
Saat aku tergesa dalam langkahku, akhirnya aku menemukan ibu yang berada dalam pelukan mas Ryan dengan derai air mata dan tatapannya yang kosong itu membuatku semakin panik.
"Ada apa? ibu kenapa?"aku duduk disebelah kiri ibu dan mengusap lengannya.
"Kinaaaan.." kini ibu ganti berhambur memelukku.
Kualihkan pandanganku pada mas Ryan, mencari jawaban darinya. Namun dia hanya menatapku dengan nanar..
"Devaaaan...." suara ibu semakin melemah, akhirnya tak sadarkan diri di pelukanku.
"A..apa yang terjadi dengan mas Devan?"suaraku tercekat saat ibu memanggil nama mas Devan diantara alam bawah sadarnya.
"Kamu jaga ibu dirumah aku akan kerumah sakit..."ucap mas Ryan seraya menggendong tubuh ibu yang tak sadarkan diri menuju kamar.
" Aku ikut..."aku membuntutinya sampai kamar ibu
"Tidak, kamu dirumah aja!! Biar aku yang memastikannya"sahut mas Ryan tegas.
"Aku istrinya!! Aku harus ikut...ada bi Sumi dan pak Joko yang jaga ibu..."aku mulai membentak, hingga dia terlihat terkejut mendengar nada tinggi dari mulutku.
Jantungku berdetak kencang, diiringi dengan bulir air mata yang mulai membasahi pipi. pikiranku berkelana, apa yang terjadi dengan mas Devan hingga ibu seperti itu, dan mas Ryan harus kerumah sakit? Mengapa semua orang seakan tak mau menjawab pertanyaanku?
__ADS_1
Benarkah mas Devan kecelakaan? Bahkan baru beberapa jam yang lalu dia menelfonku.
" CK...keras kepala..!!"gumamnya tak jelas, lalu dengan langkah lebar dia berjalan keluar kamar.
Saat bertemu pak Joko dan Bu Sumi yang terlihat cemas itu, mas Ryan berhenti sejenak.
" Bi Sumi, tolong jaga ibu...kami akan ke rumah sakit..."
" Iya mas...ee.. hati-hati..."
Mas Ryan mengangguk lalu mengambil kunci mobil yang ada dilaci nakas sebelah televisi.
Mas Ryan mengemudi dengan cukup kencang. Kami yang diliputi suasana tegang tak saling berbicara sekalipun. Hanya helaan nafas ku yang berulang kali terdengar untuk menetralkan pikiranku yang mulai berkecamuk.
Dengan cepat, mas Ryan segera turun dan meninggalkan ku yang masih syok karena membaca tulisan di tempat itu.
Instalasi Pemulasaraan Jenazah.
Seketika air mataku mulai mengalir deras. Ya...Allah jangan biarkan ini terjadi lagi, kumohon jangan katakan bahwa semua ini benar.
Detak jantungku semakin tak beraturan saat aku mulai membuka pintu mobil dan turun dengan perlahan.
__ADS_1
Kulihat mas Ryan sudah keluar dari ruangan itu dengan wajah kalut. Dia menatapku sejenak kemudian duduk dibangku dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Akupun berjalan berusaha melangkah meski terasa begitu berat. Berulang kali kuambil nafas panjang, karena isak tangisku mulai menghambat oksigen yang masuk dalam tubuhku. Dadaku berdebar hebat saat aku mulai memasuki ruangan yang dingin itu, namun dengan cepat mas Ryan menghalangi langkahku.
"Kinan...jangan..." ucapnya sambil menatapku dan menggelengkan kepalanya.
"Aku harus melihatnya, tolong jangan halangi aku...." ucapku memelas.
Mas Ryan tetap menahanku dengan meraih lenganku.
" Aku benar-benar ingin melihatnya langsung .." meski rasanya tak berdaya aku tetap mempertahankan egoku.
Dengan pelan kuhempaskan tangannya dari lenganku, lalu kakiku melangkah masuk kedalam. Disana ada seorang dokter dan dua orang lagi entah siapa ..didepannya terbujur kaku sosok tubuh yang tertutup kain putih.
"Saya istrinya pak, saya ingin melihatnya...."
Dengan tangan bergetar kuberanikan diri membuka kain putih itu.
Sebuah wajah tampan yang kukenal kini menjadi pucat. Yang tertidur dengan tenang tanpa helaan nafas. Kuusap setiap jengkal wajah itu, dahinya masih tersisa darah merah yang sudah mengering...
Tiba-tiba kakiku terasa lemas tak mampu menahan beban tubuhku sendiri. Saat kesadaran ku mulai menguap, seseorang dibelakang menangkap ku.
__ADS_1
Sekali lagi aku harus mengalami nya. Mengapa disaat aku memantapkan hati untuk menerimanya, dia malah menghindar untuk selamanya? Semoga ini bukan hukuman yang Tuhan berikan padaku, karena telah mempermainkan ikrar sebuah pernikahan...
Mas Devan, meski sangat berat, aku akan berusaha ikhlas. Terima kasih telah membuat ayahku bangga saat kau jabat tangan tuanya dan berjanji untuk menjagaku seumur hidupmu. Maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang kamu inginkan...maafkan aku..