Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Pertanyaan ibu


__ADS_3

Dini hari itu mendadak gaduh.


Dua orang pria tetangga kami, mengangkat tubuh mas Ryan ke mobil.


Aku segera menuju kekamar mengganti baju dan mengambil tas kecil berisi dompet dan ponselku.


Setelah itu aku berlari menuju mobil yang siap dihalaman.


Aku duduk disamping sopir, sedangkan ibu mendampingi putranya yang belum sadarkan diri dibelakang.


Mobil hitam itu segera melesat menuju rumah sakit terdekat membelah malam yang masih larut itu.


Kedua tanganku terasa dingin karena cemas. Sesekali kutengok kebelakang melihat ibu yang tak kalah cemas dengan kondisi anaknya itu.


Hampir satu jam perjalanan turun dari daerah pegunungan yang cukup panjang itu, akhirnya mobil berbelok kesebuah rumah sakit yang berada di daerah perbatasan dengan kota.


Para petugas IGD bertindak sigap membawa tubuh mas Ryan menuju ruang tindakan.


Sementara ibu menunggu diruang tunggu bersama pak Didik suami Bu Rismi, aku mengurus administrasi.


Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang tindakan.


"Keluarga saudara Adryan..."


"Saya dok.." ibu segera beranjak dari duduknya dan menghampiri dokter.


Akupun mengikutinya.


"Bagaimana keadaannya anak saya dok..."


"Tenang Bu, berdasarkan pemeriksaan sementara, saudara Adryan mengalami mononukleosis atau demam kelenjar yang disebabkan oleh infeksi virus EBV. Sambil menunggu pemeriksaan laboratorium, pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat inap..."


Meski tak begitu familiar dengan penjelasan dokter, aku lega penyakitnya segera ditangani oleh medis.


Beberapa saat kemudian, kami sudah berada disebuah ruang rawat inap VIP.


Hampir pukul tiga pagi, ibu dan aku akhirnya berbagi sofa untuk istirahat sedangkan pak Didik diminta ibu segera pulang.


Entah berapa lama kemudian, masih dengan kantuk yang kurasakan, terdengar suara seseorang memanggil namaku.


"Kinan...Kinan...!!"


Aku terhenyak dari tidurku. Dan karena gerakanku yang spontan, ibu juga ikut terbangun.


"Dia mengigau Bu..." ucapku saat mata ibu menatapku.


Kami berdua segera mendekati tempat tidur pasien.


Mas Ryan terlihat gelisah meski dengan mata terpejam. Suhu badannya juga masih panas.


"Kinan..jangan pergi" guman pria itu begitu jelas hingga membuatku terbelalak kemudian perlahan menatap ibu yang mengernyitkan matanya padaku.


"Kenapa dengannya??"


"Ibu...namanya juga mengigau, sebaiknya ibu kembali istirahat, Kinan akan memanggil suster ya.


Aku menuntun ibu ke sofa, agar mau istirahat kembali. Lalu kupencet tombol untuk memanggil perawat.

__ADS_1


"Tolong sus, dia mulai gelisah dan sepertinya tambah demam..."


"Oh iya, sebentar ya..."


Kuperhatikan perawat wanita tadi memeriksa beberapa hal pada pasiennya itu.


"Saya sudah menambahkan turun panas pada cairannya, semoga bisa cepat bereaksi ya..." ucapnya sambil tersenyum padaku.


"Terima kasih sus.."sahutku padanya saat dia meninggalkan kamar.


Kutoleh ibu kembali lelap dalam tidurnya, lalu kudekati mas Ryan yang sudah tak gelisah lagi.


"Hei...kenapa kamu menyebut namaku? Apa kamu sedang berada dimasa lalu hmm..."aku berbicara padanya dengan pelan takut membangunkan ibu.


Kuusap telapak tangannya yang terpasang selang infus.


"Tolonglah...jangan membuatku dalam masalah, apa yang harus kujelaskan pada ibu nanti?"gumanku lagi


"Cepatlah sembuh, aku sungguh mengkhawatirkan mu..."kutatap wajah itu, terlihat begitu nyenyak.


Lalu aku kembali kesofa disamping ibu. Kuambil ponsel dan mengetik sebuah pesan untuk Tania.


"Sahabatku Tania yang comel, maaf baru membalas pesanmu. Rencananya besok pagi aku ingin menemuimu, tapi sepertinya kencan kita harus tertunda. Saat ini aku sedang menemani ibu mertuaku dirumah sakit S. Bila urusanku selesai, aku pasti langsung menemuimu bumil yang syantik...."


