Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Kekhawatiran ibu


__ADS_3

Beberapa hari ini entah kenapa, aku merasa begitu lelah. Mungkin aktivitasku menjalankan bisnis online tanpa bantuan orang lain, dan custumer semakin banyak, membuat tenagaku terkuras habis. Kurasa aku harus mulai memikirkan mencari beberapa orang untuk membantuku.


Namun karena aku sudah berjanji pada ibu, setelah baju dari butik datang, aku akan menyusul ke pekerbunan.


Acara besar Minggu depan itu menjadi prioritas ku, sehingga mulai kemarin aku sudah melakukan close order. Dan hari ini aku harus bisa menyelesaikan semua pesanan dan mengirimnya.


Setelah semua tanggunganku selesai, akupun segera membuat janji dengan Tania. Karena sahabatku yang konyol itu kembali merengek ikut denganku, meski aku sudah menjelaskan padanya bahwa setidaknya aku berada disana satu Minggu, apa dia tak dimarahi mertuanya.


"Tenang aja deh Kinan, mertuaku itu.. membebaskan aku melakukan apapun asal tak membahayakan kedua cucunya ini..." ucap Tania, setelah berulang kali kuperingatkan.


Hari sudah menjelang malam, saat Tania datang kerumah diantar oleh supirnya. Dan rencananya besok pagi kami semua berangkat dengan pak supirnya itu, sehingga pak Joko yang sudah beberapa hari dipekerbunan tak perlu menjemput kami.


Saat ini dia sedang duduk disofa kamarku dan melihatku berbenah menyiapkan semua barang yang harus kubawa besok pagi.


"Kalau gitu nanti disana kamu nggak boleh capek Lo ya...jangan sampai aku dilabrak suamimu karena membuatmu kecapekan..."


" Iya...bawel...lagian jangan khawatir deh, aku nggak akan membiarkan siapapun menyakiti sahabatku ini...kalau suamiku berniat melabrakmu, dia akan menghadapi ku lebih dulu" Tania mencubit pipiku dengan gemas.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan padanya...?


"Tentu saja menyeretnya kekamar dan bertempur habis-habisan..ha..ha..."


Tania tertawa lebar dan aku tahu apa yang dia maksudkan. Dasar si otak mesum...


Malam itu kami berdua mengobrol sampai larut malam. Dan celotehannya itu pasti akan membuatku kangen bila kami telah berjarak untuk waktu yang lama.


Keesokan paginya, Tania masih membersihkan diri, saat aku dan Bi Sumi menyiapkan sarapan.


Tak lupa kusuguhkan kopi pada pria paruh baya yang menjadi supir Tania itu.


Setelah itu kami semua sarapan pagi bersama, satu meja dengan Tania Bu Sumi dan pak supir, suasana begitu ramai gara-gara banyolan si Tania.

__ADS_1


Pukul sembilan pagi kami berempat sudah berada dalam mobil dan siap melakukan perjalanan.


Dan karena hari kerja, tentu saja ada beberapa titik yang menghambat perjalanan kami karena kemacetan.


Apalagi pak supir belum tau arah dan aku maupun Bi Sumi yang pernah kesana namun tak begitu ingat, apalagi dulu waktu dalam perjalanan aku memang tertidur. Akhirnya ibu share lokasi dan kami hanya mengandalkan ponsel untuk sampai disana.


Perjalanan yang biasanya hanya dua jam akhirnya kami tempuh hingga tiga jam lamanya.


Ibu sudah menunggu kami diteras dan tergopoh-gopoh menghampiri saat mobil kami berhenti tepat dihalaman.


Tania yang baru pertama kali kesini, mengedarkan pandangan dan mengagumi pemandangan yang begitu hijau dan rindang. Meski waktu sudah tengah hari namun masih saja terasa sejuk dengan angin sepoi-sepoi yang masih setia menggoyangkan dedaunan.


"Akhirnya kalian sampai juga...ibu sampai khawatir kalian kenapa-kenapa..."ibu menyambut kami dengan tatapan lega.


Aku dan Tania bergantian mencium tangan ibu.


Kemudian ibu menggiring kami masuk kerumah itu.


"Hei Kinan...rumah ini ada hantunya nggak? Modelnya jaman Belanda yak..."


