Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Haruskah tetap diam?


__ADS_3

Bubur ayam ini terasa gurih dan lembut, memang pantas kalo jadi favoritnya pria tengil yang dari tadi menertawakan kejengkelanku itu.


"Benarkan Kinan...kita memang pantas menjadi suami istri. Bagaimana kalo kita mewujudkannya.."ucapnya masih dengan tawa yang tak lepas dari wajahnya.


Aku hanya bisa mendengus kesal tanpa menghiraukan ucapannya itu. Dasar pria rese, seandainya saja dia mengatakannya dua tahun lalu, pasti akan membuatku berbunga-bunga. Tapi sekarang sudah terlambat semuanya, aku tak mau menjadi bahan gosip yang akan mencemarkan nama baik ibu. Apalagi aku sudah janji pada ibu, akan membantu mendekatkan mas Ryan dengan anak pak Agung.


"Aku udah...ayok..."ucapku sambil menghabiskan minumanku.


" Cepet amat makannya..." sahutnya sambil menyendok suapan terakhirnya " Udah pak Kum ...berapa? "


" Oh..empat puluh ribu mas...terima kasih" Pak Kum itupun mengangguk dan tersenyum pada kami.


Akhirnya perjalanan pun berlanjut, dan aku masih dengan aksi diamku.


"Kinan...apa kamu marah padaku..."


"Nggak..."


"Maaf ya kalo aku salah..."


Aku masih saja tak mengacuhkannya. Hanya diam dan menatap kejalanan yang penuh dengan hilir mudik kendaraan.


"Baiklah...apa yang bisa membuatmu memaafkan ku? Aku akan melakukanya...setidaknya bisa membuatmu nyaman.." nada ucapannya terdengar begitu serius.


Aku menghela nafas dan menoleh kearah pria yang datang dari masa lalu itu. Sesaat mata kami bertemu, sepertinya dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Apa benar kamu akan melakukan yang aku pinta?"


Dia tersenyum dan mengangguk cepat.


Ya Allah...kenapa senyum itu sekali lagi menggoyahkan hatiku. Sekelebat bayangan saat kami masih bersama, dan senyum itu masih milikku...

__ADS_1


Tidak Kinan, hentikan sekarang juga...!!!


"Jadilah anak yang berbakti, ibu ingin kamu menikah..."


Dia mengernyitkan matanya


"Hei..tentu saja aku akan menikah, aku ini normal Lo..." ucapnya sok imut.


Aku menahan tawa, melihat tingkahnya yang aneh itu.


" Maksudku, ibu ingin kamu segera menikah...jadi menurutlah pada ibu..."


" Kenapa ucapanmu mencurigakan..Kinan!"


"Eit...jangan ingkar janji, kamu harus menuruti ibu...titik"


"Sepertinya ada yang telah menjebakku nih..." nada bicaranya penuh dengan penasaran ..


Perjalanan semakin menanjak dengan pemandangan hijau perbukitan mulai terlihat. Suasana sekitar sedikit berkabut. Mungkin karena itulah, aku mulai menguap karena mengantuk.


"Hmmm ....."setelah menguap beberapa kali, tak dapat kutahan lagi untukku memejamkan mataku.


Sepertinya baru saja aku memejamkan mata, namun suara ibu membuatku terbangun.


Mataku mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang mengusik lelapku.


"Syukurlah kalian sudah sampai..." suara riang ibu menyambut kami. Kulihat dari dalam mobil mas Ryan sudah berdiri didepan rumah dan berbincang dengan ibunya itu.


Setelah meregangkan otot karena duduk berjam-jam lamanya, akupun keluar dari mobil.


Kuedarkan pandanganku melihat sekitar tempat itu. Memang luar biasa hijau, jauh dari tempat tinggalku selama ini. Pohon-pohon tinggi menjulang berjajar rapi seperti penerima tamu yang menyambut orang-orang yang datang ke rumah bercat putih itu.

__ADS_1


Rumah besar satu lantai bergaya kolonial itu, membuatku serasa berada pada jaman sebelum kemerdekaan dimana sebagian besar rumah para bangsawan berbentuk mengadopsi gaya Belanda.


Sementara dari tempatku berdiri, terlihat dari kejauhan hamparan hijau pohon kopi seperti menyelimuti luasnya tempat itu. Dan benar kata ibu, hawa dingin langsung membuatku mengusap kedua lenganku berulang kali.


"Ayo Kinan...kita masuk, lihatlah mendung itu...ibu sempat takut kalian terjebak hujan yang sering mengguyur tempat ini .."ibu menghampiriku yang masih berdiri tak beranjak dari samping mobil.


Melihat ibu yang tersenyum seperti sangat menantikan kehadiranku itu, ternyata aku juga merindukannya setelah beberapa hari tak bertemu. Meski cerewet dan tak mau mengalah, namun kasih sayang yang begitu hangat selalu ditunjukkan untuk anak-anaknya.


"Kamu capek ya...ayo ibu antar kekamarmu .." ucap ibu yang menggandeng tanganku, mengajakku masuk kerumah besar itu.


Ternyata selain fasad yang bergaya kolonial, interior didalam rumah juga sama. Banyak barang yang dari masa lalu menghiasi beberapa sudut rumah. Yang paling terlihat adalah furnitur jengki pada kursi, lemari dan nakas.


" Ini kamar Devan dan Ryan dulu saat kami menginap ditempat ini, sekarang istirahatlah dulu...makan siang hampir siap, nanti ibu akan memanggilmu.." ucap ibu duduk di tempat tidur dengan warna manly itu.


" Mm ..tadi sudah tidur diperjalanan kok bu, biar Kinan bantu ibu didapur ya .."aku mengikuti ibu, duduk disampingnya


" Jangan khawatir Kinan,bukan ibu kok yang masak, ada anak pak Agung sedang membantu Bu Rismi didapur...oh iya ibu sudah mengutarakan maksud ibu pada gadis itu dan sepertinya dia juga tertarik pada Ryan..." sinar bahagia memancar pada raut wajah ibu.


Akupun berusaha terlihat senang akan berita baik itu. Inilah saatnya .. aku akan membalas kebaikan ibu.


"Selamat ya Bu, sepertinya rencana kita lancar ..he..he.." aku mengacungkan dua jempol sambil tertawa lepas.


"Tapi... yang ibu khawatirkan justru si tengil Ryan...sudah beberapa hari dia disini dan bertemu gadis itu, kesannya biasa saja gitu deh ... "


"Mungkin dia masih sibuk dengan pekerjaan barunya Bu... pelan-pelan aja, kalo udah terbiasa ketemu pasti ada suatu percikan .." aku jadi merasa membicarakan tentang diriku sendiri. Percikan itu selalu hadir saat aku bersamanya.


"Semoga aja gitu... sikapnya pada cewek-cewek lain juga sama cueknya, apa mungkin dia masih teringat dengan mantannya...?"


Glekkk...dengan susah payah aku menelan ludah.


"Ibu jadi ingin bertemu dengan mantannya ... kalo mungkin mereka bisa kembali bersama, ibu akan mengusahakannya..."

__ADS_1


Astaga naga.....!!!! Aku tercengang mendengarnya. Lalu apa yang harus kukatakan pada ibu? Perkataan ibu itu memberi beban yang semakin berat dipundakku.


Seandainya saja aku menantu orang lain, dengan senang hati aku akan menceritakan yang sebenarnya. Namun posisiku sekarang menjadi serba salah...


__ADS_2