Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Kesibukanpun dimulai


__ADS_3

Malam ini, sulit sekali aku memejamkan mata. Rasa gelisah membuatku membolak-balikkan tubuhku mencari kenyamanan.


"Hei..Kinan kamu kenapa?" mungkin karena merasakan pergerakan ku yang berulang kali, Tania terbangun dan menyipitkan matanya melihatku.


" Eh maaf, aku hanya ...haus...tidurlah lagi, aku akan mengambil minum sebentar..."


"Hmm...kamu juga harus segera tidur, ini sudah tengah malam ..."


" Ya..ya..." akupun beranjak dari tempat tidur, meraih kerudungku dan berjalan keluar kamar.


Kulihat suasana sudah sepi, namun cahaya lampu masih terang benderang menandakan akan ada acara besar yang akan dilaksanakan.


Kuambil gelas dan menuangkan air kedalamnya. Setelah meneguk air dalam gelas itu , aku berpikir kenapa mataku yang terasa lelah ini tak kunjung dapat terpejam. Kurasa semua sudah terencana dengan baik dan sejauh ini dapat berjalan dengan lancar.


Kuhela nafas sekali lagi, dan akupun sudah memantabkan hati untuk melupakan mas Ryan, jadi apalagi yang kupikirkan hingga membuatku insomnia seperti ini.


Alih-alih kembali ke kamarku dan tidur bersama Tania, kedua kakiku terbawa ke kamar ibu.


Kubuka perlahan kamar ibu, dan kulihat wanita itupun terlelap. Akupun duduk disamping tempat tidurnya.


" Kinan?..." suara serak ibu saat menyadari keberadaanku.


" Ibu ... bolehkah Kinan tidur bersama ibu?"


Ibu tersenyum dan menepuk-nepuk tempat disampingnya.


" Kemarilah...apa kamu tak dapat tidur hmmm..."


Kubuka kerudungku dan kuletakkan disandaran kursi


"Iya Bu..tapi Kinan nggak tau kenapa..." aku segera merebahkan diri kesamping ibu dan memeluknya.


" Sudahlah jangan berpikir apapun, kosongkan pikiranmu dan besok pagi bangunlah dengan hati yang lebih tenang..." ibu mengusap rambutku beberapa kali.


Seakan terbawa oleh mantra yang ibu ucapkan tak lama kemudian akupun berhasil terlelap.


Saat itu aku sedang duduk direrumputan, memandangi air yang begitu jernih mengalir didepanku. Sungai kecil itu sangat indah, melengkapi keindahan hamparan rumput yang bergoyang karena hembusan angin seperti lautan hijau tanpa batas.


Seseorang duduk disebelahku.

__ADS_1


Akupun menoleh, dan bertemu pandang dengan sepasang mata coklat yang begitu meneduhkan hatiku.


"Mas Devan..."


Senyumnya mengembang setelah kusebut namanya.


Seperti mencari sesuatu, dia mengedarkan pandangan disekitar tempat duduknya. Lalu dia memetik sebuah bunga kecil dan menyerahkannya padaku sambil melebarkan senyumnya.


Kuterima bunga kecil berwarna kuning itu.


"Tempuyung..."aku membalas senyumnya


Diapun mengangguk.


Bunga tempuyung , bunga kecil berwarna kuning yang banyak ditemukan sebagai rumput liar, mudah sekali tumbuh meski pada bebatuan sekalipun. Namun jarang yang mengetahui bahwa tanaman tempuyung ini mempunyai banyak manfaat sebagai obat herbal yang membantu penyembuhan penyakit.


Hei darimana aku tahu semua hal itu,seperti tiba-tiba saja muncul dikepalaku saat mas Devan menyerahkan bunga itu padaku.


Sesaat kemudian kurasakan usapan lembut tangannya dirambut panjangku.


Eh dimana kerudungku....


Seperti menikmati kasih sayangnya, kupejamkan mata saat dia mengecup keningku.


Diapun melangkahkan kaki, dan meloncat kearah seberang sungai kecil di hadapanku.


