Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Bukan akhir namun awal dari segalanya


__ADS_3

Suasana makan pagi yang hanya ada dua pasang suami istri itu menjadi ramai, saat Tania yang mulai memamerkan sifat manjanya pada kami. Aku yang melihatnya malah lebih malu dibanding dia yang melakukannya.


"Yaaang... dilihatin pengantin baru tuh.." ucap Dion suaminya Tania saat mereka saling suap.


" Ups..maaf, lagi kangen banget nih...he..he.." dengan santainya Tania bersandar dibahu suaminya dengan manja.


" Apa sejak hamil dia jadi begitu...?" tanya mas Ryan pada Dion dengan nada datar.


" Dari awal dia sudah manja sih...tapi sejak hamil ya dua kali lipat gini deh..." Dion terkekeh, sepertinya dia menikmati kemanjaan istrinya itu.


"Hmm...gitu ya, kalian ini membuatku ingin segera membawa Kinan masuk kamar..." sahut mas Ryan enteng.


Mendengar itu, kucubit lengannya dengan gemas, diiringi gelak tawa Dion dan Tania.


Setelah makan pagi, Dion dan Tania berpamitan.


" Kinan...sekali lagi selamat ya, aku ikut lega kalian bersama lagi..."


"Terima kasih Tania..." akupun memeluk ibu hamil itu.


" Mas Ryan...titip Kinan, dia tuh barang antik jadi jangan sampai retak ya..."ucap Tania


" Beres deh garansi resmi seumur hidup..." jawab mas Ryan yang melingkarkan lengannya dipinggangku.


Kami melambaikan tangan mengiringi kepergian mobil mereka.


" Mas ... kapan kita pulang...?"tanyaku merengek.


"Kenapa?"


"Aku ingin kemakam..."


"Ingin curhat ya..."mas Ryan mengusap kepalaku


" Bagaimanapun aku ingin cerita sama ayah, bahwa kamu telah kembali .."


"Baiklah...besok kita pulang, sekalian ke makam mas Devan ya..aku juga belum lapor telah mengambil alih tempatnya disisimu..."


Keesokan harinya kami bertolak menuju kota. Ibu terpaksa tinggal lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaan. Pak Joko dan Bu Sumi juga ikut pulang bersama kami.


Setelah sampai rumah, kami semua kerja bakti membersihkan rumah setelah beberapa hari tak ada yang menempati.


Termasuk memindahkan barang-barangku ke kamar mas Ryan, sedangkan peralatan kerjanya dipindahkan kekamar lain yang kosong.


Hari itu benar-benar melelahkan,namun kami puas dengan hasilnya. Seakan pindah kerumah baru, karena kami juga memindahkan beberapa perabotan untuk merubah suasana. Dan tiba-tiba dua orang datang membawa wallpaper dan perlengkapan untuk memasangnya. Ternyata mas Ryan telah memesan jasa pemasangan wallpaper hari itu. Jadilah semua ruangan yang kami renovasi dadakan itu tampak lebih hidup.


Bagaimanapun kami akan memulai hidup yang baru, jadi inilah langkah awal kami.


Keesokan paginya kami pergi kemakam ayah dan mas Devan.


Dua orang yang memberi arti dalam hidupku. Ayah yang selalu mencurahkan kasih sayangnya sampai akhir hidupnya. Mas Devan yang memberi pelajaran tentang keikhlasan menerima takdir.


Kini seorang pria telah berjanji akan selalu melengkapi hidupku.


Setelah doa kami panjatkan, kulihat pria itu berhadapan denganku sedang membersihkan makam mas Devan dengan beberapa kali kudengar helaan nafasnya. Seakan dia mencurahkan rasa sayang pada kakaknya, pandangan matanya menjadi teduh, saat mengusap pusara dihadapan kami itu.


Menyadari aku memperhatikannya, diapun menoleh dan menatapku.


" Mas Devan...lihatlah wanita cantik didepanku itu...kamu pasti setuju kan bila aku menyebutnya istimewa.. " ucapnya seolah sedang mengobrol dengan kakaknya


Aku menipiskan bibir mendengarnya.


" Aku iri padamu mas, kamu dengan mudah mendapatkannya, sedangkan aku harus jatuh bangun bertahun-tahun agar bisa membawanya kedepan penghulu..." dia menarik ujung bibirnya.


"Adekmu itu menjebakku mas..." sahutku curhat.


