Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Tak mampu menghindar


__ADS_3

" Astaghfirullah...!!" Mbak Vanya melotot pada kami berdua. Aku yang tadinya ingin meninggalkan mereka,kini menjadi patung tak bisa melanjutkan langkahku karena tatapannya itu telah membuatku jadi tersangka.


"Jadi kamu mencintai kakak iparmu, Ryan?!?!? Kamu tu benar-benar parah!! Kalian nggak selingkuh kan?"ucapnya masih dengan emosi.


"Vanya...stop!!!Jangan berasumsi dengan pikiranmu yang sempit itu.."


" Aku nggak mau tau, sekarang duduk dan jelaskan sebelum aku tambah emosi dan kontraksi sekarang juga..."


Ancaman itu membuatku ikut bergidik. Seketika aku menghampiri lalu duduk disamping wanita hamil itu.


"Mbak Vanya...sabar ya, jangan melahirkan dulu, belum waktunya kan...biar Kinan jelaskan ..memang dulu kami sempat dekat seperti yang mbak Vanya lihat difoto-foto itu. Namun setelah kami pisah , ternyata aku berjodoh dengan kakaknya...ha..ha..dunia begitu sempit kan.."aku berusaha tersenyum.


Kulihat Mbak Vanya masih meragukan ceritaku.


"Dan jangan khawatir, dia juga sudah punya calon, mungkin dalam waktu dekat Mbak Vanya akan menerima undangan nya..."aku menoleh kearah mas Ryan


"Jadi kamu sudah punya calon ya..." mbak Vanya menoleh kearah mas Ryan yang mengerutkan dahinya.


Melihat itu, akupun memelototinya agar mau bekerja sama.


" Ah ..iya tentu saja, kenapa kamu jadi cerewet seperti ibuku sih.."sahut pria itu.


"Aku hanya khawatir kamu jadi bujang lapuk, Ryan..."mbak Vanya tertawa sambil menahan perutnya yang ikut bergerak karena tawanya itu.


"Sialan..."


Beberapa saat kemudian suami mbak Vanya menjemput istrinya itu. Rasa lega mengantarkan wanita hamil itu ke halaman.


" Terima kasih ya Ryan...dan Kinan , kami pulang dulu..." mbak Vanya tersenyum lepas "Hei... menurutku kalian memang pantas jadi suami istri.."


Aku tersentak dan reflek bergerak selangkah menjauh dari mas Ryan, karena ternyata kami berdiri bersebelahan cukup dekat.


Terdengar tawa begitu jelas dari mbak Vanya yang sudah masuk dalam mobil seraya melambaikan tangan pada kami berdua.


"Syukurlah dia cepet pulang...kalo nggak, mulutnya kemana-mana..."guman mas Ryan yang masih berdiri disampingku.


" Untung ibu tak pulang bersamamu..." sahutku sambil melangkah masuk rumah.


" Hmm...kamu takut ya ketahuan ibu, kalo kita emang dekat..." suara mas Ryan yang mengikutiku kedalam rumah.

__ADS_1


Aku mendengus kesal dan membalikkan badanku hingga berhadapan dengan pria yang masih terkekeh itu.


"Aku bukannya takut ya...tapi aku malu, bisa-bisanya aku menggaet kakak beradik seperti kalian, apa yang akan ibu pikirkan?"


" Ibu pasti berfikir hanya kami yang pantas bersanding denganmu Kinan..." dengan santainya dia menjawab ku dengan senyumnya itu.


"Apa?!!!? Huh...aku baru tahu kalo kamu tuh nyebelin banget..." aku benar-benar pusing menghadapinya. Bagaimana bisa, dia seenaknya bicara seperti itu.


"Hei...kamu juga kenapa tadi bilang pada Vanya kalo aku sudah punya calon...kamu membuatku jadi pembohong tau nggak?"


" Hmm...kamunya aja belum nyadar, sudahlah aku capek..." aku mengayunkan kakiku lagi menuju kamar, meninggalkannya dalam penasaran karena ucapanku tentang calonnya.


"Kinan..!!apa sih maksudmu?"


Aku masih mendengar suaranya yang penuh dengan tanda tanya.


Sore itu aku baru saja keluar dari kamar mandi, saat kudengar suara ponselku yang berada dimeja rias berdering berulangkali. Kulihat nama ibu tertera disana..


"Assalamualaikum ibu.."


