Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Balada pengantin baru


__ADS_3

Mataku mengerjap saat kudengar suara pergerakan seseorang. Siluet seseorang sedang mengerjakan sholat membuatku tersenyum.


Mas Ryan, seorang pria yang kini jadi suamiku tak pernah lupa akan kewajibannya. Aku ingin segera menjadi makmumnya.


Hingga sampai dia tengadahkan kedua tangannya, mataku tak lepas dari semua gerakannya.


Saat menyadari tatapanku, diapun menoleh dan tersenyum.


" Pagi sayang...."ucapnya sambil merapikan alat sholatnya.


Hhh... pagi-pagi sudah mengumbar ucapan sayangnya.


" Pagi ...mas..." meski masih males, aku segera bangkit dan merapikan tempat tidur kami.


"Hei..mau kemana? masih pagi...kembalilah tidur..."sahutnya memelukku dari belakang


Dan sikapnya ini berhasil membuatku merinding sekaligus menyematkan rasa tenang dalam hati ini. Sebuah rasa yang mengungkapkan bahwa kami memang saling membutuhkan.


" Aku akan membantu Bu Rismi didapur, kasihan harus menyiapkan sarapan untuk banyak orang..."


" Mereka pasti paham, Kinan...kita kan pengantin baru, jadi biarkan aku tidur lagi sambil memeluk istriku..."


Akhirnya aku menyerah, bagaimanapun dia pasti masih kelelahan telah menghadapi semuanya kemarin.


" Baiklah...tapi aku harus kekamar mandi sekarang..."


" Hmm...aku tunggu ya..." sahutnya seraya mencium pipiku sekilas.


Setelah lepas dari pelukannya , segera aku masuk kekamar mandi dan membersihkan diri.


Karena ada banyak hal yang harus kulakukan dikamar mandi, hingga saat aku keluar kulihat pria yang tadi bilang menungguku sudah terlelap dalam tidurnya.


Kudekati tempat tidur itu dan kuperhatikan dengkuran halus keluar dari bibirnya yang selalu berkata manis padaku itu.


Dengan hati-hati kuambil kerudung agar tak mengusik tidurnya, lalu akupun keluar menuju dapur.


" Selamat pagi..." sapaku pada Bu Rismi dan Bu Sumi yang telah sibuk dengan bahan-bahan masakan.


" Pagi mbak Kinan...kok sudah bangun..?" sahut Bu Rismi tersenyum penuh arti.


" Saya sudah terlalu lama tidur kemarin, jadi hari ini harus banyak gerak biar lebih fit..he..he..jadi apa bagianku nih..."


" Waduh mbak Kinan nggak usah capek dulu ya, nanti mas Ryan ngomel loh.." ucap Bi Sumi terlihat serius diiringi anggukan dari Bu Rismi


" Jangan khawatir deh, habis subuhan dia tidur lagi...jadi biarkan aku bergerak ya ...pliss " kukatupkan kedua telapak tanganku


Kedua wanita paruh baya itu saling berpandangan dan melempar kedipan.

__ADS_1


Melihat hal itu, akupun menahan tawa.


" Kalian kenapa sih? seperti Kinan nggak pernah bantuin deh...bukankah biasanya juga kayak gini?"


" Sekarang beda mbak...Bu Yahyu sudah berpesan supaya mbak Kinan jangan terlalu capek...biar usaha mas Ryan cepet ada hasilnya..." bi Sumi terkikik sambil menutup mulutnya.


"Apa!!" aku mengernyit mendengar apa yang dipesankan oleh ibu.


Ibu benar-benar membuatku malu...


" Iya mbk Kinan, kami cari aman saja deh...mbak Kinan nggak usah bantuin kami ya, plisss .." sahut Bu Rismi menirukan gayaku tadi.


Aku hanya bisa menipiskan bibir melihat kedua wanita paruh baya itu saling melempar senyuman.


" Huuuh...kalian sekongkol ya..." ucapku sambil menarik sudut bibirku. Lalu akupun meninggalkan keduanya menuju kamarku sendiri yang ditempati oleh Tania.


Namun sebelum aku meraih gagang pintu, kulihat ibu dari arah luar rumah.


"Hei ..Kinan, jangan masuk..." ibu tergopoh-gopoh segera menghampiriku sambil memelankan suara dan menarik tanganku kearah kamarnya.


Dengan rasa penasaran, aku mengikuti langkah ibu.


Ibu mendudukkan ku dipinggir tempat tidur , lalu dikeluarkannya barang-barang dari sebuah tas besar.


Salah satunya diberikan kepangkuan ku.


" Lho ini kan mas kawin yang disebutkan Ryan kemarin..."


Kuusap benda kotak pipih itu. Memangnya kemarin mas Ryan mengucapkan mas kawin apa ya? Kok aku nggak mendengarkan ya..aku tertawa dalam hati saat menyadarinya.


