Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Bukan aku pengantinnya


__ADS_3

Pagi itu pukul sembilan saat suara deru mobil masuk ke halaman rumah. Sayup-sayup terdengar suara tawa dari sana. Aku yang masih membantu Bu Sumi menyiapkan makan siang, tak begitu jelas mendengar suara siapa yang datang.


"Kinan...kesinilah sebentar.." suara ibu membuatku menoleh


"Ya...Bu" segera kucuci tanganku dan mengelapnya hingga kering.


Saat aku mendatangi ibu diruang keluarga, disana juga sudah ada mas Ryan yang merebahkan kepalanya disandaran sofa. Dan setelah menyadari kedatanganku, dia menegakkan kepala dan tersenyum padaku.


Sungguh aku tak tahu kenapa selalu terbawa perasaan. Kenapa aku tak bisa bersikap seperti biasa seperti yang dia lakukan...


Aku hanya menatapnya sekilas, tak bisa membalas senyumannya itu.


Kujatuhkan tubuhku disebelah ibu.


" Nih orangnya sudah datang...jadi jam berapa kalian akan pergi..?"


" E..sepertinya pak supir masih lelah Bu, biarlah dia istirahat dulu, nanti setelah makan siang saja kami berangkat .." ucapku


" Terima kasih, kamu baik sekali nyonya Devan..."


Aku melirik tajam padanya saat dia memanggilku dengan sebutan nyonya Devan sambil tersenyum usil.


" Hmm...baiklah, tapi ibu akan berangkat ke tempatnya Tante Lusi sekarang ya...soalnya nanti sore pak Joko ada acara keluarga .."


Akupun mengangguk pada ibu.


Setelah sholat dhuhur, aku melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan siang dimeja makan. Biasanya bi Sumi yang melakukannya, namun siang ini ijin karena seperti pak Joko, diapun menghadiri acara pernikahan kerabatnya.


Glodak..prak..prak...suara asing terdengar dari dapur.


Jangan-jangan pencuri, waduh mak...kemana mas Ryan sih, mana sepi lagi..


Aku berjalan mengendap-endap dengan jantung berdebar.


Bibirku menipis melihat siapa yang sedang membuat kekacauan didapur.


" Hai Kinan...kurasa kamu harus membantuku..." mas Ryan terlihat sangat kacau, dengan mata merah berair dan tangan sedang mengulek sambal.


Tak bisa lagi kutahan rasa geli yang menggelitik perutku.


"Kamu benar-benar mengacaukan dapurku? kenapa membuat sambal segala, tidak cocok dengan menunya heh?" kuambil alih posisinya membuat sambal terasi yang diinginkannya itu.


Sementara itu, mas Ryan langsung cuci tangan dan membereskan benda-benda yang tersebar, mulai dari tempat bumbu-bumbu sampai tempat untuk mencuci bahan-bahan.


Tak butuh waktu lama, sambal terasi sudah siap.


"Biar aku bawakan ke meja.." cobek yang akan kuangkat memang lumayan besar. Entah kenapa dia memilih yang besar untuk membuat sambal yang sedikit itu.


Menu makan siang kali ini, sayur asem pedas dan ikan goreng, tahu tempe bacem. Karena sayur sudah pedas, kupikir tanpa sambalpun sudah enak.


" Terima kasih Kinan, kamu emang istri idaman..he..he.."ucapnya saat kami makan siang bersama.


Kubiarkan dia dengan kejahilannya itu.


"Entah kenapa aku lagi pengen makan sambel dan lalapan..." dia kembali mengusap peluh karena kepedesan

__ADS_1


"Belum nikah, udah nyidam duluan..."sahutku menahan tawa melihatnya makan dengan lahap...


"Hmm...kayak kamu pernah ngerasain nyidam aja...eh nanti kalau perutku sakit, beliin obat ya...sambalmu beneran pedes Kinan..tapi enak banget, aku suka he..he.."


" Udah-udah...jangan pake sambal lagi! ntar beneran sakit perut..."ucapku sambil menarik cobek dari hadapannya


" Hei...jangan ambil milikku!!!" diapun menahan cobek itu hingga terjadi tarik menarik diantara kami.


Seketika aku tersadar apa yang kulakukan akan menambah kenangan manis kami berdua. Akhirnya kulepaskan benda itu dan segera mengakhiri makan siangku.


Seperti yang sudah direncanakan, kami berangkat ke butik langganan ibu pada pukul satu siang.


" Kinan..."


Aku pura-pura tak mendengarnya dan sibuk dengan chattingan dengan Tania.


"Kinan..."


Suaranya kembali terdengar, namun aku masih saja asyik menertawakan Sticker-stiker konyol yang dikirimkan Tania.


"Hei...Kinanti Prameswari!!"


Akupun menoleh dengan cepat, karena panggilan yang lumayan keras tadi.


"Apa??" tanyaku saat menoleh kearah sopirku itu.


