
Usai doa dilantunkan, kami menandatangani buku nikah, setelah itu ibu menghampiri kami dan menyerahkan sepasang cincin pada mas Ryan.
Sebuah cincin sederhana dengan balutan motif perak dan emas sangat indah disematkan ke jari manisku. Pas sekali..setelah itu gantian aku yang memasangkan cincin untuk suami baruku itu.
Kucium punggung tangannya sebagai tanda patuhku padanya, dan diapun dengan pelan mengecup keningku menyalurkan rasa sayangnya yang selama ini selalu kuingkari. Buliran air mata lolos dari sudut mataku.
" Semoga ini air mata kebahagiaan.." ucap mas Ryan saat mengusap air mata yang mengalir kepipiku.
Akupun hanya bisa mengangguk kecil dan tersenyum padanya.
Suara tepuk tangan membuatku tersipu. Dan kini mas Ryan menautkan jemarinya dan menggenggam erat tanganku.
"Selamat saya ucapkan, semoga selalu sakinah mawadah warahmah sampai ujung usia, dikaruniai keturunan yang Sholih Sholihah dan membawa berkah bagi keluarga besar kalian. Amin" ucap pak penghulu itu sebelum mohon pamit karena ada pengantin lain yang harus diijabkan juga.
Semua undangan yang hanya terdiri dari kerabat dekat dan para karyawan pabrik dipersilahkan untuk menikmati sajian yang telah disediakan.
Suara alunan lagu nostalgia yang dinyanyikan oleh kelompok musik dari WO meramaikan suasana.
Dan kami dalam satu meja besar, aku , mas Ryan , ibu, Tania, Adel, Fadhil dan pak Agung beserta istrinya.
Dan mengapa aku jadi sangat malu saat mas Ryan melayaniku mengambil makanan. Terus terang saat ini aku masih tak percaya dengan kenyataan bahwa aku telah menikah dengan pria yang selama ini mengisi hatiku.
Seperti orang linglung aku tak mampu berpikir apa yang harus kulakukan.
" Makanlah...kamu terlihat pucat, apa kamu sakit hmmm...aku suapi ya.."bisik mas Ryan sambil mengusap punggung tanganku.
" Eh..jangan, biar aku makan sendiri...aku...hanya masih syok aja..."ucapku kemudian
"Ada apa Kinan... sepertinya kamu lelah... Apa kamu ingin istirahat dikamar?" ujar ibu
" Nggak papa Bu, mungkin karena efek datang bulan..."bisikku pada ibu. Bagaimanapun aku memang tak berbohong, semua yang terjadi secara dadakan ini membuat haidku terasa keluar sangat banyak hingga aku merasa lelah...
" Ryan ... Kinan sedang datang bulan, nanti kamu nggak boleh memarahinya Lo..." suara ibu yang mengancam putranya itu membuat semua orang yang disana tertawa.
Sedangkan aku semakin malu dengan maksud ibu itu.
" Mending malam ini Kinan tetep tidur bersamaku aja..Tante" celetuk Tania sambil menahan tawa.
" Hei ..nggak bisa!! Kalian tenang aja, susah payah aku mendapatkannya, mana mungkin aku akan menyakitinya..."ucapnya tegas.
"Heleh dasar pengantin baru...eh Kinan , aku belum minta maaf karena menyembunyikan semua ini darimu..maafin aku ya..."ucap Tania dengan tulus
__ADS_1
" Hhh...rasanya aku ingin pingsan, pantas saja kadang aku merasakan hal ganjil yang terjadi akhir-akhir ini.."ucapku
"Maafkan ibu Kinan, ibu harus melakukan hal ini ... ibu takut kamu tak setuju dan semakin menjauh dari kami..."ucap ibu
" Saat inipun Kinan masih bingung dan tak bisa berpikir...Bu..."
" Nggak papa Kinan ... yang penting sekarang ibu lega, telah berhasil menyatukan kalian kembali...lagipula bila kamu menikah dengan pria lain pasti suamimu akan membawamu pergi, kalau sekarang aman, Ryan tak akan berani mengajakmu pergi jauh dari ibu..he..he"
" CK..ibu ini, lalu sekarang siapa yang anak siapa yang menantu nih...yang jelas dong!" ledek mas Ryan pada ibu angkatnya itu
" Kalian berdua sama-sama anakku, jadi nggak usah berpikir ribet deh..."
Semua tergelak, melihat drama ibu dan anak yang selalu ramai itu.
" Bagaimanapun...aku berhutang budi pada kalian semua...terima kasih telah membantuku mendapatkan wanita yang selalu kusebut dalam doaku ini..." tangan mas Ryan mencubit hidung kecilku.
