Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Biarkan rasa itu ada


__ADS_3

Saat matahari mulai beranjak naik, aku mulai merasakan lelah, lalu mengajak Adel kembali pulang.


Benar kata Adel, kalo belum terbiasa berpetualang, alhasil kaki ini terasa seperti batu , otot kaki menjadi kaku.


Kamar tidur menjadi tujuan pertamaku sampai rumah. Apalagi belum ada hawa ibu dan mas Ryan datang, tak perlu menunggu lama, tubuhku langsung ambruk ke tempat tidur.


Tak sempat ganti baju, mata ini terasa berat dan langsung terpejam.


Saat suara ribut dari samping rumah mengganggu lelapku, tubuhku menggeliat meregangkan otot-otot dan kucoba mengerjapkan mata pada detak jam dinding.


"Astaghfirullah...jam dua siang lebih..." sambil berjingkat aku berlari kekamar mandi, untuk mengambil air wudhu karena hampir saja terlupa sholat dhuhur.


Kulanjutkan doa pada ya Rabb, agar kedua orang tuaku dan suamiku tetap diberi jalan yang terang.


Beberapa saat kemudian, kulipat mukena dan kuraih kerudung pasmina dan kupakai sekedarnya, lalu keluar kamar. Tiba-tiba aku menyadari gelang yang melingkar ditanganku kini lenyap. Satu-satunya peninggalan ibuku telah hilang. Segera aku bergerilya mencari disekitar kamar tidurku. Nihil...aku mulai berpikir, kira-kira dimana harus mencarinya. Apa mungkin terjatuh, saat aku pergi bersama Adel tadi? Aku harus mencarinya, setidaknya aku harus berusaha. Kalaupun tidak ketemu, berarti bukan rejekiku..


Aku masih belum menemukan ibu dan mas Ryan disekitar rumah. Disamping rumah hanya ada Bu Rismi dan suaminya yang sedang membuat balai-balai bambu.


"Mbak Kinan...tuh kan pak, mbak Kinan jadi terganggu deh .. bapak sih berisik dari tadi ..." Bu Rismi memarahi suaminya yang kini bengong dibawah pohon nangka.


Aku menutup mulutku menahan tawa, melihat dua sejoli itu.


"Bu Rismi, apa-apaan si...justru Kinan terima kasih, kalo Kinan nggak bangun malah membolos sholat dhuhur tadi..."


"Oooh..."


"Ibu belum pulang ya Bu...?"


"Belum mbak, tapi tadi saya sempat lihat mobilnya didepan rumahnya pak Agung..."


"Oh...begitu..Kinan mau keluar sebentar ya, mau ketempat yang tadi waktu bersama Adel..ada barang yang jatuh ..."


" Kalo gitu saya temani ya mbak.."


" Ah nggak usah Kinan masih ingat jalannya kok..."


"Tapi bawa payung ya MBK, mendungnya mulai menggantung.."


" Oke .."aku berlalu dari tempat itu.


Meski sebenarnya aku mau banget bila Bu Rismi menemani, tapi aku tak tega memisahkan kebersamaan bersama sang suami.


Kuambil payung yang menggantung disamping rumah, lalu segera aku meluncur menyusuri jalan yang tadi pagi kutapaki bersama Adel.


Mendungpun mulai menghitam, hingga beberapa menit kemudian rintik hujan menemani langkahku.

__ADS_1


Kubuka payung untuk melindungiku.


Saat jalan terjal mulai basah, langkahku mulai hati-hati karena licin.


Sambil mengedarkan pandanganku, aku berusaha agar tak tergelincir karena jalan menurun mulai terjal.


Haruskah aku menyerah? Setidaknya aku harus sampai kegubuk tadi, apalagi hujan mulai turun dengan derasnya.


Saat aku sampai digubuk, gemuruh angin dan halilintar semakin membuatku bergidik ngeri. Kenapa aku tadi tak membawa jaket juga ..


Biarlah aku berteduh disini dulu, sampai hujan agak mereda.


Ibu maafkan aku, sepertinya aku kehilangan gelang yang sangat berarti itu.


Jam berapa ini, kenapa suasana tak berubah dari tadi. Ah iya, aku kan bawa ponsel...


Kuambil ponsel dari saku celanaku, jam tiga lebih lima menit, dan tentu saja tanpa sinyal sedikit pun. Sudah satu jam aku keluar rumah, apa ibu sudah pulang dan mencarimu ya? Ah sudahlah .. aku tak boleh cengeng.