"CK ... nggak jadi deh.." ngambek deh tu supir


"Dasar aneh....!!" gumanku sambil kembali fokus ke ponselku lagi.


"Kok sepi?" tanyaku sebelum turun dari mobil


"Hmm..."kayaknya dia masih ngambek gara-gara tadi aku cuekin


"Mas...mas Ryan..." suaraku yang kubuat manja itu, berhasil membuatnya menoleh dan tersenyum lebar padaku.


"Kinan ... sudah lama sekali aku rindu panggilan itu dek..." wajah pria itu seketika berubah sendu karena terbawa perasaan.


"Aku .. " kok aku ikutan deg-degan gini sih, maksudku tadi cuma mau sedikit menggodanya kan...


"Apa aja pasti akan kulakukan untukmu, katakan apa yang kamu minta, hmm?"


"Apa aja?"


"Biarkan aku membuktikannya..."sahutnya serius.


"Tolong kamu yang bawa semua paperbag milik ibu itu ya..." akupun nyengir telah berhasil membuatnya terbengong.


"Heleh....kirain.."ucapnya sambil keluar dari mobil


Aku tertawa kecil melihat tingkahnya itu.


Kamipun berjalan beriringan menuju pintu masuk bangunan dua lantai itu yang jaraknya memang agak jauh dari parkiran.


" Kinan, siap-siaplah...nanti kamu pasti speechless berhadapan dengan Bibi..."

__ADS_1


Meski tak mengerti dengan arti ucapannya itu, aku hanya mengangguk patuh.


"Assalamualaikum..." suara mas Ryan menggema ke seluruh ruangan


"Waalaikum salam...oh mas Ryan, ayo silahkan duduk dulu...saya panggilkan Bibi ya...hei penggantinnya cantik, mas Ryan pinter milih deh ..."sapa seorang wanita cantik yang sedang memasang baju pengantin di manekin itu.


"Eee ...." hendak ku sahut perkataan wanita itu, namun keduluan dengan mas Ryan


"Iya dong mbak, ini limited edition Lo.."


Mereka tergelak bersama membiarkan aku yang hanya bisa mendengus.


Saat kami berdua diruang pajang manekin, ada banyak kebaya pengantin yang dipamerkan disana. Akupun berdiri dan menikmati pemandangan itu.


" Apa kamu ingin segera memakainya?"


Kutoleh mas Ryan yang duduk disofa sambil menatap kegiatanku.


"Nanti aja kalau udah ketemu orang yang tepat diwaktu yang tepat juga..."aku kembali menjatuhkan tubuhku dikursi tamu itu.


Sesaat kemudian datanglah seorang pria dengan metline menggantung dilehernya.


"Hei..katanya Bibi yang akan mengukur bajuku..." ucapku sedikit berbisik pada mas Ryan yang disebelahku saat pria tadi tertahan oleh karyawan lain yang sepertinya sedang menanyakan sesuatu.


"Namanya Habibi..he..he.." mas Ryan terkekeh melihatku mengernyit.


"Kukira bibi beneran..." aku yang tak terbiasa diukur-ukur laki-laki, merasa tak nyaman.


"Kamu tenang aja Kinan, dia tak sepertiku kok..."


"Maksudnya?"


"Dia nggak nafsu sama kamu ...dia nafsunya sama aku..."mas Ryan masih saja dengan senyumnya yang khas


"Hah...!!" seketika pipiku panas, bukankah artinya mas Ryan tu nafsunya sama aku dong ...


"Hai bang Ryan.."benar saja gayanya yang alay membuatku menahan tawa


"Hai juga bibi.., kemarin kamu kemana? "


"CK...biasalah musim kawin, kerjaan bejibun. Sebenarnya kami udah nggak nerima orderan Lo, gara-gara kamu yang mo kawin, gue rela lembur deh..."ucapnya sambil sesekali mencolek-colek mas Ryan.


"Mumpung laku kan harus segera, takutnya jadi bujang lapuk..." sahut mas Ryan asal


"Hmm..cakep juga bini Lo, kamu pasti takut disamber pria lain yak..."mereka berdua saling berdekatan dan berbisik namun masih terdengar olehku


"Nah itu, Lo tau !!.."


Hhh...kedekatan mereka berdua seperti sepasang pria alay yang bikin eneg.


"Udah ah Bang, sepertinya dia cemburu tuh.."


Mas Ryan terbahak melihatku melotot padanya.


"Dengerin ya, bukan aku pengantinnya...jadi kalian terusin aja mesra gitu, aku nggak peduli tuh.." ucapku sewot

__ADS_1


"****** Lo bang, dia udah nggak ngakuin kamu tu...ayo cepetan kita selesein kerjaan , sebelum dia bener-bener minta batalin kawin sama kamu" si Bibi menarik agar mas Ryan yang makin terbahak itu agar segera berdiri tegak.


__ADS_2