Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Berusaha ikhlas


__ADS_3

Kedua tanganku terasa dingin, tubuhku bergetar melengkapi kecemasan yang begitu besar saat kami diminta untuk keluar ruangan. Kondisi ayah yang kembali drop membuatku lemah dan kalut.


Aku masih saja bersandar dipinggir pintu, dengan air mata yang terus membasahi pipi. Meskipun Bu Yahyu menghampiri, dan mengajak ku duduk, namun aku menggeleng pelan meski seluruh tubuhku merasa sangat lelah.


Selang beberapa menit kemudian, dokter yang menangani ayah tadi keluar dari ruang tindakan.


"Bagaimana dok? " tanya Bu Yahyu pada dokter itu. Sementara yang lain bergerak menghampiri kami.


"Maaf, Allah berkehendak lain, pak Rusdi telah berpulang..."


Suara dokter itu berdengung keras di kepalaku membuat dadaku terasa sesak , pandanganku berkabut dan akhirnya tubuhku lunglai seperti tak bertulang. Aku tak tau lagi yang terjadi selanjutnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dalam mimpiku aku melihat ibu sedang duduk berdua bersama ayah. Mereka berdua tampak sangat bahagia dan tak ada raut muka kesakitan seperti yang kulihat selama ini. Keduanya begitu cantik dan tampan. Saat mereka hendak melangkah pergi, akupun mengikutinya namun kedua kakiku seakan tak bisa bergerak sementara mereka semakin menjauh dariku...


"Ayaaah..." suaraku tercekat saat kubuka kedua mataku.


Kulihat langit-langit berwarna putih diruangan yang tak kukenal itu. Saat kugerakkan tanganku ternyata ada selang infus terpasang disana.


Kembali air mata ku berderai menyadari bahwa ayah telah meninggalkanku selamanya.


Suara detak jam dinding membuatku menoleh, jam 2? sepertinya dini hari, dan kulihat disofa sosok pria yang kini telah berhak atas diriku.


Ya...Allah, kupasrahkan hidupku padamu. Engkaulah yang maha bijaksana yang telah menjadikan mas Devan sebagai jodohku, maka hapuslah bayangan pria lain dari hatiku ini.


Entah berapa lama pikiranku berputar-putar, merekam kembali perjalanan hidupku hingga kini aku telah berstatus sebagai seorang istri dari pria yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

__ADS_1


Setelah lelah dengan pikiranku sendiri, akupun kembali tertidur.


Keesokan paginya aku terbangun, saat jam dinding menunjukkan pukul tujuh lebih. Saat kuedarkan pandanganku, aku tak menemukan seorangpun.


Akhirnya aku mencoba bangkit, karena harus kekamar mandi. Dengan pelan aku berhasil menapakkan kakiku dilantai, lalu kuraih tiang infus yang terhubung dengan tanganku itu.


Saat itu aku hanya fokus pada kekuatan kakiku untuk bisa melangkah, hingga tak menyadari seseorang masuk dalam ruangan ini.


"Kinan...! Biar aku bantu...ayo..." mas Devan masuk dan segera menghampiriku saat melihatku turun dari tempat tidur. Dia menuntun dengan memegang lenganku, seketika hal itu membuatku tersentak karena belum terbiasa dengan sentuhannya.


"Mau ke kamar mandi mas...a..ku bisa sendiri.." ucapku canggung.


"Aku takut kamu terjatuh..."sahutnya dengan nada khawatir.


"Aku sudah kuat kok, nggak pa pa..." aku tetap meyakinkannya.


Sedikit kulirik dia yang masih saja menatapku dengan cemas.


"I..iya mas.."ku lanjutkan langkahku dengan pelan, dan akhirnya berhasil masuk ke kamar mandi dengan hati bergemuruh.


Ya Allah...aku lupa telah menjadi istrinya. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan selanjutnya. Kepalaku masih berdenyut memikirkan hidupku yang seolah berputar 180 derajat dari porosnya.


Setelah visit dokter pagi itu, akhirnya aku diperbolehkan pulang.


Sebelum sampai rumah, kami mampir ke makam ayah. Aku duduk bersimpuh di tanah yang masih basah itu. Kembali aku merasa lemah meratapi kepergian ayah. Meskipun setelah beberapa kali serangan jantung ayah aku sudah mempersiapkan diri bahwa setiap saat pasti akan seperti ini. Namun saat ayah benar-benar pergi, aku masih saja merasa belum siap.


Kulantunkan doa untuk ayah dan ibuku, aku harus ikhlas, harus kuat, setidaknya aku sudah sedikit berbakti pada mereka. Sekarang hanya doa yang bisa ku persembahkan untuk melebarkan jalan mereka menuju surganya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sebenarnya Bu Yahyu, memintaku agar langsung ikut kerumahnya, namun aku memohon agar diijinkan untuk pulang kerumah ayah dulu.


"Ibu...bolehkah aku menginap dirumah ayah dulu?"tanyaku pada ibu mertuaku itu.


" Sekarang kamu adalah tanggung jawab Devan, Kinan...bicarakanlah dengannya"sahut ibu tersenyum, yang membuatku tersadar bahwa ada suamiku disini.


"Apakah ibu juga akan menginap disini?" tanya mas Devan pada ibunya.


"Tidak..ibu akan mulai mempersiapkan pesta untuk kalian. Oh iya kalian juga harus membicarakan kapan kita akan untuk mengadakan resepsi...ibu menurut kalian saja"ucap ibu


" Kita harus menunggu Tukik juga Bu, dia kan baru sebulan disana, bagaimana bisa ijin..."sahut mas Devan.


"Anak itu biar ibu yang mengurusnya. Kalo Kinan bagaimana? Kapan sebaiknya resepsi kalian diadakan..? Oh iya Devan, kamu harus segera mengesahkan pernikahan kalian ke KUA, kalo nggak nanti kalian dikira kumpul kebo ..."


Ya ampun ibu ini emang suka ceplas-ceplos. Seketika wajahku jadi panas mendengarnya.


"E..ibu...kalo Kinan pikir, apa tidak sebaiknya kita tunggu sampai empat puluh harinya ayah gimana?"


" Apa nggak kelamaan Kinan? Sebulan lebih Lo...!"


"Ibu..aku setuju dengan Kinan, aku ingin Tukik juga bisa hadir. Kalo sebulan lagi dia kan bisa mengkondisikan pekerjaannya disana.." jawab mas Devan


"Hmm...rupanya kamu meremehkan kekuatan ibu untuk menyuruhnya pulang?"lalu ibu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya" Ibu kan menelfonnya dihadapan kalian sekarang juga..."


Akupun menoleh mas Devan, sedangkan dia hanya bisa mengangkat bahunya melihat tingkah konyol ibunya itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum...iya, ibu minta waktu lima menit untuk bicara serius...kakakmu akhirnya menikah, iya ...dengan gadis yang fotonya kuperlihatkan padamu dulu itu...benar... makanya kamu harus pulang saat resepsi mereka" ucap ibu panjang lebar, lalu gantian ibu yang diam mendengarkan suara dari seberang.


"Apa!! baru bisa pulang tahun depan? nggak ada-nggak ada, aku akan telfon Romi langsung. Dia harus mengijinkanmu pulang, kalo perlu kamu nggak usah kembali kesana, sudah saatnya kamu urus perkebunan kita disini... pokoknya ibu nggak mau tau, kamu harus pulang bulan depan. Titik, Wassalamu'alaikum.."


__ADS_2