Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Persiapan pesta


__ADS_3

Acara seratus hari meninggalnya mas Devan berlangsung sederhana. Meski hanya pengajian Yasin tahlil yang dihadiri kerabat dekat, namun sebelumnya aku dan ibu mendatangi sebuah panti asuhan membagikan donasi makanan dan sejumlah dana, atas nama mas Devan.


Pulangnya kami berziarah ke makam mas Devan.


Hari berikutnya, saat pengajian selesai sebagian kerabat ibu pamit pulang, namun beberapa masih ingin mengobrol dengan ibu.


Seperti terpisah dua bagian, mas Ryan bersama bapak-bapak diteras dengan hidangan kecil dan tak lupa kopi menemani mereka, sementara itu kami ibu-ibu berada diruang keluarga.


" Oh iya mbak Yahyu...saya dengar-dengar akan ada pesta lagi ya dirumah ini.." tanya sepupu ibu yang kupanggil bulik Santi itu.


"Insyaallah ..minta doanya ya dek .."


"Kinan juga sudah lewati masa iddah kan..."ucap Bulik Santi lagi


"Ah ...iya, Kinan juga jadi tanggung jawabku untuk menikahkannya nanti..." ibu merengkuh tubuhku yang duduk disampingnya.


"Sebenarnya saya punya kenalan seorang pria yang ingin saya kenalkan dengan Kinan...apa boleh saya mengajaknya kesini..?"


Ibu menoleh kearahku. Akupun saling berpandangan dengan ibu.


"Ee...sebaiknya jangan dulu dek, aku baru saja menikmati rasanya mempunyai anak perempuan. Aku takut suaminya akan membawanya pergi dari rumah ini ..."ibu segera menolak rencana Bulik Santi. Rengkuhan ibu semakin erat, seakan menegaskan bahwa aku tak boleh jauh darinya.


Aku mendengus lega mendengar jawaban ibu. Bagaimanapun aku masih ingin sendiri, dan menata kembali apa yang sudah berserakan.


" Ha..ha..dek Yahyu benar-benar posesif ya..." sahut budhe Nanik


"Atau jangan-jangan mbak Yahyu sudah punya calon sendiri untuk Kinan ya .." Celetuk Bulik Santi lagi


"Yang namanya jodoh, tak ada yang tau ... doain saja ya, mungkin Kinan sudah bertemu dengan jodohnya, namun belum menyadarinya..." jawaban ibu cukup percaya diri.


"Kinan...jangan diam saja, kamu berhak menolak ibumu, dan memilih pria yang kamu sukai..."sahut budhe Nanik


Aku hanya nyengir menanggapinya.


"Kinan juga belum siap untuk berumahtangga lagi budhe..., mungkin kalau ibu sudah punya cucu dan bisa melepasku, baru akan kupikirkan lagi" ucapku kemudian

__ADS_1


Saat itu, mas Ryan lewat dihadapan kami dan berhenti saat budhe Nanik menyapanya.


"Hei Ryan...cepetan kasih ibumu ini cucu yang banyak, biar Kinan bisa bebas untuk menikah lagi..." ujar budhe Nanik sambil terkekeh.


Mendengar itu, mas Ryan menoleh kearahku. Saat tatapan kami bertemu, segera kualihkan pandanganku darinya.


"Oh gampang budhe, emangnya ibu pengen berapa cucu? tunggu sebentar ya, tak buatin dulu dibelakang..."sahut mas Ryan tersenyum jahil dan berlalu dari hadapan kami.


" Nah gitu deh jawabannya kalo disuruh nikah...aku sampai pusing dibuatnya" ibu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Oh iya mbak, calon istrinya Ryan itu masih yang dulu kan? Yang dulu selalu dia pamerin kalo sudah punya calon yang selalu dirahasiakannya itu?"


Deg..deg...jantungku mulai tak beraturan.


Ibu menoleh kearahku, dan mengusap pelan lenganku. Sementara aku hanya terdiam, ikut menanti apa yang akan ibu katakan.


"Hmm...jodoh kan ditangan Allah, kalo kujawab tidak, ternyata iya, kalo kujawab iya ternyata tidak...gimana hayo.."jawaban ibu sungguh yang diplomatis itu sangat ampuh membungkam pertanyaan yang membuatku tak nyaman.


Obrolan itu akhirnya berakhir setelah jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam.