Angin semakin bergerak dengan kencangnya, hingga air hujan semakin membuatku terpepet karena masuk kegubuk tempatku berada itu.


Sayup-sayup kudengar suara orang memanggil namaku.


"Kinaaaan....." suara itu semakin jelas terdengar.


"Iyaaaaa....aku disini...."


Tak lama kemudian, sosok mas Ryan sampai juga ditempatku.


"Syukurlah kamu masih disini..." suaranya terdengar khawatir.


Dia membuka jaketnya dan memberikannya padaku.


"Eh nggak usah, aku sudah pake panjang kan..." kulihat dia hanya memakai kaos lengan pendek saat jaketnya dibuka.


"Pakailah, jangan protes ..jaket bahan parasut, jadi seperti jas hujan.." jaket itupun melingkari tubuhku.


Akhirnya akupun patuh memakainya meskipun terlalu besar.


Tiba-tiba cahaya kilat seperti membelah langit. Pandangan kami langsung bertemu sesaat dan kilatpun datang dengan suara yang begitu keras.


Jjjdddarrrrr......!!!


Refleks akupun berlindung didada pria itu dengan detak jantung yang berdebar kencang karena takut mendengar suara kilat yang sepertinya sangat dekat dengan tempat kami ini.


Krrreeeet....

__ADS_1


Suara asing kembali terdengar, akupun mendongak, mendapati sepasang mata yang penuh kekhawatiran.


Krrreeeeeeeettttttt..


Kami berdua mendongak kearah suara asing itu, dan tak memberi waktu untuk berpikir, sebuah batang pohon cukup besar patah tepat diatas kami berada.


Tangan kanan mas Ryan yang semula memegang payung, menghempas batang pohon itu hingga payung yang dipegangnya terbang oleh angin karena lepas dari pegangannya.


Sementara kurasakan tangan kirinya melingkari bahuku.


"Masuk ke gubuk...!!"dia mendorongku kembali kedalam gubuk itu.


Sebagian tubuh kami sudah basah oleh hujan.


Setelah kami kembali duduk ditengah gubuk itu, aku menata kembali nafasku yang dari tadi memburu karena panik.


"Lebih bahaya kalo kita pulang sekarang, kita tunggu sampai agak reda.."


"Hmm..." aku memeluk lututku untuk menetralkan kepanikanku.


"Kinan...apa kamu takut? Atau kedinginan? Tubuhmu bergetar seperti itu .."


Aku menghela nafas panjang berulangkali. Dan saat tatapan kami bertemu, kekhawatiran terlihat jelas diwajah pria yang masih bertahan disudut hatiku ini.


"Tidak apa-apa, aku hanya masih kaget dengan kilat yang menyambar tadi. Kupikir akan mengenai kita. Maaf gara-gara aku, kita jadi terjebak disini..." aku hanya bisa tersenyum kecil.


"Hmmm....bagiku semua ada hikmahnya, setidaknya aku masih bisa merasakan kebersamaan kita he..he.."


Senyumku memudar mendengar ucapannya itu. Masih saja suka menggodaku.


" CK... jangan suka menggodaku, kamu tuh mau jadi suami orang, jaga perasaan istrimu dong.."


" Bahkan aku sendiri tak bisa menghentikannya Kinan..." ucapannya yang dalam mulai terdengar serius.


Aku hanya bisa diam , tak tau harus berkata apa lagi.


" Aku menyerah, jadi biarkan aku seperti ini...bukankah perasaan ini juga anugerah, tak baik menolaknya kan..."


Aku berusaha mencerna ucapannya itu. Apakah aku juga harusnya sepertinya? Selama ini aku berusaha menghindar dan mengelak bahwa rasa ini masih ada.


Kulihat mas Ryan memejamkan mata, bertumpu pada kedua lengannya. Dibawah tempat duduknya menetes sesuatu, mendung membuat suasana yang temaram tidak jelas aku melihatnya.


Dengan pelan tanganku terulur, dan meraba tetesan itu. Terasa pekat, saat kulihat lebih dekat, berwarna merah... Astaghfirullah...ini darah. Kenapa dia diam saja sih...


Bagaimana ini? Meski aku orang awam tentang medis, namun bukankah pendarahan harus tetap dihentikan? Ah iya ...harus dibalut...

__ADS_1


Kucari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk membalutnya. Panik semakin membuatku bingung sendiri, sementara pria itu masih saja terpejam...


__ADS_2