" Maaf Bu...kemarin Kinan terlalu syok...jadi tak begitu fokus..he..he"aku hanya bisa nyengir


"Kamu ini ...! bukalah..." ibu mengusap kepalaku.


Dengan pelan kubuka benda itu. Terlihat satu set perhiasan dari kalung dengan untaian emas berhiaskan jalinan perak yang indah, liontin bertatahkan berlian dengan inisial A&K , gelang juga ada hiasan huruf A&K, dan cincin berukir nama kami berdua dibagian dalamnya, semua itu dengan motif yang senada..


Eh...sebentar, sepertinya aku pernah melihat semua ini...


" Tania....!!"pekikku tertahan


" Kenapa Kinan, kamu tak menyukainya..?"


"Bukan begitu Bu, ini kan yang dibeli Tania dan harganya ..."aku masih terbelalak menatap ibu.


Ibupun tersenyum padaku.


" Iya Kinan..bukankah dulu kamu yang memilihnya, semua sudah dibayar lunas oleh Ryan, jadi kamu jangan khawatir ya..."

__ADS_1


" Tapi ...ini mahal sekali Bu, sayang kan...tahu gitu aku nggak mau beli disana..." ucapku merengek


"Kinan..bagi Ryan, kamu lebih berharga dari apapun ... dan uangnya juga sudah terkumpul sejak dia ingin melamarmu jadi jangan khawatir tentang keuangannya ... dia sudah sangat mapan kok" ibu kembali tersenyum untuk menenangkan keterkejutanku.


Aku masih mengernyitkan dahiku dan tak bisa berucap apapun.


"Sudahlah Kinan, ini salah satu tanda cinta suamimu jadi simpanlah dengan senang hati... ngomong-ngomong semalam Ryan tidak memaksamu kan? Kalo sampai itu terjadi, ibu akan ikut menghukumnya..."ucap ibu sambil mengepalkan tangannya.


Aku tertawa melihat tingkah ibu


" Ibu sudah mengenal mas Ryan dari kecil, apa mungkin dia tega menyakiti orang lain...?" tanyaku berbalik pada ibu


" Ah iya juga, apalagi padamu...terima kasih telah hadir ditengah-tengah kami Kinan..." ibu memelukku dengan sayang


"Kinan juga sangat beruntung bisa menjadi anggota keluarga ini..." kubalas pelukan ibu dan menyerap semua kasih sayang yang disalurkannya padaku.


" Semoga segera ada Ryan Ryan kecil hadir ditengah kita ya..." ibu melepas pelukannya dan berhadapan denganku.


Ah iya, aku jadi teringat sesuatu...


" Tapi ibu tak perlu melarang bi Sumi dan Bu Rismi untuk menolak bantuanku kan..."


" Heh...mereka mengatakannya? Hadeeeh ...dasar mereka nggak bisa diandalkan..."guman ibu


Aku hanya melongo menghadapi ibu yang berguman sambil menunjukkan ekspresi lucu.


"Ibu hanya khawatir kamu kelelahan dan sakit Kinan, lihatlah tubuh kecilmu ini...setidaknya kamu harus menambah berat badan beberapa kilo lagi..."


Pasti gara-gara aku hampir pingsan diacara kemarin


" Hmm..terima kasih Bu...maaf ya kemarin Kinan meninggalkan acara ...Ibu pasti malu pada tamu-tamu karena tak ada pengantin wanitanya .."


"CK...Kinan, ibu tak peduli dengan omongan orang lain, ibu hanya peduli pada kesehatanmu..justru ibu khawatir saat beberapa kali menjengukmu, kamu masih saja tak bergerak meskipun kutepuk-tepuk tubuhmu...saat dokter memeriksamu dan mengatakan segala tanda vitalmu baik-baik saja, ibu baru tenang dan memaksa Ryan agar bisa membangunkanmu untuk makan malam..apa dia melakukannya?"


"Iya Bu...semalam Kinan sudah makan selat solo kok.."


"Syukurlah...sekarang maukah kamu menemani ibu jalan-jalan disekitar kebun, mumpung masih pagi..."


"Ah iya Bu, Kinan juga ingin bergerak, rasanya tubuh Kinan kaku semua gara-gara kebanyakan tidur..." aku beranjak penuh semangat.


"Ayok..." ucap ibu ikut bersemangat.


" Oh iya Bu...kenapa tadi aku tak boleh masuk kamar Tania..."


" Oh itu ... karena semalam suami Tania datang, mungkin mereka sedang melepas rindu... kalau kamu masuk, bisa-bisa kepengen loh, nanti aja kalau sudah selesai haid..mintalah pada Ryan..." ucap ibu sambil mengedipkan matanya.


Blush...ibu benar-benar suka nyablak...

__ADS_1


__ADS_2