Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Keputusan dibalik keputusasaan


__ADS_3

Malam itu aku menikmati suara jangkrik dan kawan-kawannya yang tak pernah kutemui saat dikota.


Baru jam delapan malam, namun ibu dan yang lainnya sudah masuk kedalam kamar masing-masing.


Sedangkan aku yang tadi siang sudah sempat tertidur, belum dihinggapi rasa kantuk.


"Cobain kopi produk pabrik kita..."seseorang meletakkan cangkir berisi kopi hitam dimeja sampingku.


Aku menoleh kearahnya, Mas Ryan duduk di kursi seberang yang dipisahkan oleh meja bergaya jengki.


"Aku nggak suka kopi hitam..."sahutku datar


"Hmm..aku tau. Tenang aja, barista ini masih ingat dengan seleramu, coba dulu aja..."


Untuk menghargainya aku meraih cangkir itu dan menyesapnya. Memang benar, kopi latte ini terasa nikmat, tak terlalu pahit dan pekat persis seperti yang dulu pernah dibuatnya. Saat itu aku diajaknya ke sebuah kedai kopi milik temannya, dan dengan pedenya dia yang mengambil alih tugas barista karena ingin meracik kopi khusus untukku.


"Masih sama seperti dulu..."gumanku.


Hhh...harusnya aku tak mengatakan itu. Dia kembali tersenyum puas, karena berhasil membawaku ke masa itu.


Menit kemudian kami sama-sama terdiam menikmati keheningan malam di pegunungan yang berhawa dingin ini.


"Jadi...kamu sudah tau, rencana ibu ..."


"Hmm..."


"Dan kamu mendukungnya..."


"Kenapa nggak? Bukankah kamu juga mendukung saat ibu ingin mas Devan menikahiku..."


Kudengar helaan nafasnya begitu berat.


"Maaf..aku melihat ibu begitu bahagia saat mengenalmu, dia selalu semangat bercerita tentangmu...hh..aku tak menyangka harus berakhir seperti ini. Aku berencana setelah kalian menikah, aku akan pergi jauh dari kalian...karena aku tersiksa melihatmu bersama orang lain meskipun dia kakak yang paling kusayangi sekalipun...maafkan aku Kinan..."


"Sudahlah jangan menyalahkan takdir...semua sudah digariskan olehnya... sekarang, bahagiakanlah ibu..."


"Apakah hanya dengan menikah dengannya caraku membahagiakan ibu?"


"Kurasa jawabannya sudah jelas bukan?"sahutku


"Lalu... bagaimana denganmu?"


Aku menoleh kearahnya, dan dia juga melakukan hal yang sama. Saat tatapan kami bertemu, kulihat kekhawatiran disana.


"Memangnya aku kenapa? Aku punya ibu yang sangat menyayangiku, aku punya warisan dari kakakmu, apa kamu khawatir tak ada yang menginginkan janda sepertiku?"


"CK..kamu tau bukan itu maksudku.." ucapnya sewot.


Selalu seperti ini, saat kami bertemu pasti ingin sekali mendebatnya. Ingin sekali berontak. Ingin sekali berteriak pergilah dariku, pergilah dari hatiku ini...rasanya lelah sekali mengusirnya dari sudut hati ini...


"Sudahlah...kenapa kita berdebat tentangku, meski kamu adiknya mas Devan, kamu sama sekali tak wajib bertanggungjawab atas diriku, jadi tak perlu mengkhawatirkan aku...carilah kebahagiaan mu sendiri.."


"Itulah yang membuat ku pusing, bila menuruti keinginan ibu, aku tak bisa menemukan kebahagiaanku sendiri..."sahutnya terdengar pasrah.

__ADS_1


"Hidup adalah pilihan..."


" Bagaimana cara membuatmu tersenyum bahagia seperti dulu...sudah lama aku tak melihatnya..."


