Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Menempuh hidup baru


__ADS_3

Meski kami yakin ibu mendapat protes dari suara seberang, dengan pedenya ibu mengatakan bahwa dia telah berhasil memaksa anaknya pulang kampung.


" Kalian tenang saja, adekmu pasti pulang. Kalo sampai nggak pulang, akan kulabrak si Romi, bosnya yang botak itu.." ucap ibu dengan semangatnya.


Seperti tersadar bahwa aku melihatnya dengan terbengong-bengong, ibupun menoleh kearahku.


"Maaf Kinan, kamu harus mulai terbiasa dengan kebiasaan ibu yang suka memaksa ini, he..he.."ucap ibu sambil tersipu.


Aku hanya bisa ngengir menanggapi nya.


"Oh iya, Tukik itu adek kesayangan Devan. Sejak kecil mereka berdua selalu kompak, jadi ibu deh yang selalu sendiri karena mereka sering tak sependapat dengan ibu. Kini saatnya ibu punya partner yaitu kamu Kinan, jadi kita bisa mengalahkan kekompakan mereka, okey..."ibupun mengerling padaku.


Sekali lagi aku tersenyum canggung membalas kerlingannya itu.


"Oh iya, si Romi bos nya Tukik itu, mantan ibu...dan kurasa sampai sekarang perasaannya juga masih sama Lo pada ibu...UPS" lanjut ibu dengan cengengesan.


Ya ampun, ibu mertuaku nih benar-benar centil. Mungkin itulah yang membuatnya awet muda


"Ehemm...ibu jangan ngajarin Kinan yang aneh-aneh gitu deh.." sela mas Devan sebelum ibu mengeluarkan semua kekonyolannya.

__ADS_1


Aku jadi menahan tawa melihat mas Devan memprotes ibunya. Sepertinya aku masuk dalam keluarga yang penuh semangat. Bahkan diumur yang hampir lima puluh tahun itu mengalahkan aku yang baru dua puluh tiga tahun ini.


Pada saat akhirnya ibu pulang bersama sopir yang sudah mengabdi selama puluhan tahun di keluarga itu, kini tinggallah kami berdua dirumah.


Waktu menunjukkan pukul delapan malam saat mas Devan masuk rumah, setelah pulang dari masjid yang tak jauh dari rumahku.


"Assalamualaikum..." ucap mas Devan yang langsung menyusulku duduk disofa depan televisi.


"Waalaikum salam..." jawabku seraya meminta tangannya untuk kucium. Meski masih kaku, aku harus terbiasa karena sekarang aku adalah seorang istri.


"Maaf ya ,Nan...aku baru pulang, tadi sempat ngobrol dengan bapak-bapak sekitar sini, sekalian perkenalan bahwa kita sudah menikah ...takutnya kalo mereka tidak mengenalku, kita akan digrebek warga sini.." mas Devan terkekeh.


"Kinan..." panggilan mas Devan yang lembut itu membuatku tersentak. A..apa yang akan diucapkannya. Jangan-jangan dia akan meminta hak nya..aduh..bagaimana ini...


"I..iya mas..."


" Aku ingin membicarakan tentang kita. Sekarang kita sudah menikah, namun...meski kamu sudah lama mengenalku, apakah kamu sudah siap menerimaku sebagai suamimu?"


Nah kan...habislah aku, apa yang harus kukatakan? Aku tak ingin menyakiti suamiku sendiri. Bahkan aku belum pernah melepas kerudung dihadapannya. Benarkah dia menginginkan malam pertama nya.

__ADS_1


Saat aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri, mas Devan kembali memberiku jalan keluar.


" Jangan terlalu dipikirkan, Kinan. Aku paham, ini semua terjadi begitu cepat. Aku juga ingin menerimamu seutuhnya, hanya jika kamu juga siap menerimaku sebagai suamimu.."


"Maafkan aku mas..." hanya itu yang bisa kukatakan padanya.


" Kita bisa memulainya dari awal, kita akan berteman dulu. Apakah kamu mau jadi temanku..hmm?" ucapnya tulus sambil mengulurkan tangannya.


"Iya mas, aku mau..." aku tersenyum lega sambil menjabat tangannya.


Saat mata kami bertemu, kulihat wajah tampannya juga tersenyum.


"Tak usah dipaksa, biarkan rasa itu tumbuh sewajarnya...oke?" mas Devan mengusap kepalaku dengan sayang, memperlakukanku seperti adiknya sendiri.


"Terima kasih atas pengertianmu mas..., tapi...bagaimana dengan ibu?"


" Tentu saja semua ini wilayah dalam negri keluarga kecil kita, jangan sampai orang lain tau, termasuk ibuku yang cerewet itu .."


Aku tergelak mendengar hal itu, kemudian akupun mengangguk pasti. Sekarang aku benar-benar lega, beban bahwa dia akan meminta haknya membuatku merinding. Bagaimana bisa aku melakukannya dengan orang yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2