Sebenarnya ada alasan lain, biar mereka lebih leluasa membicarakan rencana pernikahan mas Ryan dan Adel.


Dan benar juga selama satu Minggu mereka berada disana, rupanya membawa hasil tentang pernikahan yang rencananya digelar pada akhir bulan depan.


Ibu pulang bersama pak Didik dan membawa beberapa hasil kebun yang ditanamnya dibelakang rumah.


Bi Sumi menerima oleh-oleh itu dengan sangat senang.


"Umbi-umbian ini enak sekali Lo mbak, disini mana ada yang seperti ini..." ujar Bu Sumi semangat, seakan menemukan harta karun yang ingin dikuasainya sendiri.


"Wah benarkah? Kalau gitu nanti kalau udah matang sisain buat Kinan juga ya bi ,sepertinya Bu Sumi berencana menghabiskan semuanya...he..he.." aku tertawa melihat Bu Sumi salah tingkah


"Ah iya mbak, tentu saja semua kebagian..." sahut Bu Sumi nyengir padaku.


Sore itu, ibu sibuk memilah-milah contoh bahan kebaya diruang tamu.

__ADS_1


"Kinan kemarilah...ayo bantu ibu memilih warna yang cocok untuk kita nanti..."


Aku senang ibu melibatkanku pada acara keluarga ini, seakan melupakan cerita masa laluku dengan mas Ryan. Tentu saja aku merasa lebih nyaman seakan-akan aku memang murni kakak ipar yang membantu acara adek iparnya tanpa ada embel-embel mantan.


Akupun mengikuti ibu, menyamankan diri duduk dikarpet depan televisi. Beberapa sampel bahan tersebar ditempat itu.


"Ibu..apa Adel tidak ikut memilihnya? Nanti kalau seleranya berbeda bagaimana?"ucapku sambil memilah sampel itu.


"Dia tak sempat berfikir tentang ini, Kinan. Masih banyak yang harus dipersiapkannya...hei.. sebenarnya ibu sangat menyukainya" ibu mengangkat bahan yang disukainya.


"Bagus sekali Bu...Kinan setuju "aku juga tertarik pada motif itu


"Tapi ..ini kan ungu...nanti mereka kira, gara-gara kita janda jadi memilih warna ini..."wajah ibu yang cemberut membuatku tertawa lebar.


"Memangnya kenapa kalau seorang janda memakai warna ungu Bu? Padahal cantik banget loh... bukankah ini pesta kita, jadi kita yang harus merasa senang, bagaimana kalau kita singkirkan apa yang orang pikirkan?"


Aku berusaha memberi ibu semangat, agar tetap pada pilihannya itu. Dan sepertinya wajah cemberut ibupun berubah jadi berbinar.


"Ya..ya ..benar Kinan, ini pesta kita...kita pilih ini, trus satu lagi untuk acara malam harinya yang mana ya..."


"Kalau ini bagaimana Bu?" kuperlihatkan warna Salem yang lembut itu pada ibu


" Hmm..baiklah, kebetulan sesuai dengan tema pelaminannya.."


Warna broklat yang kupilih tadi mengingatkan aku pada kebaya modern yang seharusnya kupakai pada pesta pernikahanku bersama mas Devan. Warna yang serasi dengan jas yang akan dikenakan mas Devan. Dan semua itu masih kusimpan dengan rapi, berharap suatu hari saat aku bertemu dengan jodohku, aku akan kembali memakainya.


"Oh iya Kinan... beberapa hari yang lalu, kami semua sudah ukur baju ditempat langganan ibu, hanya kamu yang belum...maukah kamu kesana sambil menyerahkan warna kebaya yang kita pilih ini?"


" Iya Bu, pak Joko tau alamatnya kan?"


"Iya...tau sih, tapi pak Joko harus mengantar ibu ke WO Tante Lusi, ibu takut nggak kebagian hari, soalnya WO nya laris banget. Kamu sama Ryan aja ya? Nggak papa kan? Dia juga belum ukur jas, karena waktu itu belum ketemu desainer jasnya ..."


Meski ingin menolaknya, namun aku tak punya alasan dan pasti terkesan tidak sewajarnya.


"Baiklah, jadi kapan kami harus berangkat?"

__ADS_1


" Besok rencananya Ryan pulang, jadi mungkin besok siang kalian bisa berangkat.."


__ADS_2