"Kabulkanlah permintaan ibu..."ucapku sambil menyesap kopiku yang sudah hilang kepulan panasnya.


Mas Ryan terdiam cukup lama. Mungkin banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya.


"Baiklah..berjanjilah kembali tersenyum, seperti dulu aku mengenalmu. Aku akan menuruti keinginan ibu..." akhirnya dia mengucapkannya.


Setelah mengucapkan keputusannya itu, dia beranjak dari duduknya dan masuk kedalam.


Seharusnya aku lega telah berhasil membujuknya, tapi kenapa buliran air mata mulai meleleh ke pipiku.


Bagaimanapun aku telah berjanji saat dia memutuskan untuk menerima perjodohan ini, aku harus menunjukkan bahwa aku ikut bahagia. Akan kutunjukkan bahwa aku bisa berdiri tegak melihatnya bersanding dengan wanita lain.


Keesokan harinya, terjadi kehebohan saat ibu tak menemukan putranya dikamar, padahal ada janji dengan tamu penting pagi ini.


"Ck...dimana anak itu, hape juga TK dibawa!!!" ucap ibu yang mondar-mandir diruang tamu.


Saat kutanya pada Bu Rismi, mas Ryan setelah subuh tadi keluar rumah, katanya sih mau jogging. Tapi hampir jam 7 belum juga terlihat batang hidungnya.


"Bu Rismi mau kemana ...kepasar ya?"kulihat Bu Rismi menenteng tas belanjaan.


"Eh ya mbak...mau ambil pesanan, dipasar dadakan...mbak Kinan mau ikut?dekat kok..sekalian jalan-jalan lihat keramaian..."


Sejenak kutimbang-timbang tawaran Bu Rismi. Masih belum ada jam tujuh, dan janjianku dengan Adel jam delapan, masih ada waktu kok ..


"Ah..iya Bu, aku ikut...sebentar ya aku pamit pada ibu..."


"Ibu...Kinan ikut Bu Rismi kepasar ya.."


Ibu menoleh kearahku dengan raut wajah bimbang.


"Baiklah Kinan, tapi kamu harus hati-hati ya, jangan pisah dengan Bu Rismi...nanti nyasar..."akhirnya ibu mengijinkan ku.


Rasanya seperti anak SD yang sangat dikhawatirkan ibunya. Bukankah sekarang ada ponsel, kalo nyasar tinggal kring ..Tapi aku tak mau berdebat dengan ibu, karena hatiku terasa hangat dengan perhatian ibu.


Aku berjalan kaki menyusuri jalan tanpa aspal yang memang tak bisa dilalui kendaraan roda empat itu.


Beberapa kali bertemu dengan penduduk sekitar yang ramah menyapa kami, membuat perasaanku menghangat. Suasana seperti ini sulit sekali kutemukan dikota. Kalau dikota saat berjalan kaki pasti hanya melewati rumah-rumah berpagar, atau orang-orang sibuk yang berkendara jadi sulit sekali untuk bertegur sapa seperti ini.


"Bu Rismi asli orang sini ya..."


"Bukan mbak, suamiku yang lahir di desa ini. Kami putuskan tinggal disini karena saat baru menikah dulu mertua ibu memang sudah tua, jadi kasihan kalau ditinggalkan..."


"Oo.. dan Bu Rismi langsung betah atau tidak?"


"Alhamdulillah saya juga aslinya orang desa,. jadi tak perlu waktu lama untuk beradaptasi dengan orang sini...apalagi penduduk disini cukup baik pada saya.."


"Cukup baik?" tanya ku


" Iya mbak, tentu saja karena orang nyinyir ada dimana mana termasuk disini he..he.."

__ADS_1


Aku ikut tertawa lepas mendengarnya. Bagiku suasana seperti ini sungguh menyenangkan, sejenak bisa melupakan rumitnya hidupku.


