumah temannya Ryan.." sahutnya


"Ooh...sudah makan siang?" kuletakkan barang-barang ke sebelah lemari dengan rapi.

__ADS_1


Saat tak kudengar jawaban dari mas Devan, akupun menoleh kearahnya. Dan mata kamipun bertemu, kulihat disana dia berdiri memandangku dengan tatapan yang sulit kuartikan.


Ya ampun...aku lupa dia pertama kali melihatku tanpa kerudung. Dengan malu-malu kuusap rambutku, sambil menata jantungku yang mulai deg-degan karena tatapannya itu.


"E...nggak pantes ya mas? Tadi aku memotongnya sedikit..." aku menggigit bibirku, menunggu reaksinya. Apa aku terlihat jelek ya...memang aku tak secantik Tania, atau mungkin karena mantan yang dulu dicintainya jauh lebih cantik daripada aku.


Aku menghela nafas, mungkin aku memang tak menarik dimatanya. Jadi apa yang harus kulakukan sekarang? Kalo suamiku nggak nyaman dengan penampilanku, sebaiknya aku memakai kerudungku kembali.


Tanpa kusadari karena sibuk dengan pikiranku sendiri, mas Devan sudah berdiri tepat di depanku.


" Kamu cantik kok...aku suka" tangan kanannya mengusap pipiku.


Akupun mendongak karena tubuhku yang cukup pendek. Seketika wajahku terasa panas dibuatnya.


"A..aku..." tak ada yang bisa aku ucapkan untuknya. Namun ada perasaan aneh saat dia mulai menarikku dalam pelukannya. Seperti ingin mundur, seperti belum siap, kenapa muncul berbagai kekhawatiran disaat kuputuskan untuk menerimanya.


"Terima kasih Kinan...kita akan melangkah bersama, terimalah aku menjadi suamimu...ijinkan aku menjadi pengganti orang yang dulu mengisi hatimu itu..."


Tubuhku kaku, hati dan perasaanku tak sejalan. Bagaimana ini?


"Iya mas..." aku harus berusaha menghilangkan rasa takut yang mengganjal ini.


Mas Devan melepaskan pelukannya dan mencium keningku lebih lama sambil mengusap punggungku.


" Oh iya ..aku akan pergi sebentar, aku akan ke sekolah dan mengambil beberapa berkas yang tertinggal...agar aku bisa mengerjakan nya dirumah, karena aku dapat cuti satu Minggu full..." mas Devan tersenyum padaku.


" Hmm..iya, hati-hati pak guru.." aku tersenyum lega setelah kedekatan fisik kami memudar.

__ADS_1


Diapun berbalik dengan senyum masih mengembang diwajah tampannya. Mungkinkah aku yang membuatnya seperti itu? Aku harus lebih berusaha memberikan hatiku padanya...


__ADS_2