
Dengan menahan rasa nyeri yang menyerangku, aku berjalan tertatih membuka tas ransel yang kubawa dari rumah ibu. Kukeluarkan semua isinya. Nihil..obat nyeri itu ketinggalan dirumah ibu. Kuraih jaket dan kerudung,berniat membeli obat ke apotek terdekat, namun rasa nyeri kembali lebih menyakitkan. Membuatku hanya bisa mengatur nafas, mendekap perutku diruang tamu.
Kurasa tak mungkin aku pergi dalam kondisi seperti ini. Keringat dingin menyerang lagi, dan tubuhku mulai menggigil. Kini aku hanya bisa meringkuk dikursi panjang sambil berfikir apa yang harus kulakukan.
Akhirnya kuputuskan untuk menelfon pak Joko, mungkin bisa membawakan ku obat dari rumah ibu. Kuraih ponsel yang ada didalam tas kecilku, langsung kuhubungi nomor pak Joko ...
Dua kali panggilan tidak terjawab, apa mungkin sudah tidur karena hampir pukul sepuluh malam.
Tak sadar aku menekan tombol nomor kontak mas Ryan.
"Assalamualaikum..Kinan .."suara dari seberang membuatku terkejut.
Kugigit bibirku menahan sakit, tak kusangka panggilanku yang tak sengaja itu langsung dijawabnya.
"Waalaikum salam, ee...apa pak Joko sudah tidur? Tadi aku menelfonnya tidak ada jawaban..."kutahan suaraku sebiasa mungkin.
"Sebentar kulihat kamarnya..kamu perlu sesuatu?"
Aku malah jadi bingung menjawabnya, kalo terus terang pasti dia yang akan mengantarkannya kesini.
" Nggak...nanti titip pesan aja kalo ketemu pak Joko ..besok kalo sempat biar mampir kerumahku dan membawa obatku yang dilemari es lupa aku bawa.."jawabku berusaha menutupi suaraku yang tertahan karena perutku terasa diremas-remas dari dalam..
" Udah itu aja, terima kasih.. assalamualaikum.." segera kututup panggilan itu dan kulempar ponsel kedalam tas dengan asal.
__ADS_1
Mungkin bila aku tidur, sakitnya berkurang. Kucoba memejamkan mata, namun sulit sekali. Seandainya ayah dan ibuku masih ada, mereka pasti merawatku dan tak akan sesakit ini....air mataku kembali membasahi pipi ini.
Jangan Kinan, jangan berharap yang mustahil terjadi. Kamu wanita dewasa yang mandiri..ayo Kinan jangan menyerah, bertahanlah sampai akhir...
Perlahan tapi pasti, aku bangkit meraih tas kecilku dan berjalan tertatih menuju teras. Kupesan taxi online lalu kukunci pintu rumahku.
Aku berjalan ke halaman dan bersandar dipohon pinggir jalan sambil menunggu taxi online datang.
Selang beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti didepanku.
Seorang pria keluar dari mobil itu , pria yang sangat kukenal ...
Kulihat kembali ponselku, masa mas Ryan yang jadi driver taxi online? batinku penuh tanda tanya. Namun tertera diponsel ternyata driver itu bernama Agus yang seharusnya menjemputku.
"Ngapain kamu diluar malam-malam gini?"tanya mas Ryan menghampiriku
Bukannya menjawab dia malah merebut ponsel dari tanganku dan mengcancel taxi yang kupesan.
"Eh...jangan dicancel dong..."protesku
"Kamu mau kemana? Ayo kuantar..." sahutnya sambil mengembalikan ponsel ketanganku lalu berbalik dan membukakan pintu mobilnya untukku.
"CK.." aku hanya mengeluh dan berjalan dengan pelan. Baru tiga langkah aku berhenti dan menghela nafas saat nyeri kembali menyerang.
__ADS_1
" Kamu sakit..." ucapnya menghampiriku kembali dan menuntunku sampai masuk kedalam mobil.
"Tolong..antar kerumah sakit .."ucapku tertahan
Akupun masuk kedalam dengan diam.
Setelah mobil melaju, mas Ryan terlihat khawatir dan berulang kali menoleh kearahku.
"Aku membawakanmu obat yang kamu maksud, apa mau diminum dulu?"
" Tidak .. usah..." suaraku seakan hilang dan tubuhku mulai tak berdaya.
" Bertahanlah ...Kinan ..."kudengar suaranya semakin panik.
Nafasku terasa sesak, seakan oksigen tak mampu masuk dalam paru-paru ku meski aku telah berusaha menghelanya. Semakin lama semakin berat.
Kulihat lampu-lampu jalanan yang kulalui mulai pudar dari pandangan ku.
"Kinan...CK...kenapa sampai seperti ini...!!!"
Hanya air mata yang meleleh dipipiku menanggapinya.
" Ma..af..." akhirnya kata itu berhasil kuucapkan.
__ADS_1
" Kinan!! Tetap bersamaku...jangan tidur...Kinan...!!" suara itu makin lama makin menghilang.
Seluruh tubuhku mati rasa.