Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Tania dan masa lalu


__ADS_3

"Kinaaaann .....!!!"Tania berhambur dalam pelukanku, saat bertemu dikantin perusahaan tempat kami bekerja."Hu..huuu...."


Suara tangisannya menyayat hati, seperti tokoh utama dalam sinetron "Ku menangis..." Eh ..itu judul pa sountracknya ya..🤔


"Cup..cup..kenapa cakep-cakep jadi cengeng gini sih?" ucapku sambil mengajaknya duduk disalah satu sudut dikantin itu. Aku yang sudah pesan minuman segera memberikan padanya,"minum dulu gih..."


" Sruuuutttt....!!!"satu cup jumbo Thai tea ludes dalam sekejap. Ni cewek pa onta..?


Lalu aku diam siap mendengar curhatannya.


"Dion....dia kembali, Nan...."ucapnya masih mewek " aku udah susah payah melupakannya, sekarang seenaknya tiba-tiba nongol ...hiks.."


"Jadi Dion kembali gandeng cewek yang lebih cakep dibanding kamu?" kuusap tangannya untuk menenangkan hatinya.


"Nggak.."


"So...?"


"Dia ngajakin nikah.."


""Apaa!! Kamu heboh gini gara-gara cowok pujaanmu itu ngajakin nikah???" aku mulai geram


"Hu um.." Tania menganggukkan kepala dan mengerjapkan mata cantiknya itu.


"Huh..mubadzir simpatiku Tan, kembaliin Thai tea ku..." sahutku sewot.


" Kamu kok gitu sih, Nan! Aku lagi menderita nih...bayangin deh, aku udah hampir lupa padanya, sekarang dia kayak jalangkung, datang tak diundang pulang tak dianter...eh..salah ya.."


Aku menahan tawa mendengar ocehannya yang tak beraturan itu.


"Masalahnya dimana non...?"


" Dion mengajakku nikah bulan ini, karena dia harus kembali ke Jakarta bulan depan..gila nggak tuh?"


"Nggak!"


"Kinaaan...ngertiin perasaanku dong,kita ini udah semester tujuh , nanggung kan...dia cuman ngasih waktu 2 Minggu , mana bisa aku berfikir jernih, lagian disini kerjaanku udah nyaman, sayang kan...Dia seenaknya aja maksa aku berhenti dan ikut dengannya"


"Jadi Dion udah kerja di Jakarta?"


"Dia nerusin perusahaan bokapnya sambil kuliah..."


"Hhh...gitu aja rempong Tan..."


"Maksudnya?"


Kucubit pipi sahabatku itu dengan gemas.


"Pertama, kita kuliah dengan sistem kelas jauh non, di Jakarta juga ada non, lanjutkan disana kan bisa...Kedua Dion punya perusahaan sendiri, pastinya sanggup ngasih makan kamu meski sehari sepuluh kali pun...Ketiga Dion berani ngajak kamu nikah, berarti ortunya udah merestui, mending kalian cepetan nikah, kasih cucu yang banyak biar disayang mertua, selesai kan..makmur hidup lo,Tan!"

__ADS_1


"Mmm...Betul juga yak. Kenapa aku jadi songong kayak gini sih..." Tania terlihat manggut-manggut mencerna ucapanku.


"Jadi...ceritanya pak Dev gimana nih?"tanyaku padanya, yang aku tau dia sering jalan bareng dengan mantan pembimbing kami itu


"Aku cuman menganggapnya kakak doang, sepertinya dia juga ... hubungan kami nggak ada perasaan yang bikin gimanaaa gitu, nggak seperti dulu pas aku masih sama Dion. Bahkan setelah lama nggak ketemu, aku masih merasa deg-degan saat kemarin kami duduk bersama..."


Hhh..jadi kangen mas Ryan, udah dua Minggu kami tidak bertemu, karena ada proyek diluar kota.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari itu aku ijin pulang lebih awal, karena ada telefon dari tetanggaku yang mengabarkan bahwa tiba-tiba ayahku tergeletak diteras. Dengan perasaan tak menentu akhirnya aku pulang, dan segera membawa ayah kerumah sakit dengan bantuan tetanggaku.


Akhirnya dokter menyarankan agar ayah diopname, karena kondisinya belum stabil.


Keesokan harinya aku ambil cuti, untuk menemani ayah.


Pagi itu, suster memintaku mengambil obat ayah diapotek, akupun duduk dikursi tunggu emnanti panggilan atas nama ayah.


"Kinan...!" suara itu membuatku menoleh


" Pak Dev...? Selamat pagi pak.." sahutku sambil menganggukkan kepala, "Siapa yang sakit pak?"