Hanya lima belas menit dari rumah, kami telah sampai pada keramaian ini. Memang bukan seperti pasar yang kubayangkan dengan bangunan dan penjual yang begitu banyak. Disini hanya ada beberapa penjual dengan lapaknya, atau mobil bak terbuka yang berisi berbagai alat rumah tangga, namun pembelinya yang sangat banyak, membuat suasana begitu ramai.


"Bu Rismi, saya ingin beli jajanan pasar...nanti kita ketemu disini ya.."ucapku setelah menemukan penjual yang menjajakan aneka kue basah yang menarik perhatianku.


"Siap mbak, saya cuma sebentar kok..soalnya sudah pesan kemarin, ini tinggal ambil saja.."


Akupun mengangguk dan kembali antri karena begitu banyak pembeli disana.


"Kinan..."suara seorang pria menyapa membuatku menoleh.


"Mas Dika... sedang belanja juga ya.."


" Nganter ibu saja , tuh disana..." sahutnya sambil menunjuk ke penjual ikan.


"Ooh..ini aku juga mengantar Bu Rismi, tapi terdampar disini karena tertarik dengan jajanan pasar .." ucapku sambil tersenyum padanya


"Hmm...iya, aku juga menyukainya, kamu harus mencoba jajanan khas daerah sini juga.."


Aku merasa kikuk karena tatapan dan senyumannya itu terasa aneh buatku.


Setelah tiba giliran, kami menunjuk beberapa kue dan penjualpun membungkusnya. Saat aku mengeluarkan uang, mas Dika segera membayar untuk kami berdua.


"Waduh mas , kok saya jadi ditraktir nih..." aku merasa tidak enak karena baru kemarin kenal udah minta traktir aja...


"Nggak papa Kinan, cuma gini aja..atau kamu ingin yang lain lagi?"


"Ah nggak, ini lebih dari cukup mas.." aku hanya bisa nyengir menjawabnya.


Sesaat kemudian Bu Rismi menghampiriku dan mengajakku pulang. Setelah berpamitan dan sekali lagi berterima kasih pada mas Dika, kami berdua beranjak dari tempat itu.


"Ehem...kayaknya mbak Kinan ditaksir sama mas Dika deh...pandangannya itu Lo..." ucap Bu Rismi dalam perjalanan pulang.


"Idiih Bu Rismi baper ya, lha wong cuma bicara bentar aja dibilang naksir..." kilahku


"Tapi jujur saya nggak terlalu sreg dengan anak kades itu mbak, gara-gara cukup tampan dia suka gonta-ganti cewek.."


" Biasa mah..orang cakep kebanyakan playboy .." sahutku kemudian


" Eh nggak juga deh mbak, kalau saya sih tetep ngefans sama dua bersaudara mas Devan dan mas Ryan yang jauh lebih cakep dari pada mas Dika. Meski cakep dan mapan, kedua anak Bu Yahyu itu tipe setia pada seorang gadis saja Lo mbak..."


"Oh ya..."


" Dari cerita Bu Yahyu, ini maaf Lo mbak saya hanya dengar ceritanya, bahwa mas Devan dulu sangat mencintai seorang gadis, hingga tak bisa dekat dengan gadis lain meski pujaannya itu telah meninggal..." ucap Bu Rismi hati-hati.


Aku tersenyum karena mengerti yang dirasakannya.


"Santai aja Bu, mas Devan sudah pernah menceritakannya kok..."


"Dan sekarang mas Ryan juga sama, gara-gara ditinggal nikah sama gadisnya, Bu Yahyu sampai harus mengusahakan agar dekat dengan mbak Adel..."


Wah..wah..ibu tuh ternyata suka curhat sama orang lain juga toh..

__ADS_1


"Hmm...rumit juga kisahnya ya Bu.." jawabku asal.


Seandainya Bu Rismi tau apa yang terjadi padaku, dia pasti lebih heboh lagi..


__ADS_2