" Idiiih....jangan nakutin gitu dong ah..."Tania mencengkeram lenganku.


Sebenarnya ibu sudah menyiapkan makan siang, namun Tania memilih untuk istirahat dan gara-gara ulahku menakutinya, sekarang aku harus menemaninya istirahat dikamarku.


Saat Tania sudah terlelap dalam mimpinya, aku keluar dari kamar dan menemui ibu diruang keluarga.


"Hai Kinan kemarilah .." panggil ibu saat melihatku dan menepuk sofa agar aku duduk disampingnya.


Akupun menjatuhkan diri disamping ibu.


"Apa kamu sudah mencoba kebayamu?"

__ADS_1


"Sudah Bu, sangat cantik...tapi sepertinya terlalu mewah Bu, aku jadi tak percaya diri memakainya..."


" Kenapa tak percaya diri hmmm...? Bagaimana kalau kita beli perhiasan agar kamu jadi percaya diri diacara nanti..."


"Eh bukan itu maksud Kinan Bu, Kinan hanya merasa seperti masih seorang gadis..."sahutku pada ibu. Sebenarnya saat aku mencoba kebaya itu, aku merasa sebagai seorang gadis yang menunggu lamaran kekasihnya.


"Ah..seperti itu..emang kamu kan kembali gadis Kinan, siapa tau ada jodoh kamu diacara nanti...bila itu terjadi, ibu ikhlas melepaskanmu , ibu hanya berharap kamu akan sering mengunjungi ibu kelak..." ibu tersenyum penuh arti.


"Ibu jangan begitu dong, Kinan masih ingin bersama ibu dulu..."akupun bergelayut dilengan ibu


"Hhh...kamu ini..." ibu mengusap kepalaku dengan sayang


"Oh iya Bu, bagaimana konsep pernikahan nanti? Apa ada yang bisa Kinan bantu..."


"Semua sudah diatur WO jadi kita sama sekali tidak perlu memikirkannya...nanti semua diadakan disini, dari ijab sampai resepsi karena konsepnya pesta kebun, jadi lokasi halaman rumah ini yang sesuai..."


" Wah pasti sangat meriah ya..."


"Tentu saja, semoga acara nanti berjaan dengan lancar ya...ibu masih khawatir bila sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.."


Kulihat ibu sangat mengkhawatirkan sesuatu. Apakah ibu takut Adel membatalkan pernikahan ini, gara-gara aku? Kurasa aku harus bertemu Adel dan bicara empat mata dengannya.


"Ibu...jangan negatif thinking gitu dong, semua juga akan mengalami perasaan seperti itu, saat merencanakan sesuatu yang besar...Kinan juga akan sholat hajat, agar semua berjalan lancar..jadi hilangkan semua kekhawatiran itu ya..."


" Ah iya... terima kasih Kinan, kamu mengingatkan ibu untuk sholat hajat...kamu memang yang terbaik..."ibu mengecup kepalaku.


Beberapa saat kemudian Bu Rismi menghampiri kami, karena ada mandor perkebunan yang ingin bertemu dengan ibu.


Dan ibupun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju teras untuk menemui mandor itu.


Kusandarkan tubuhku pada sofa dan menerawang kelangit-langit. Aku jadi bertanya-tanya, dimana mas Ryan. Kenapa mandor membicarakan masalah perkebunan dengan ibu, bukankah dia juga berada disini?

__ADS_1


Tapi biasanya waktu makan siang dia selalu makan siang dirumah, kenapa hari ini tidak ya...Ah sudahlah, kenapa aku harus memikirkannya. Bahkan untuk bertanyapun aku tak mampu, aku takut ibu mengartikan lain. Jangan sampai ibu berpikiran bahwa aku masih menyimpan rasa padanya, karena itu akan menambah masalah menjadi tambah besar. Biarlah aku terdiam, dan membiarkan penasaran yang dari tadi menyerangku. Semoga nanti ibu sendiri yang bercerita dimana si calon pengantin pria itu.


Kucubit punggung tanganku untuk menyadarkan ku supaya tak merindukannya. Ya Tuhan tolong bantu aku melupakan pria yang sudah menjadi milik wanita lain itu.


__ADS_2