Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Dimana dia ?


__ADS_3

Pagi ini Tania mengajakku melihat pemandangan sekitar, namun karena jalan yang cukup terjal dan kondisi tubuhnya yang hamil besar itu membuatku tak berani mengajaknya sampai jauh. Alhasil kini wajahnya selalu cemberut, dan tak merespon dengan baik gurauanku.


Dan aku teringat bahwa aku harus bertemu dengan Adel, jadi kupikir inilah saatnya agar tak terjadi kecanggungan saat kami tiba-tiba bertemu nantinya.


"Hei bumil yang comel, maukah kamu menemaniku bertemu dengan calon pengantin wanita?"


Seketika Tania menoleh kelihatan tertarik dengan ucapanku.


"Calon manten...?" kedua mata bulatnya mengedip dengan cantiknya.


" Iya...calonnya mas Ryan, apa kamu nggak penasaran hmm..."


"Mmm...boleh deh daripada nggak kemana-mana..rumahnya dimana? Jauh nggak?"tanyanya


" Tuh kelihatan...he..he..."


" Ya elah, di situ-situ juga..."


" Hayuk...sis..." aku menuntunnya melangkah berbelok arah menuju rumah Adelia yang tak jauh dari tempat kami berada.


Beberapa menit kemudian, kami sampai dihalaman rumah yang pintunya terbuka lebar itu.


"Assalamualaikum..." sapaku agak lantang karena rumah terlihat sepi.


Karena belum ada jawaban akupun mengulangi salamku.


Tak lama, Adel muncul mengenakan apron yang berwarna pink. Rambut dikepang dua, dan terusan motif bunga membuatnya tambah cantik saja. Aku merasa lega saat kulihat raut wajahnya berbinar melihat kedatangan kami.


" Waalaikum salam, Eh...mbak Kinan ayo masuklah, silahkan duduk..."


Aku tersenyum dan mengajak Tania masuk kedalam rumah.


" Maaf ya mbak aku tinggal sebentar, mau membersihkan diri...bau dapur nih..he..he.."lalu diapun berlalu dari hadapan kami.


"Hei...Tania..., cantik kan calonnya mas Ryan .."


"Hmm..iya cantik.." sahutnya datar


Hhh...ini anak susah bener, mengembalikan mood nya.


Sesaat kemudian, Adel muncul dengan baki membawa makanan kecil dan teh hangat.


"Ahay...ni dia yang aku tunggu..." seru Tania melihat beberapa kue yang dibawa oleh Adel


Aku hanya bisa menoleh kearah wanita hamil itu dengan heran. Mudah sekali moodnya kembali hanya dengan makanan kecil itu. Tau begitu dari tadi kucarikan cemilan untuknya, tak perlu aku bingung menghadapinya yang sedang merajuk.


Adel pun terbahak melihat tingkah Tania yang mirip anak kecil itu.


"Adel...ini Tania, sahabatku dari kota...kebetulan dia berencana melahirkan dikota ini, tapi sebenarnya tinggal di Jakarta bersama suaminya...maaf ya tingkahnya agak absurb..."


"Enak aja..." Tania melotot padaku.

__ADS_1


Aku hanya bisa terkekeh menghadapinya.


" Oh..iya, sepi amat...apa orang tuamu sedang pergi?" tanyaku pada Adel


"Iya mbak, ayah dan ibuku masih muter kerumah saudara, seperti kebiasaan orang yang akan mantu .." sahut Adel kembali tersenyum.


Sebenarnya aku sekalian mencari tahu, apakah mas Ryan ada disini? Karena dari kemarin aku tak melihatnya, aku riskan bertanya pada ibu dan ibu juga tak menceritakan apapun tentangnya.