"Mas Ryan ... kalau kamu merasa begitu, ajaklah kami liburan sekalian menemani bulan madu kalian..." celetuk Tania
"Hmm...ide bagus, bagaimana kalau kalian merencanakan liburan beberapa hari, ...biarkan kami dirumah dan menikmati waktu tanpa kalian .." sahut mas Ryan terkekeh.
Setelah istirahat sesi foto dimulai, sungguh aku tak tau bagaimana ekspresi ku saat ini. Serasa hatiku terus mengembang ingin meledak saja. Orang yang selalu memenuhi pikiranku ,kini terasa nyata dan aku benar-benar bisa merasakan sentuhannya.
"Kinan...aku mencintaimu.." bisikan-bisikan mesra ditelinga ku membuat hatiku berdesir tak mampu berkata-kata.
" Mas..apa kamu ingin membuatku pingsan?" aku masih saja bersandar didadanya saat fotografer mengarahkan kameranya.
Dia pun terkekeh...sambil mempererat pelukannya.
Ternyata acara ambil moment saja, benar-benar menguras tenaga. Dan dilanjutkan dengan tamu-tamu yang bergantian mengucapkan selamat membuat rasa lelahku terkumpul jadi satu.
" Kinan...istirahatlah, aku antar kedalam ya..." ucap mas Ryan dengan nada khawatir.
" Tapi aku tak enak dengan ibu...masih banyak tamu yang baru datang..."
" Jangan pikirkan itu, biar aku yang menemui mereka nanti...ayo kuantar kedalam...kugendong ya, kamu kok tambah pucat..."
Waktu seakan berlalu begitu lambat, kepalaku semakin lama semakin berdenyut dan membuatku berulang kali memejamkan mata untuk mempertahankan kesadaran ku.
"Baiklah antar masuk yuk...tapi aku jalan aja..."bisikku padanya.
Akhirnya aku menyerah dan mohon diri dari tamu yang ada disekitarku, meski banyak suara menggoda yang bersahutan saat mas Ryan menggandeng tanganku meninggalkan keramaian itu.
__ADS_1
" Eh...mau kemana?" tanya mas Ryan saat aku melangkahkan kaki kearah kamarku.
" Bajuku kan..."
" Sudah dipindahkan dikamar kita, Yang..." diapun menarikku agar mengikuti langkahnya.
Dengan wajah yang terasa panas, kuikuti langkahnya menuju kamarnya...eh...kamar kami...
Saat masuk kamar, harum bunga segar seketika tercium olehku. Setiap sudut ruangan ini terlihat sangat indah berhiaskan bunga-bunga seperti taman pada musim semi.
Aku tersenyum melihat sprei yang telah kupilih kemarin, sekarang sudah rapi terhampar dengan kelopak bunga yang bertebaran disana.
" Apa kita bisa tidur nyenyak dengan semua ini?" mas Ryan mengedarkan pandangannya, sepertinya dia juga baru masuk pertama kali dikamarnya ini.
Lalu dia menoleh ke arah meja, yang sudah tersedia air putih disana.
Aku berdiri didekat meja rias dan mulai membuka aksesoris yang kupakai.
"Minumlah ..." dia membantuku minum karena kedua tanganku masih penuh dengan barang-barang yang sudah terlepas dari bajuku.
"Terima kasih..." aku mendongak dan tersenyum padanya.
Sesaat mata kami bertemu, tatapan sendu itu seperti hipnotis.
Sentuhan lembut dipipiku, membuatku larut. Dan saat kecupan dibibirku terjadi, seakan duniaku terhenti. Ciuman pertama dengan orang yang begitu kurindukan terasa sangat manis..
" Mmm..kamu manis sekali, kekasihku..."
Wajahku kembali memanas.
"Mas...aku takut, semua ini hanya mimpi...aku masih belum percaya kita bisa kembali seperti dulu..."
Mas Ryan menarikku dengan lembut dalam pelukannya.
" Kita tak kembali seperti dulu Kinan...kita ada untuk masa depan, dulu aku nggak berani memelukmu seperti ini kan...mulai kini kamu milikku .... dan aku tak akan pernah melepasmu lagi..."
Akupun membalas pelukan itu dan mulai terisak didadanya.
" Kinan...maafkan aku, selama ini selalu membuatmu sedih... sekarang kamu istriku, kamu boleh memukulku bila aku mulai bandel .." ucapnya sambil melepas pelukannya dan mengusap air mata dipipiku.
Akupun tertawa kecil mendengar ucapannya. Dengan pelan kupukul dadanya itu...
__ADS_1
" Sekarang istirahatlah dulu, akan kupanggil mbak Tya untuk membantumu melepas ini...sebenarnya aku juga bisa, tapi baru beberapa menit disini, pikiranku sudah mulai kotor nih...."pria yang baru saja jadi suamiku itu tersenyum simpul.
Hhh...kenapa aku bisa jatuh hati pada pria tengil itu.