"Yeah...habisnya aku gemas sekali padanya, hampir saja aku bersanding dengan wanita lain...padahal dia tahu aku begitu mencintainya..."

__ADS_1


Blussh....aku semakin tenggelam karena gombalan recehnya.


"Aku akan selalu menjaga istri kita itu mas..."ucapnya terkekeh.


Sontak aku terbelalak mendengarnya, ucapannya itu membuatku merasa seakan punya dua suami. Dengan sebal kulempar dia dengan bunga tabur yang ada didepanku...


Mas Ryan tergelak sambil beranjak dari tempatnya lalu meraih tanganku dan mengajakku pulang karena sinar matahari mulai menyengat.


Sore itu ada undangan pengajian bapak-bapak ditetangga. Mas Ryan dan pak Joko pun menghadirinya.


Sementara itu, setelah sholat Isya aku menemani Bu Sumi menonton sinetron yang baru jadi trending topik, gara-gara kedua pemeran utamanya bikin baper dari ibu muda sampai setara bi Sumi ikut hanyut dalam ceritanya.


Suara dering ponsel membuatku bangkit dan berpindah tempat kesofa yang ada didalam kamar.


"Assalamualaikum ...Tania..."


"Waalaikum salam...pengantin baru, eh gimana malam pertamanya ? dah sukses belum? harusnya sudah selesai dong haidmu..."


" Heh...kamu menghubungiku hanya untuk menanyakan itu?"


"Ya iyalah...kepo nih. Jangan bilang kalo kamu masih haid? Mas Ryan sih bisa dibohongin, tapi aku nggak loh..he..he.."


" Kamu nih apaan sih, aku nggak bohong padanya kok...lagian kamu kan dah pernah mengalaminya jadi mau cerita gimana lagi, ya gitu kan..." ucapku mencoba mengelak dari pertanyaannya.


Kamipun melanjutkan obrolan receh dan nggak penting itu sampai lama. Hingga mas Ryan sudah masuk kamar dan melihat kegiatanku sambil melipat sarung lalu mengembalikan ketempatnya. Aku hanya melihatnya sekilas dan melanjutkan tawa bersama Tania yang sedang menceritakan hal-hal absurb dikeluarga besarnya.


Mas Ryan mendudukkan diri disofa sebelahku.Meski hanya diam dia terus menatapku. Namun aku masih saja asyik dengan Tania, hanya telapak tangannya saja yang kuraih lalu kucium sekilas.


Mungkin karena sebal aku tak menggubrisnya, dia mulai membuka kerudung instan yang saat itu masih kupakai dan meletakkannya disandaran sofa. Menyibakkan rambutku dan menciumi leherku, tentu saja aku mulai terusik dan merinding dibuatnya. Kugigit bibir bawahku agar tak mengerang, saat tangannya masuk kebajuku dan meraba apapun yang ada disana.


" Kita lihat sampai kapan kamu bisa menahannya.." bisiknya ditelinga ku.


Detak jantungku mulai tak beraturan saat dia mencumbuku habis-habisan. Mataku terpejam dan tanganku terkulai dengan ponsel masih ditanganku.


Mas Ryan mengambilnya dan menjawab Tania.


"Hah...?"


" Proyek bikin bayi... wasallam" dilemparkan ponsel itu.


Aku yang masih menata nafasku akibat perlakuannya itu, tak mampu berkata-kata mendengar hal itu.


” Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna...."dengan tegas mas Ryan mengucapkan lafal itu seraya mengangkat tubuhku dari sofa menuju tempat tidur.


"A..apa..itu?" aku tak paham dengan doa yang diucapkannya


Senyumnya mengembang menatapku.


" Doa sebelum menggauli istri...agar setan tak mengganggu dan anak yang akan kita usahakan ini Sholih Sholihah ..." tatapannya begitu lembut menghujam ke hatiku.


Tunggu...bukankah aku harus mengatakan sesuatu.


Dia kembali menciumi wajahku, kembali menghilangkan kesadaran ku. Di sisa-sisa kesadaran yang kupunya aku berusaha berbicara.


" Mas...tu..tunggu sebentar..."


" Hmm..."


" Biarkan aku bicara...."


" Nanti ya..."dia masih saja mencumbu mengalirkan sengatan listrik keseluruh tubuhku.


" Harus se..karang..." nafasku masih tersengal-sengal dibuatnya.