"Waalaikum salam, Kinan...apa Ryan sudah sampai rumah?"


"Maaf Kinan, ibu meninggalkanmu sendirian dirumah ...karena itulah ibu ingin kamu ikut Ryan besok untuk menyusul ibu, agar kamu tak kesepian dirumah.."


Hah, kenapa harus ikut mas Ryan sih, aku masih merasa sebal padanya.


"Ee...sebenarnya Kinan tidak apa-apa dirumah Bu, ibu jangan khawatir Kinan punya kesibukan kok.." ucapku mengelak.


"Tidak-tidak Kinan, ibu yang rindu padamu, ibu juga ingin mengajakmu pijat refleksi disini, atau kita bisa minum kopi sambil nonton drama kesayanganmu...ah banyak sekali yang bisa kita lakukan, jadi besok kamu harus sampai disini..."


"Baiklah Bu..."akhirnya aku menyerah, daripada harus mendengar ceramah mertua ku yang memang tak mau mengalah itu.


"Bawalah beberapa baju yang membuatmu hangat, karena disini begitu dingin dan sering turun hujan..."


"Iya Bu...apa ibu butuh sesuatu yang bisa Kinan bawa besok?"


"Tidak...semuanya sudah kubawa kok...ya udah kamu bilang sama Ryan ya, kalo besok kamu ikut dengannya... assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..." hhh...ternyata ibu belum bilang pada pria tengil itu. Padahal aku berniat tak keluar kamar agar tak bertemu dengannya malam ini.

__ADS_1


Sekarang mau tak mau aku harus menemuinya.


Dengan malas aku keluar kamar dan mencari keberadaan pria itu. Namun setelah mengitari rumah, tetap saja nihil. Apa dia tidur dikamarnya?


" Mbak Kinan sedang apa? Nyari mas Ryan?" tanya bi Sumi yang datang dari arah dapur


"Iya Bi..ada pesan dari ibu, apa Bi Sumi tau dia dimana?"


"Iya mbak, tadi mas Ryan bilang mau keluar sebentar, dan bibi lihat dia langsung keluar bawa motornya.."


" Oh ..ya udah, biar kutunggu ... "


"Apa mbak Kinan mau kumasakkan sesuatu untuk makan malam?"


"E..Kinan tidak usah Bi, untuk yang lain aja.." aku menjatuhkan diri disofa depan televisi.


Malam ini aku berniat makan malam dengan mie cup, yang sudah kubeli beberapa waktu yg lalu. Sejak operasi dulu, aku mematuhi nasehat dokter, namun setelah tiga bulan, aku tak bisa menahan lagi rindu untuk menikmati mie cup.


Tentu saja aku akan menikmati mie instan itu tanpa sepengetahuan yang lain, kalo sampai sampai ada yang tau dan lapor pada ibu, bakalan habis aku diomeli siang malam.


Aku masih chattingan dengan Tania, dia sedang menceritakan keluarga barunya yang cukup menyenangkan. Awalnya sih seperti biasa, mertuanya sering menegur karena tak sepaham dengannya.Namun sekarang dia sedang hamil anak kembar, dan sikap mertuanya langsung berubah 180°. Kini Tania begitu disayang karena dianggap bawa hoki berlipat ganda bagi keluarganya.


"Assalamualaikum Kinan.."


"Waalaikum salam..."segera kuturunkan kaki dari posisi nyamanku, yang masih selonjoran disofa.


"Kemarilah..." mas Ryan memainkan jarinya agar aku mengikutinya.


Ternyata dia menuju meja makan, dan meletakkan bungkusan disana.


"Duduk..!" perintahnya sambil mengambil mangkuk dari rak piring .


Meski penasaran dengan apa yang dilakukannya, akupun mengikuti semua perintahnya.


Beberapa saat kemudian, dia memindahkan bungkusan yang dia bawa tadi ke dua mangkuk yah telah disiapkannya.


"Aku membelinya didekat rumahmu, masih jadi favorit mu kan?"


Aku menelan ludah, mencium aroma mie Bangka dengan pangsit dan ayam panggang cincang diatasnya.

__ADS_1


"Jangan mencari mie cup yang ada dilemari karena sudah dinikmati oleh pak Joko tadi..." ucapnya sambil menarik kedua sudut bibirnya dan menahan tawa melihat reaksiku yang sedang syok berat...


__ADS_2