Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Suatu hari nanti


__ADS_3

"Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti mereka berhenti saling mencintai, hanya berhenti saling menyakiti .." tulisan itu benar-benar membuatku sangat terpukul.


Dulu saat kita mulai saling mengenal, aku telah berjanji akan selalu menjadi penjaga hatimu. Sampai kamu menemukan seseorang yang akan membuatmu bahagia, meski tak terlihat biarkan aku ada untukmu.


Kekasihku...


Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, karena hasil akhir dari semua urusan di dunia ini sudah ditetapkan oleh Allah. Jika sesuatu ditakdirkan untuk menjauh darimu, maka ia tak akan pernah mendatangimu. Namun jika ia ditakdirkan bersamamu, maka kau tak akan bisa lari darinya. 


Apa maksud ini semua....aku mengusap airmata yang mengalir tanpa bisa kuhindari ini. Kulihat dari jendela kesibukan orang-orang mempersiapkan sebuah pesta pernikahan membuatku kembali tersadar.


Kuremas lembaran kertas itu, dan kukuatkan hatiku kembali agar tak goyah karena tulisan yang terukir dikertas itu.


Sekali lagi kuusap wajahku agar tak tersisa lagi airmata ini, lalu aku bangkit dan keluar dari kamar itu.


Kinan kamu harus memantapkan hatimu, jangan terpengaruh dengan apapun. Pria itu akan menikah besok, jadi kuatkan benteng pertahananmu. Jangan naif, apapun yang terjadi memang harus terjadi.


"Mbak Kinan..." Bu Rismi menghampiriku saat aku baru saja keluar dari kamarnya mas Ryan


"Iya Bu..." aku menoleh dan menghentikan langkahku.


" Ini mbak, tadi Bu Yahyu pesan agar saya mengganti sprei dan bed cover kamar mas Ryan dengan yang baru, ini baru datang dari laundry tapi ada tiga yang baru, yang mana yang harus dipasang yan mbak..."


Akupun memilah-milah tiga warna yang terlihat sangat indah itu. Akhirnya kupilih warna Salem yang sesuai dengan tema dekorasi dengan motif bunga jingga dan dedaunan hijau segar yang menyebar seperti tertiup angin.


" Kalau saya yang ini saja Bu, cantik...tapi semoga pengantinnya suka he..he..."ucapku seraya tersenyum pada Bu Rismi


"Ah..mbak Kinan ini, saya jamin deh pengantinnya pasti suka..." Bu Rismi terkekeh sambil tertawa dan mengedipkan matanya padaku


Melihat tingkahnya yang aneh itu, aku hanya bisa mengernyit dan menggelengkan kepala.

__ADS_1


Kulangkahkan kaki menuju dapur untuk membantu Bu Sumi menyiapkan minuman untuk orang-orang yang sedang menyulap halaman samping menjadi tempat garden party.


Ternyata sudah tersedia es sirup dalam teko besar dan beberapa gelas dalam Bali yang sama dengan kue-kue basah dari pasar.


" Bi...ini aku bawa kedepan ya..." ucapku pada bi Sumi.


" Itu berat Lo mbak Kinan...biar nanti saya saja setelah selesai menumis bumbu ini..." sahut bi Sumi sambil berkutat pada wajan didepannya


" Nggak papa Bu, Kinan kuat kok...ini nanti dua kali angkut kan bisa..." pertama kuangkat baki yang berisi gelas dan kue basah itu dan membawanya ke depan.


Saat ku mencari tempat untuk menaruhnya, kulihat Tania dengan antengnya duduk memperhatikan orang-orang yang sedang sibuk membuat dekorasi itu.



Subhanallah....indah sekali . Hatiku sampai bergetar karena takjub melihat keindahan jalan masuk yang penuh dengan bunga itu.


Kuletakkan baki yang kubawa didekat orang-orang yang masih sibuk.


" Iya mbak, terima kasih..." ucap salah satu yang terdekat denganku dan disertai anggukan dari yang lain.


Sementara aku kembali kedalam untuk mengambil teko yang berisi es sirup, Tania menghampiriku ...


" Indah sekali ya Kinan...apa kamu menyukainya..?" ucapnya sambil menggandeng lenganku.


" Ya iyalah, semua orang juga pasti menyukainya..." sahutku datar merasa pertanyaannya yang terasa aneh itu.


" Hmm..kalau gitu besok kita bisa foto banyak yak ... eh apa kue yang kamu bawa ke depan tadi masih ada? pengen nih...."


Akupun terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


"Duh kasian ponakan-ponakan Tante, jangan ngiler sebentar kuambilkan...duduklah yang manis..." sahutku sambil mengelus perut buncit itu.


Lalu kutinggalkan bumil yang sedang nyengir itu.


"Bi...kuenya masih ada? ada yang pengen nih ..." tanyaku pada bi Sumi seraya mengangkat teko besar berisi es sirup tadi.


" Masih mbak, tapi tinggal ini aja...ini sisa yang tadi gara-gara tempatnya nggak cukup" ni Sumi menyerahkan bungkusan kecil itu padaku.


" Nggak papa bi... terimakasih ya..."


" Iya mbak..."


Kubawa teko tadi kedepan dan meletakkannya didekat orang-orang yang sudah mulai istirahat dari kegiatannya itu.


" Wah...seger nih, terima kasih banyak mbak..." ucap mereka sambil mengunyah kue-kue basah yang tadi kuhidangkan.


Sebenarnya aku ingin mengambilkan Tania beberapa kue itu, namun sepertinya sudah terlambat, kelihatannya mereka juga menikmatinya.


" Seadanya ya pak, silahkan dinikmati..." sahutku sambil meninggalkan bapak-bapak itu


Tania masih duduk manis dikursi teras saat aku menghampirinya.


"Ini kuenya...sudah terlanjur laris, jadi cuma ini untuk sikembar..." ucapku menahan tawa saat Tania dengan antusias mencomot kue yang kuserahkan padanya itu.


" Nggak papa...daripada sama sekali..." Tania sangat menikmati nya.


" Doyan apa laper Bu..." ledekku


" Bodo!! Kelak kalau kamu hamil, pasti merasakannya juga ..."sahutnya.

__ADS_1


Aku hanya bisa tertawa kecil. Kurasa perkataannya itu akan butuh waktu lama untuk mewujudkannya...


__ADS_2