Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Dejavu


__ADS_3

Setelah beberapa kali protes pada mbak Tya dan Bu Ratna gara-gara riasanku terlalu wah, akhirnya selesai juga dan meskipun masih terlalu cantik menurutku, tapi ya sudahlah. Aku hanya tak mau menyaingi mempelai wanita he..he...


" Kinan..Kinan...baru kali ini aku lihat ada orang yang dirias bawelnya minta ampun .." celetuk Tania yang sedari tadi menemaniku.


Dan itu membuat semua perias menertawakan ku.


"CK...kamu kok nggak belain aku sih..." aku memanyunkan bibirku saat mbak Tya menata kerudungku.


" Nah sudah cantik...mbak Tania silahkan dibawa kedepan si mungil yang cantik ini, biar cepat ketemu sama jodohnya..." mbak Tya juga suka meledekku habis-habisan.


Aku hanya mendengus.


" Terima kasih mbak Tya yang comeeeel..." Tania mengedipkan mata pada perias itu.


Segera Tania menarikku kedepan dan bergabung dengan ibu dan beberapa saudara yang lain.


"Cantik sekali Kinan..." ibu menghampiriku dan senyumnya itu menyiratkan kebahagiaan.


Aku hanya bisa tersipu karena semua orang disana ikut memandangiku.


" Mbak Kinan...." seorang gadis manis yang bernama Adel itu. Aku heran kenapa dia masih pakai setelan kebaya yang biasa seperti kebaya seragam yang kupakai.


"Adel...kok belum ganti baju?"tanyaku sambil menghampirinya.


" Ada seseorang yang ingin kuperkenalkan pada mbak Kinan..."Adel tersenyum padaku


Dari belakang tempatnya berdiri, seorang pria memakai baju batik yang senada dengan seragam kami.


"Fadhil...."


Pria itupun tersenyum saat aku panggil namanya.


"Kenalkan mbak, saya suaminya Adel..." ucapnya membuatku terperangah


"A...apa..!!!" mendadak duniaku berhenti berputar. Kenapa...?!?!?!


Adel maju merapat ketubuhku.

__ADS_1


"Iya mbak Kinan...mas Fadhil ini suamiku...."


" Lalu..." aku masih tak bisa mencerna ucapannya dengan baik


" Kami menikah kemarin...dirumahnya mas Fadhil, di desa sebelah..." ucapan Adel itu mengingatkanku saat kemarin Fadhil mengembalikan sepatunya mas Ryan bahwa hari itu dia baru saja menikah.


"Kinan..." ibu kembali mendekatiku dan mengusap lenganku.


" Ibu...lalu bagaimana dengan pernikahan ini..." kepalaku kembali berdenyut saat aku menatap ibu dengan pandangan khawatir.


Ibu hanya tersenyum dan meraih telapak tangan kiriku. Lalu dilepaskannya cincin dijari tengahku yang dulu diberikan mas Devan padaku.


"Mulai sekarang kamu bukan menantuku tapi putriku, dan hari ini aku ingin menjodohkan putriku satu-satunya ini..."


" I..ibu..." jantungku berdetak kencang, kenapa ibu akan menjodohkan aku tanpa memberitahukan apapun padaku. Siapa calon suamiku itu...


"Lihatlah dia sudah datang, sekarang biarkan dia melamarmu dengan benar ..." ibu mengisyaratkan agar aku melihat kearah pria yang baru saja datang dan menghampiri kami itu.


Seorang pria berbaju batik yang senada denganku sedang membawa buket bunga dan menghentikan langkahnya tepat didepanku.


Dulu seorang pria berdiri didepan rumahku dan membawa buket bunga yang sama, saat dia meminta ijin agar bisa mengenalku lebih dekat.


Dan sekarang sebuah buket bunga yang sama dari pria yang sama juga tengah berdiri didepanku lalu menyerahkan buket bunga itu padaku.



"Kinan...maukah kamu menemaniku menghadapi penghulu yang dari tadi menunggu kita disana..."ucapan kocaknya masih saja hadir dan membuyarkan semua kegalauan hatiku.


"Kenapa harus aku...?" hatiku bergetar menghadapi pria yang sangat kukenal itu.


Hampir dua Minggu aku tak melihatnya, entah perawatan apa yang dilakukannya hingga wajahnya terlihat begitu tampan dimataku.


" Karena aku hanya mau dirimu yang menjadi istriku .."


Aku menelan ludah mencoba terbangun dari mimpi ini. Kupegang erat buket bunga yang ada di genggamanku. Apa yang harus kulakukan sekarang...


" Jadi...bersediakah kamu mendampingi diriku untuk menghabiskan waktumu bersamaku sampai tua nanti...?"

__ADS_1


" Aku.." bagaimana ini


Aku menoleh pada ibu. Dan kulihat ibu mengangguk dan tersenyum padaku.


" Kalau kamu sampai menolakku , aku pasti pingsan sekarang juga.." ucapnya lagi


" Hah..."aku mendongak dan bertemu dengan mata hitam yang menatapku dan senyum yang selalu kurindukan itu.


" Saat pertama kali ibu mengutarakan rencana ini, aku begitu syok...dan selama dua Minggu ini aku menahan rasa takut seandainya kamu sampai menolakku.."


Dua detik dalam keheningan terasa sangat lama.


"Apa aku punya pilihan lain ..?" kucoba mengembalikan serpihan perasaan yang berulang kali telah kusingkirkan ini.


" Tentu saja tidak...." dia menarik sudut bibirnya.


Diraihnya jemari tanganku.


" Ayo kita selesaikan ini secepatnya, aku tak mau kamu berubah pikiran dan meninggalkanku.." dia menuntunku menuju tempat ijab qobul yang kemarin telah kukagumi keindahannya.


Setelah kami duduk berdampingan disana, Bu Ratna pun menghampiriku dan memasang untaian bunga melati dikepalaku dan jalinan bunga lain yang menjuntai didadaku. Tak lupa tambahan kain kerudung dan aksesorisnya yang membuatku seperti ratu sehari.


Sementara itu saat aku melirik pria disampingku yang telah siap dengan jas dan pecinya itu sedang menatapku tak berkedip, membuat jantungku semakin berdetak tak menentu.


Saat kuedarkan pandanganku,ada ibu, Tania, Adel dan suaminya, bapak dan ibu Agung, dan kerabat yang akan menjadi saksi pernikahan ini, terlihat tampak tersenyum tanpa beban.


Baiklah Kinan, setidaknya tidak ada orang yang bersedih dengan apa yang telah kuputuskan ini.


" Bismillahirrahmanirrahim..." gumanku untuk menutupi rasa gugupku.


Kumainkan kedua telapak tanganku yang terasa dingin, sambil menunggu mas Ryan yang sedang membicarakan sesuatu dengan penghulu.


Ya....akhirnya aku disini, disamping mas Ryan, tempat yang dulu selalu kuharapkan namun sejak perpisahan kami tak pernah sekalipun aku memimpikannya. Inikah takdirku sebenarnya? Meski harus berputar-putar melalui jalan yang begitu panjang, sampailah kami kembali ketempat yang dulu selalu kusebut dalam doaku.


Ucapan ijab qobul yang menyebut nama lengkapku diuraikan mas Ryan pada penghulu itu terngiang-ngiang dalam ingatanku. Dan akhirnya kata sah melengkapi seluruh rasa syukur yang kupanjatkan pada Yang Maha Berkehendak.


Lantunan doa terucap mengiringi prosesi selesainya ijab qobul yang bagiku berlangsung sangat mendebarkan ini.

__ADS_1


__ADS_2