
Kenapa dia tau tentang mie cup yang kusembunyikan dengan rapat dilemari bahan makanan kering.
"Makanlah...bukankah kamu ingin sekali makan mie? Jangan makan mie cup, banyak micinnya" setelah menyiapkan dua mangkuk mie bangka itu, dia menarik kursi dan duduk diatasnya.
Dengan santainya dia mulai memakan mie yang ada dihadapannya itu.
"CK..semua makanan yang beli diluar juga banyak micinnya..."meski menggerutu, akupun ikut menikmati mie Bangka yang telah mengobati rasa kangen pada masakan bang Beny yang warungnya tak jauh dari rumahku sendiri.
"Hei..bukankah kamu yang dulu selalu mempromosikan warung bang Beny yang lebih sehat, lebih bersih, lebih higienis..bla..bla.." diapun terkekeh disela-sela kegiatannya mengunyah mie yang menurutku memang nikmat ini.
Lagi-lagi dia membawa kisah masa lalu kami.
"Bisa tidak, kamu nggak usah ungkit masa lalu.. ada bi Sumi dan pak Joko"sahutku sewot
"Hmm...paling mereka juga seperti yang lain..."
"Maksudnya...?"
" Coba kamu hitung sudah berapa orang yang menganggap kita adalah sepasang suami istri? Itu berarti kita memang serasi..."
"Uhuuk..." aku tersedak dibuatnya. Lalu diapun menyerahkan segelas air putih padaku.
Nih orang benar-benar..
"Jangan kurang ajar sama kakak iparmu heh!!" sahutku dengan tegas untuk menutupi pipiku yang mulai memanas.
Apa sebaiknya kami tidak makan satu meja seperti ini? Dilihat dari sisi manapun kami memang seperti pasangan. Apalagi kalo ada adegan menyuapi, fix..persis pengantin baru. Ya...Tuhan....
"Iya..iya kakak iparku yang bawel...tapi tetap comel.."ucapnya dengan nada lucu. Dia masih menikmati mie itu diselingi dengan tawanya, sepertinya dia sengaja membuatku sewot.
"Kamu ... setelah menikah , berubah jadi dewasa Kinan. Jauh dari gadis culun yang malu-malu yang kukenal dulu..." ucapnya lagi. Kini dengan nada yang lebih serius.
"Semua orang harus berubah bukan?" sahutku asal.
__ADS_1
"Tapi aku tidak...aku masih seperti yang dulu..."
Aku masih menikmati makananku tanpa menatapnya, aku takut dia menyeretku kembali ke masa lalu.
"Aku tak mau membahasnya lagi, bagiku semua sudah berubah...bahkan menurutku kamulah orang yang pertama kali berubah.."ucapku dengan datar.
Perlahan dia meletakkan sendoknya, saat sekilas aku menatap kearahnya, dia diam terlihat berfikir. Mungkin dia sedang menyelami apa yang kukatakan tadi.
Suasana hening ini membuatku tak nyaman, sebaiknya aku segera menyelesaikan acara makan ini.
"Aku selesai, terima kasih mie-nya..." aku mulai beranjak dari dudukku. Dia masih saja diam dan memperhatikan gerakanku yang membereskan alat makan minumku.
" Oh iya..besok ibu memintaku untuk menyusulnya, aku...akan bareng denganmu.."
"Hmm .. kita berangkat jam tujuh pagi.."
"Baiklah..." aku meninggalkannya dan berjalan menuju dapur untuk mencuci alat makanku.
Keesokan paginya, aku sudah siap dengan paperbag berisi beberapa stel baju. Semoga ibu tak memintaku menginap terlalu lama disana.
Mas Devan ..aku pergi dulu ya, kesedihan kembali menyapaku saat menyadari bahwa kini aku sudah menjadi janda. Bagaimanpun pandangan orang lain pasti berbeda, jika penampilanku berlebihan pasti mereka berpikir bahwa aku janda centil yang sedang mencari mangsa. Tapi jika penampilanku dekil dan kumal, mereka pikir aku janda muda yang frustasi...
Hhh...Kinan..Kinan..ngapain juga ngurusin kata orang.
Kuraih tas kecilku dan keluar kamar sambil menenteng paperbag. Kulihat dari jauh mas Ryan sudah siap di halaman dan memainkan ponselnya.
"Bi Sumi...Kinan pergi dulu ya.."pamitku pada Bu Sumi yang ada didapur, sedang kan pak Joko katanya masih mandi.
"Iya mbak... hati-hati ya.. oh iya, tadi mas Ryan bilang mau sarapan diluar, jadi bibi tak menyiapkan apapun deh.."
" Iya bi, aku juga belum lapar kok..sudah ya bi, assalamualaikum..."
"Waalaikum salam..."
__ADS_1
Aku berjalan menuju halaman, tempat mas Ryan dan mobilnya berada.
Mendengar langkahku diapun menoleh.
Ya Tuhan .. aku merasa terpental pada lorong waktu. Kulihat pria bertopi dengan kaos biru tua dan kacamata hitamnya sedang berdiri di hadapanku.
"Kita berangkat sekarang?" pertanyaan itu menyadarkan lamunanku.
"Hmm.. ayo.."sahutku seraya menganggukkan kepala.
Lagi-lagi dia mengingatkanku pada masa awal-awal pertemuan kami. Kenapa pikiranku mudah sekali terbawa perasaan.
Dalam perjalanan, kami hanya diam. Kuarahkan pandanganku melihat hiruk pikuk jalanan pada jam kerja. Meski sedikit macet, namun aku menikmatinya, ada rasa rindu saat dulu aku masih bekerja pada perusahaan, setiap pagi harus bergelut dengan waktu.
"Mau sarapan apa?" tanya mas Ryan memecahkan keheningan.
Akupun menoleh sejenak.
"E..terserah kamu aja..."
"Bubur ayam mau?"
Kuanggukkan kepala tanda setuju.
Beberapa menit kemudian, mobil kami berbelok ke sebuah tempat yang berada tak jauh dari jalan raya. Dan berhenti tepat disamping sebuah tenda yang cukup besar yang bertuliskan "Bubur ayam pak Kumis"
Setelah keluar dari mobil, diapun mengajakku masuk dalam warung tenda itu. Disana tidak begitu ramai, hanya tiga orang yang menempati bangku-bangku yang memanjang mengitari penjual yang berada ditengah.
"Selamat datang mas Ryan, monggo silahkan duduk.."ucap pria setengah baya itu tersenyum ramah.
"Seperti biasa ya pak Kum, tapi sekarang dua porsi.." sahut mas Ryan sambil memberikan tempat untukku.
"Wah...lama nggak mampir, sekarang sudah bawa istrinya..."ucap pria yang dipanggil pak Kum tadi
__ADS_1
Astaga!!! Lagi-lagi seperti ini...
Aku menoleh dan melotot pada pria disebelahku yang tertawa kearahku.