Dia menjauhkan wajahnya dan menatapku dengan heran.


" Harus penting Lo... dia yang dibawah, sudah mulai ribut tuh..." ucapnya sambil memainkan matanya agar aku melihat kebawah.

__ADS_1


Mataku terbelalak melihat sesuatu yang menonjol itu. Tubuhku mulai mengecil karena malu bukan main.


Suara tawa terdengar dari mulutnya yang usil itu.


" Jangan takut dong, itu juga milikmu sayang..kamu harus memeliharanya dengan baik ya...sekarang hal penting apa yang tega menghentikan niat baik kita hmm..."


" A..ku ingin kamu tahu..bahwa..." rasa takut mulai menyerangku, mataku tak sanggup menatapnya.


Diraihnya telapak tanganku dan digenggamnya dengan erat.


" Dingin sekali, apa yang kamu takutkan .."dahinya berkerut menatapku dengan cemas.


" Maaf mas...mungkin aku memang wanita yang aneh, aku terima apapun yang kamu pikirkan tentang ini..."


"Kinan...tenanglah, bukankah kita sudah saling menerima, jadi aku tak akan mempermasalahkan apapun yang ada dalam dirimu. Bagiku kamu tetap yang terbaik daripada siapapun..."


" Mas..Devan... itu..."


" CK..apa kamu merasa kasihan padaku karena mendapatkan sisa dari kakakku itu?" suaranya sedikit kesal


" Bukan mas...justru mas Devan tak pernah menyentuhku..."


" Apa!!" suaranya tertahan


Tatapannya sangat tajam, membuatku semakin bergetar hebat.


Detik kemudian seakan tahu keadaanku, dia segera menarikku dalam pelukannya.


" Maaf Kinan, aku hanya syok mendengar nya..."ucapnya sambil mencium puncak kepalaku cukup lama.


" A..apa hubungan kalian ada masalah?"tanya mas Ryan lagi


" Tidak mas...kami hanya masih terjebak oleh masa lalu masing-masing, dan pernikahan itu begitu mendadak sehingga aku belum bisa menerimanya begitu saja, dan diapun mengerti..."


" Maaf telah membuatku menderita Kinan, aku sama sekali tak menyangka kalian seperti itu...apa mas Devan bersikap kasar padamu?"


" Mas Devan sangat baik, dia menghargaiku, mengajakku berteman dan memulai dari awal. Saat aku mulai bertekad mengabdikan diri padanya, Allah telah memanggilnya..itulah yang membuatku sangat menyesal, merasa menjadi istri yang durhaka..."kuusap airmata yang mulai mengalir tak dapat kukendalikan lagi.


Mas Ryan menangkupkan kedua telapak tangannya kepipiku, dan mengecup keningku sekilas...


"Mas Devan memang sangat baik, bahkan dia menjagaku seperti adik kandungnya sendiri... dan sekarang aku tahu dia juga menjaga istriku dengan baik...mungkin dia tau bahwa kamu begitu mencintai mantanmu ini..." Mas Ryan tersenyum padaku penuh arti.


" Apa aku wanita yang aneh...?"


" Tentu saja.."


" Eh..."


" Bagaimana kamu bisa mengelak dari rayuan suamimu itu, sementara baru separo tubuhmu kusentuh kamu sudah melayang seperti ini hmm..." dengan pelan dia kembali mencumbuku, dan aku benci reaksi tubuh yang berlebihan saat menerima perlakuannya itu.


Dan semuanya akhirnya terjadi. Dua insan telah kembali bersatu, membawa kenangan dari masa lalu yang begitu rumit.


" Terima kasih telah menjadikanku yang pertama bagimu Kinan..." dia masih saja memelukku setelah adegan panas kami berakhir.


Rasa lelah membuatku hampir terlelap, mungkin juga karena malam telah larut.


" Berterimakasih lah pada mas Devan ... " gumanku dengan mata terpejam.


" Ah iya betul juga, dia memang abangku yang terbaik, menjagamu tetap suci untuk adek kesayangannya ini..he..he.."


Kubiarkan ocehannya karena rasa kantuk menyerangku.


" Sayang...kamu ngantuk ya...padahal pengen sekali lagi..." rengeknya.


End.


Terima kasih reader, semoga terhibur🤗

__ADS_1


Maaf masih banyak typo🙏


__ADS_2