Lalu berjalan menjauh dan melambaikan tangannya padaku. Aku mengerutkan dahi, mau kemana dia meninggalkan aku sendiri disini.


Pandanganku mengarah pada bunga tempuyung yang diberikannya kepadaku.


Akan ada seseorang yang selalu didekatku, dia telah bertahan dalam keadaan apapun, setia menjagaku dan mengobati kesedihanku...sehingga mas Devan merasa lega dan pergi meninggalkanku dengan tenang.


Seakan aku mengerti apa arti pemberian bunga tempuyung itu.


Air mataku menetes saat terhenyak dari tidurku. Suasana sudah begitu terang dan ramai, jam berapa ini...aku terlalu lelap hingga tak mendengar suara azan subuh, untung sedang datang bulan. Kuedarkan pandanganku, aku baru teringat tadi malam aku tidur bersama ibu dan sekarang aku terbangun sendirian .


Kulihat jam dinding menunjukkan hampir jam tujuh pagi. Astaghfirullah...akupun berjingkat kearah cermin, kuhapus airmata dari muka bantalku itu. Kuraih kerudung dan berjalan keluar kamar.


Benar-benar sudah mulai ramai, lalu lalang orang yang tak kukenal terlihat sangat sibuk.

__ADS_1


Akupun berjalan kearah kamarku, namun sebelumnya saat melewati ruang tengah sudah terlihat para perias yang sedang merias ibu dan ibunya Adel


" Hei Kinan ...kenapa baru bangun heh, cepat buruan mandi, habis ini giliran kamu yang dirias..." Tania yang tiba-tiba saja muncul disampingku membuatku terkejut.


Dan ternyata dia telah menjadi putri raja, dengan gaun yang indah membalut tubuhnya, dan wajahnya sudah terpoles make up flawless dengan bulu mata lentik dan pipi yang merona.. tapi putri raja itu perutnya buncit, aku menahan tawa.


"Kenapa tertawa, riasanku norak ya?..." Tania menyentuh kedua pipinya sambil cemberut.


" Cantik banget Tania sayang...lihat sendiri deh dicermin itu..."


" Beneran...nggak bohong kan..."


" Ih kamu nih, tanpa riasan aja sudah cantik apalagi sekarang..."


" Lha kok tadi kamu tertawa.."


" Aku sedang membayangkan kamu jadi seorang putri, tapi setelah turun keperutmu yang seksi ini...nggak jadi seperti princess deh..he..he.."kuusap perutnya, dan seketika kurasakan pergerakan disana.


" Hei kamu membuat mereka protes tuh..." sahutnya


" Wah beneran gerak ya ternyata..." ucapku terpesona.


" Udah-udah sana cepetan mandi yang bersih, biar bisa dirias..."


" Iya..iya...lagian yang lebih penting kan pengantinnya dulu, aku belakangan nggak papa kan..."sahutku dengan malas.


" Kinan...jangan bandel ya, cepetan mandi!!"Tania berkacak pinggang sambil melotot padaku.


Akupun bergidik melihatnya begitu serius, langsung saja kuambil langkah seribu masuk kekamar.


Dasar si Tania, mentang-mentang mau jadi emak, keluar juga taringnya.


Kusiapkan kebaya warna salem yang seragam dengan anggota keluarga yang lain.


Setalah mandi , akupun mendekati salah satu perias yang sudah selesai..


" Yang biasa aja ya mbak , tipis aja..." pesanku pada perias yang bernama Tya itu.


"Siyap mbak Kinan...pokoknya saya jamin mbak Kinan jadi pusat perhatian deh...tapi nanti finishing ya tetap Bu Ratna biar semua orang pangling he..he" sahutnya mulai memoles wajahku.

__ADS_1


Ingin aku menyela, bahwa yang lebih menonjol kan pengantinnya bukan aku, tapi aku harus tutup mulut saat dia memberi foundation.


Mungkin karena aku single, jadi harus terlihat cantik agar cepat ada yang naksir kali ya...aku jadi teringat ucapan ibu yang sepertinya ingin aku segera menemukan pengganti mas Devan. Apakah aku harus mulai membuka diri untuk pria lain...


__ADS_2