
Setelah sholat Ashar, aku masih betah dengan mukena dan tasbih ditanganku. Dengan hati yang bimbang ku pinta petunjuk dariNya, hanya Dialah yang sanggup membalikkan hati ini. Hingga air mataku menetes, saat aku memohon agar hatiku bisa menerima suamiku tanpa ada yang membuatku berpaling lagi.
Suamiku sangat baik, pengertian bahkan dengan wajah yang rupawan. Aku pasti bisa mencintainya, kumohon ya Allah limpahkan rahmatmu ...
Meeooong....suara kecil itu membuatku menoleh. Seekor kucing dengan warna kuning muncul dari jendela dan berjalan masuk kedalam kamar...
Segera kulipat mukena, dan kusisir rambutku dengan tangan. Seperti menemukan mainan baru, akupun menghampiri anak kucing itu...
"Pus..pus..sini pus, kamu punya siapa sih..lucunya...." namun saat aku menghampirinya dia ketakutan dan mulai berlari berputar-putar menghindari ku.
Kuhentikan gerakanku, agar anak kucing itu ikut berhenti. Akhirnya diapun berhenti diatas meja riasku.
"Waduh...kenapa berhentinya disitu si pus..." aku berkacak pinggang, bagaimana cara menangkapnya tanpa mengacaukan perlengkapanku.
" Okey..kalo kamu bersikap manis, aku akan memberimu makan...ayo..pus..pus.." aku mulai mengendap-endap berusaha membujuk kucing kecil itu.
Hap...akhirnya kutangkap dengan kedua tanganku, namun karena berontak kakinya menendang botol parfum milik mas Devan hingga jatuh dan pecah..
" Hei...kamu dalam bahaya pus..kau merusak barang tuan besar..oke-oke aku akan merayunya agar dia memaafkanmu..Apa? kamu meragukannya, karena tadi aku ingin berontak saat dipeluknya?"aku mengelusnya hingga dia tenang dan tak lagi berontak.
"Jangan khawatir, nanti aku pasti bisa membalas pelukannya...bahkan akan kuberanikan diri untuk menciumnya..."aku tertawa sendiri membayangkannya. Apa aku bisa melakukan semua yang kukatakan tadi...
Biipp...dering ponsel diponsel menyadarkan lamunanku.
"Halo assalamualaikum mas..." ucapku setelah kulihat nama mas Devan dilayar ponsel
__ADS_1
"Waalaikum salam..Kinan...ini aku diperjalanan pulang, apa ada sesuatu yang kamu inginkan?"
" Mmm...apa ya mas? ..kalo makanan kucing boleh?"aku masih saja mengelus kucing kecil yang mulai patuh itu.
" Apa?!? ...maksudnya makanan kucing yang sebenarnya? Atau cuma istilah? Apa kamu nyidam nasi kucing..." suara tawa dari seberang membuatku gemas, bisa aja dia mengatakan itu.
"Ish..."
" Iya..iya...kamu nemuin anak kucing ya...kamu tuh seperti Ryan aja, suka sama kucing...baiklah aku akan membawakannya..
udah itu aja apa ada yang lain hmm?"
" Udah mas itu aja..."
"Siyap nyonya Devan, asallamualaikum..."
Setelah meletakkan ponsel ditempat tidur, aku berjalan keluar jendela kamar yang berhubungan langsung dengan taman dan kolam ikan disamping rumah.
Jendela besar dan tinggi dari kaca itu kubuka dengan lebar, lalu kuletakkan anak kucing itu diluar.
"Oke pus...aku harus membereskan kekacauan yang kamu buat sebelum tuan besar datang...kamu tunggulah disini, menunggu makananmu datang ya.."aku masih saja mengajak bicara anak kucing itu dan dijawabnya dengan meong...sepertinya dia mulai memahami ocehanku.
Saat kuusap-usap kepalanya, dia menunduk dan memejamkan mata sipitnya.
"Hei..aku harus memanggilmu apa? Mmm...sepertinya aku teringat seseorang, mata kalian sama-sama sipit..jadi kamu kupanggil Tania aja ya, he..he.."
__ADS_1
Aku terkikik karena ide nama kucing yang tiba-tiba muncul itu. Semoga Tania si bawel itu tak marah, saat tau aku menyabotase namanya..
Namun seketika tawaku terhenti, saat mataku bertemu dengan tatapan pria dijendela kamar seberang kolam. Ya...kolam dengan waterfall yang suaranya menyejukkan itu berada diantara dua kamar.
Sejak kapan dia melihatku dari sana.
Astaghfirullah, aku baru sadar bahwa rambutku tergerai tanpa kerudung. Gara-gara sibuk dengan si kucing, aku tak menyadari telah membuka jendela yang terlihat dari luar ruangan...
Segera aku beranjak dari posisiku dan langsung masuk kedalam dan menutup jendela dan tirainya dengan rapat.
Astaghfirullah...kenapa dia masih saja membuat perasaanku seperti ini. Lagi-lagi aku teringat tentang masa lalu bersamanya, bagaimana cara menghapusnya dari hatiku ini ya Tuhan...
Kugeleng-gelengkan kepalaku berharap bisa mengusirnya dari pikiranku yang mulai menyiksaku ini.
Akupun membersihkan botol parfum yang pecah karena ulah si Tania. Kini aroma parfum mulai menguar ke seluruh ruangan dan wangi mas Devan mulai menyapaku. Ya..setelah hampir satu bulan menjadi suamiku, wangi mas Devan mulai kukenal.
Kurebahkan diriku menatap langit-langit kamarku ini. Dan setelah beberapa saat kemudian tanpa menyadarinya mataku pun terpejam...
Hingga suara ketukan pintu kamar membuatku tersentak dari tidurku..
Siapa yang mengetuk, sepertinya mas Devan belum pulang setelah kuedarkan pandanganku, ternyata hari mulai gelap. Apa ini sudah magrib? Rupanya lama juga aku terpejam tadi.
Setelah beranjak dari tempat tidur, kuraih kerudung dan berjalan menuju pintu lalu membukanya.
"Bi Sumi..?"kulihat wanita paruh baya itu menatapku dengan nanar tanpa berucap satu patah katapun.
__ADS_1
"Hu...huuuuu....." suara ibu menangis begitu menyayat hati
" Ada apa Bi? Ibu kenapa..?" aku berjalan cepat menuju suara ibu, sedangkan Bu Sumi dengan wajah panik masih diam seribu bahasa.