Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Restu ayah


__ADS_3

Setelah menerima panggilan telpon dari Bu Yahyu, seketika pikiranku kalut, jantungku berdetak hebat, aku sudah merasa kalo sesuatu yang buruk akan terjadi.


Dengan segera aku bergerak, minta ijin dan langsung menyeret motor matic milikku menuju IGD rumah sakit tempat ayahku dibawa oleh teman-temannya itu.


Sedikit berlarian, akhirnya aku berhasil menapakkan kaki sampai di dalam ruang IGD.


Disana sudah ada Bu Yahyu dan tiga orang lain yang tak kukenal.


Setelah melihat kehadiranku, Bu Yahyu beranjak dari duduknya dan menghampiri ku.


"Bagaimana ayah saya Bu...?" dengan cemas aku meraih lengan Bu Yahyu.


" Dokter masih menanganinya, kamu tenang ya, semua pasti baik-baik saja..." wanita itupun tersenyum kecil dan mengusap lenganku.


Aku hanya mengangguk pelan.


" Tadi rencana kami menjemput ayahmu, seperti yang ibu bilang kemarin. Namun saat kami sampai, kami merasa ayahmu terlihat sangat lelah, jadi kami putuskan untuk tetap berkumpul dirumahmu saja. Saat kami sadar, ayahmu mulai sesak dan keluar keringat dingin, kami langsung membawanya kesini..."


"Terima kasih Bu, saya tidak bisa membayangkan seandainya ayah mengalami hal itu saat sendirian saja dirumah...maaf telah merepotkan" segera kuusap air mataku yang tak bisa kutahan lagi.


Bu Yahyu masih memeluk dan mengusap lembut punggungku.


Beberapa saat kemudian, mas Devan datang dan menghampiri ibunya.


"Bagaimana keadaan pak Rusdi Bu?" tanya mas Devan


"Belum tau, Van..masih didalam..''


Namun baru saja bu Yahyu berkata seperti itu, seorang suster keluar dari ruang tindakan.


"Keluarga pak Rusdi? Silahkan masuk..."


Aku menghampiri ayah yang masih sadar namun dengan berbagai alat yang menempel ditubuhnya. Meski sudah beberapa kali aku melihatnya seperti itu, namun perasaanku selalu saja tak karuan.


"Ayah...." panggilku pelan sambil mengusap lengannya yang terasa dingin.


Ayahpun merespon, menoleh kearahku dan berusaha tersenyum.


"Kinan...maafkan ayah....selalu membuatmu repot..."


" Nggak ayah, Kinan sama sekali nggak repot...ayah jangan begitu. Kinan sayang ayah jadi kumohon ayah selalu kuat ya..."dengan cepat kuhapus air mata yang sudah tak bisa kubendung lagi.

__ADS_1


" Kinan...kamu jangan sedih lagi ya, semua sudah dituliskan oleh Nya, ayah nggak mau kamu ..terus memikirkan dia..."


Hatiku tersentak, ayah yang selama ini diam ternyata selalu memperhatikan ku. Meski tak mengatakan apapun, tapi ayah ikut menanggungnya, ikut merasakan kesedihanku. Jadi akulah yang menyebabkan ayah seperti ini...


"Sebenarnya ayah ingin kamu menerima pria lain, namun ayah tau kamu masih memikirkannya" ayah menghela nafas dengan berat.


"Ayah istirahatlah.. jangan terlalu banyak pikiran ya..."


"Ayah takut Kinan...bukannya takut mati ,tapi...takut tak sempat menikahkanmu..." air mata ayahpun mengalir. Aku yang melihatnya langsung mengambil tisu dan mengusapnya meski air dari mataku sendiri semakin deras mengalir.


Bagaimana ini? Bagaimana aku bisa menenangkan ayah , sementara aku sendiri sangat rapuh. Dari belakang tubuhku, Bu Yahyu mendekat dan mengusap punggung ku, menyalurkan kekuatan agar aku bertahan.


"Ayah pasti sembuh..hiks...ayah pasti akan menikahkan Kinan, jadi ayah harus... kuat" ucapku mulai terisak.


Kulihat ayah berusaha tersenyum, namun aku tau dia sedang menahan sakitnya.


Bu Yahyu mulai gelisah, dan teman-teman ayah yang lain mulai berpandangan.


Kemudian Bu Yahyu berbisik padaku, "Kinan...bersediakah kamu menikah dengan Devan?"


Aku langsung menoleh dan mengerutkan dahi. Kupandangi satu per satu teman-teman ayah yang lain tanda tak mengerti, aku bingung...sementara air mata masih saja tak mau berhenti mengalir ke pipiku.


"Devan..apakah kamu bersedia menikah dengan Kinan? Rusdi ingin menikahkan Kinan, sekarang..." Bu Yahyu bertanya kepada putranya itu dihadapan kami semua.