"Ini cuma mengantar ibuku medical check up aja kok..." ucapnya sambil memperkenalkan seorang wanita setengah baya yang ada disampingnya itu.


Segera kucium punggung tangannya , saat wanita itu mengulurkan tangan hendak menyalamiku.


"Saya Kinan, muridnya pak Dev , Bu.."


"Bukan Bu, Kinan ini mahasiswa kelas jauh yang pernah saya bimbing pas awal semester dulu.." Pak Dev terkekeh mendengar ibunya menganggapku masih SMA" sekarang udah semester tujuh, jadi jarang ketemu ya Kinan..."


Akupun mengangguk dan tersenyum. Kamu seringnya ketemu ma Tania kan pak Dev...batinku


" Owalah...cantik dan imut sih, kirain masih SMA" wanita itu tergelak sambil menutup bibirnya" Kamu disini nganter siapa nak?"


"Ayah saya Bu, jantungnya kambuh lagi..."


"Ooh ... jadi sekarang opname disini?"


"Iya.."


Kemudian petugas apotek memanggil nama ayah. Akupun maju mengambil obat lalu segera kembali keruangan , namun saat berjalan dilorong, pak Dev kembali memanggilku.


"Kinan...ibuku ingin bezuk ayahmu, boleh?"


Aku hanya menganggukkan kepala, setelah bertanya diruang mana, pak Dev pergi sebentar katanya ada perlu. Sedangkan ibunya berjalan bersamaku menuju tempat ayah dirawat.


"Ibumu juga menunggui ayahmu, Kinan?"


"Ibu saya sudah meninggal Bu..."

__ADS_1


"OOO... maaf, jadi yang merawat ayahmu siapa?"


"Saya anak tunggal Bu, hanya berdua dengan ayah..."


" Sabar ya nak, kamu harus tetap kuat,agar ayahmu cepat sembuh..."


"Terima kasih Bu..."


Lalu kamipun sampai diruangan ayah. Ruangan itu kelas dua, jadi satu ruangan untuk dua pasien. Kebetulan pasien disebelah ayah sudah pulang,jadi tempatnya agak longgar.


"Assalamualaikum, ayah. Minum obat dulu ya..."


Ayah terlihat mengerutkan dahinya melihatku datang bersama sekarang wanita setengah baya.


"Waalaikum salam...Lho...Yahyu?"


Dan ibunya pak Dev pun ikut terkejut.


"Rusdi? kamu beneran Rusdi kan?"


" Iya, kamu pasti pangling karena aku berubah tua gini..."


" Ya Allah Rusdi, sudah berapa puluh tahun kita nggak ketemu ya...kudengar dulu kamu menikah dengan orang Solo dan menetap disana?"


"Iya...sekitar sepuluh tahun yang lalu, aku kembali ke kota ini, menempati rumah orang tuaku yang dulu..."


"O..gitu toh, Kinan ...ayahmu ini teman ibu satu geng waktu SMA, kita berlima ya Rus? Pokoknya rame banget kalo ketemu"


Aku tersenyum melihat reuni dadakan ini. Kulihat ayah terhibur dengan kehadiran ibunya pak Dev yang memang doyan ngobrol itu.


" Anakmu cantik, Rus! Boleh kujadikan mantu nggak?" ucap Bu Yahyu terkekeh.


Eeehhh... maksudnya aku dan pak Dev???


"Kamu telat, dia udah punya pilihan sendiri..." ayah melihatku mencoba paham keadaanku yang salah tingkah.


"Assalamualaikum..."pak Dev masuk ruangan kami dan membawa parcel buah-buahan.


"Waalaikum salam...pak Dev kok jadi repot-repot segala nih..." kuterima parcel itu dan kuletakkan dimeja


"Nggak papa Kinan..."sahut Bu Yahyu" Apalagi Rusdi ini teman baikku, nanti kalo udah sehat kita reunian ya Rus! Aku punya kontak si Muji, Wanti dan Warno. Kalo Heru katanya menetap di Malaysia bersama keluarganya..."


"Makasih ya Yahyu...doain aku biar bisa sembuh ya..!"


"Hush... kamu pasti sembuh kok!! Eh ini anakku Devan , ganteng kannn .. sayang sekali nggak bisa besanan ya Rus..."


" Ibuuu...mulai lagi deh. Jangan masukin hati ya Kinan, ibuku emang hobi gitu.."


" Emang kenapa heh...? Wajar dong , ibu pengen cepat punya mantu, biar ada yang nemenin. Punya anak cowok tuh kelayapan mulu..."

__ADS_1


Kamipun tertawa mendengar celotehan ibunya pak Dev yang memang suka ceplas-ceplos itu.


Beberapa saat kemudian merekapun pamit pulang.


__ADS_2