Hhh...aku mulai membayangkan reaksi si Tania saat mengetahui kisah hidupku.


Sayup-sayup terdengar suara Adzan subuh.


"Alhamdulillah... sudah subuh ternyata..."


Setelahnya aku segera kembali ke kamar rawat inap untuk membangunkan ibu.


Kuusap lengan ibu, agar tak membuatnya kaget.


"Ibu..."


"Hmmm...Kinan..."


"Sudah subuh..."


"Ah ...iya.."ibu beranjak dari duduknya dan menghampiri putranya yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Apa dia mengigau lagi...?" tanya ibu tanpa menoleh padaku.


" Tidak Bu, sepertinya demamnya juga mulai turun..."ucapku menyusul ibu yang berdiri disebelah tempat tidur mas Ryan


"Kinan...ibu merasakan sesuatu yang mengganjal dihati, apa kalian menyembunyikan sesuatu pada ibu..?"


Deg...deg..bagaimana ini?


Pria tengil, bangunlah!! Kamu harus bertanggung jawab...!!


"Ibu .. banyak hal yang ingin Kinan ceritakan pada ibu, namun takut kalau menceritakan semuanya akan menyakiti hati ibu...Kinan bingung Bu..."


"Hhh...baiklah, nanti kalau Ryan sudah sembuh kita bicarakan lagi dirumah ya...ibu mau sholat dulu..." ucap ibu meninggalkan ruangan menuju mushola yang berada satu lantai dengan ruangan ini.


Aku hendak kembali kesofa, namun ujung bajuku tersangkut sesuatu.

__ADS_1


Kuarahkan pandanganku ke bajuku yang tersangkut itu, ternyata bukan...ada jemari yang menjepit ujung bajuku itu.


" Kamu udah bangun?..." meski masih sedikit membuka matanya, kulihat dia tersenyum kearahku.


"Selamat pagi..." gumannya tak begitu jelas.


" Hmm...pagi..apa yang kamu rasakan? apa masih pusing..?"


" Ya..sepertimu yang pusing menjawab pertanyaan ibu.."


"CK..semua gara-gara kamu...!"


" Kok aku sih...?"


"Kamu sih pake mengigau panggil-panggil namaku segala..."


" Hah..benarkah? Habislah kita...!! Beritahu perawat agar memberiku obat tidur, biar tak kena intrograsi ibu.."diapun nyengir


"Huh... bisa-bisanya kamu becanda mulu..."ucapku sambil berjalan meninggalkannya.


"Kinan.. kemarilah, apa kamu tak mengkhawatirkan aku.."


"Nggak..."kubiarkan saja dia dengan protesnya, aku kembali merebahkan diri disofa sambil memainkan ponselku.


Beberapa saat kemudian ibu masuk kembali kekamar.


"Ryan...kamu mau kemana?" ucap ibu.


Seketika aku bangkit dari sofa, merasa tak enak pada ibu membiarkan mas Ryan turun dari tempat tidur seorang diri.


"Aku mau ke toilet Bu...nggak papa kok, aku bisa sendiri..."ucapnya sambil melirikku


"Baiklah ... panggil ibu kalau kau kesulitan menurunkan celanamu..." sahut ibu tanpa dosa.


" Astaga ibu...aku bukan anak TK .."


Aku menahan tawa, melihatnya malu karena ucapan ibunya.


"Ibu...Kinan mau membersihkan diri dirumah, apa ada yang harus kubawa kesini?"


"Ah iya, tolong bawakan baju ganti untuk ibu dan Ryan ya...kamu pulang sendiri nggak papa kan?"


"Nggak papa Bu, Kinan sudah pesan taxi online, nanti kesininya sama pak Joko...."


"Hmm ..baiklah, hati-hati ya..kabari ibu saat sampai dirumah.."


"Iya Bu, Kinan pergi ya.. assalamualaikum.."


"Waalaikum salam..."


Akupun melangkahkan kakiku menuju halaman depan rumah sakit itu, karena taxi yang kupesan tadi sudah menungguku.


Sesampainya dihalaman depan aku seperti melihat dua orang yang kukenal. Mataku tak bisa melihatnya dengan jelas, karena beberapa kali terhalang oleh hilir mudik pengunjung maupun petugas rumah sakit ini.


Saat aku masuk kedalam taxi, aku masih saja memperhatikan sosok yang persis Adel dan seorang pria yang tak kukenal.


Mungkin Adel akan menjenguk calon suaminya.

__ADS_1


__ADS_2