Tentu saja mas Devan tampak sangat terkejut.


"Hah..!!Tapi bagaimana dengan Kinan ..?"


Kupegang telapak tangan ayah dan berusaha tersenyum.


"Ayah...benarkah ayah ingin menikahkan aku dengan mas Devan..." ucapku pelan


"Ayah ...senang sekali...kalo kamu...bersedia...Kinan.."


" Kinan akan senang kalo ayah juga senang, Kinan bersedia ..ayah...." kulihat ayah tersenyum lega. Dan melihat hal itu hatiku merasa ringan dan bebanku jadi berkurang.


"Devan...bersediakah kamu menerima tanggung jawab terhadap Kinan dariku? Menjaganya seumur hidup mu.."tanya ayah pada mas Devan


Semua mata menatap mas Devan, menanti jawaban darinya. Kecuali aku, hanya bisa menunduk dan menata detak jantungku sendiri, merasa membebani pria itu.


"Iya pak Rusdi...saya bersedia menikahi Kinan..."

__ADS_1


"Alhamdulillah...aku akan menikahkan kalian sekarang..."


Ucapan ayah itu membuat semua yang hadir disana kembali tercengang.


"Muji..tolong bimbing aku...kalian semua akan menjadi saksinya..." kata ayah sambil berusaha untuk duduk bersandar.


Pak Muji yang ternyata seorang ustad, membimbing doa. Bu Yahyu melepas cincin dijarinya dan melipat mukena yang selalu ada dalam tasnya, lalu menatanya dengan rapi. Dokter dan perawat turut menjadi saksi ijab qobul dadakan ini.


Dengan terbata ayah berucap seraya menjabat tangan mas Devan.


"Saya nikahkah..dan kawinkan..anak saya..Kinanti Prameswari binti Rusdi dengan mas kawin seperangkat...alat sholat dan cincin dibayar tunai .."


"Saya terima nikah dan kawinnya Kinanti Prameswari binti Rusdi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"


"Alhamdulillah...Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih...." pak Muji melanjutkan dengan rentetan doa yang diamini oleh kami semua.


"Ya Allah, jadikanlah akad ini, akad yang penuh berkah, akad yang tidak ada setelahnya perpisahan (perceraian) maupun permusuhan, akad yang diberkahi bagi keduanya dan kepada keduanya dari awal sampai akhirnya hingga keduanya bertemu Engkau dan Engkau ridha kepada keduanya Wahai Tuhan Semesta Alam. Ya Allah, luaskanlah rezeki bagi keduanya dan baguskanlah akhlaq bagi keduanya serta lindungilah keduanya dari perbuatan syirik, ragu-ragu, nifaq dan akhlaq yang buruk.


Ya Allah, Ya Tuhan kami, jadikanlah diantara keduanya, keserasian yang tidak ada putus dan ujungnya dan jauhkanlah keduanya dari permusuhan dan perpisahan dengan rahmat-Mu, Wahai Dzat Yang Maha Penyayang orang-orang yang penyayang. Ya Allah, jadikanlah pernikahan ini, pernikahan yang abadi dan langgeng hingga bertemu Engkau dan Engkau ridha kepada keduanya, Wahai Tuhan Semesta Alam.


Ya Allah, jadikanlah mata pencaharian keduanya, mata pencaharian yang baik dan penghidupan yang baik, nikmat dan diridhai serta berikanlah rezeki bagi keduanya anak keturunan yang baik-baik dan membawa kebaikan serta menjadi penyenang hati bagi keduanya, Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dan selalu segera dalam memenuhi permohonan."


" Amiin..."


"Kinan...cium tangan suamimu nak.."ucap ayah.


Dengan kikuk kuraih tangan mas Devan yang juga canggung itu, lalu menciumnya. Setelah itu, dia menarik bahuku untuk mendekat dan mencium keningku dengan lembut.


Entahlah perasaan apa yang sedang kurasakan..


Kulihat ayah begitu bahagia kemudian kembali berbaring.


"Kinan...sekarang kamu milik suamimu, berbaktilah padanya, karena surgamu ada dalam dirinya..." pesan ayah lagi


"Iya ayah, Kinan akan selalu mengingatnya..." sahutku seraya menyandarkan kepalaku dilengannya.


Aku merasa sangat senang bisa membuat ayahku bangga telah berhasil mengucap ijab qobul untukku. Kudengar ayah bergumam tak jelas, seketika aku mendongak...


"Ayah...ada apa yah...ayah kenapa..?"seruku menatap ayah yang terlihat melemah dan berlinang air mata.


Dokter pun maju untuk memeriksa ayah, dan suster menyarankan kami untuk keluar dari sana.

__ADS_1


__ADS_2