" Oh...maaf ya, kami mengganggumu...ini gara-gara ibu hamil yang ngambek pengen jalan-jalan, padahal kan jalanan terjal aku takut terjadi apa-apa..jadi kuajak dia kemari..."ucapku lagi


" Nggak apa-apa MBK, aku senang ada teman, dari kemarin sendirian dirumah, bete juga...jadi aku iseng membuat kue kering ini"


"Ee... sebenarnya, aku ingin minta maaf tidak terus terang padamu, Adel...katanya.. mas Ryan sudah menceritakan semuanya..." aku berusaha mengawalinya dengan sangat hati-hati agar tak menyakiti perasaannya


" Iya mbak, aku sudah tahu cerita tentang kalian...awalnya memang terasa sangat mengganjal dihati, namun semua sudah kupasrahkan pada takdir, aku harus bersyukur apapun yang akan terjadi nanti pasti terbaik bagi semuanya..."


Aku menghela nafas lega mendengar hal itu.


"Jadi selamat datang di keluarga kami adek ipar..."


" Tentu mbak Kinan akan selalu jadi kakak buatku, senang sekali menjadi bagian dari keluarga kalian..."senyuman Adel terlihat tulus, kurasa semua pasti akan baik-baik saja.


"Oh iya Adel..bolehkah aku membungkus kue buatanmu ini..?" ucap Tania dengan mulut masih saja mengunyah sedari tadi.


Seketika aku melotot pada Tania, benar-benar merusak citra orang kota ni anak.


"Tania...sopan dikit napa!" ucapku sambil menyenggol lengannya..


" Iya nih ... bawaan bayi tau!"


"Idiih...alasan!!"sahutku sambil geleng-geleng kepala.


" Ntar deh kalau kamu nyidam baru bisa ngerasain..." Tania masih saja membela diri dan memanfaatkan anak yang ada diperutnya itu biar dapet gratisan.


Hampir satu jam kami bertiga larut dalam obrolan dan saat kami akan pulang, Adel membungkus kue buatannya itu untuk Tania.


Perjalanan pulang terasa agak berat untuk Tania, karena memang rumah ibu berada lebih tinggi dibanding rumah Adel, sehingga jalan yang kami lalui agak menanjak.


Sebuah mobil land Rover abu-abu berhenti disamping kami. Lalu keluarlah seorang pria yang mengendarainya.


" Assalamualaikum Kinan..apa kabar?"sapa pria itu


" Waalaikum salam mas Dika... Alhamdulillah sehat mas..."balasku


"Kalian mau jalan kemana? Mau aku antar?"


" Oh..kami baru saja selesai jalan, ini mau pulang kok, terima kasih ... "akupun tersenyum ramah


"Mm..baiklah, kalau gitu aku tinggal dulu ya...kalian hati-hatilah jalanan agak terjal... assalamualaikum" ucapnya seraya melangkah menuju mobilnya.


"Waalaikum salam..." ucap kami berbarengan.

__ADS_1


Mobil besar itupun kembali berjalan menjauhi kami.


Lalu kami kembali berjalan santai tipis-tipis, agar Tania tidak merasa lelah.


"Siapa dia?" tanya Tania


" Temannya mas Ryan .. asli orang sini, anak pak kades.."


"Single?"


"Hu um..duren "


"Wow..duren lagi pedekate ma jantik..."


"Hah?" aku menoleh padanya


" Ada janda cantik yang jadi inceran si duda keren kayaknya...."


"Hush..mana ada, dia tuh duren sawit...sarang duit, pasti banyak gadis yang ngejar dia, ngapain pedekate ma janda .."


" Mo sarang duit, sarang burung, sarang laba-laba sekalian...huh sayang sekali.."


"Maksudnya apa sih!"


" Muka kayak Don Juan gitu tak akan kubiarkan mendekati sahabatku ini.."ucap Tania berapi-api


Seketika aku tertawa lepas mendengar celotehan sahabatku itu.


" Trus pria yang seperti apa yang cocok dengan janda sepertiku ini, hmm?"


" Ada deh, yang pasti dia harus menyanyangimu apa adanya dan rela berkorban demi kebahagiaanmu...kalian pasti akan segera dipertemukan, entah besok, lusa, Minggu depan...hanya Allah yang maha tahu.."


" Amiin..."aku menghela nafas dengan berat, karena ucapan Tania itu memunculkan sosok pria yang harus segera aku lupakan.


Beberapa saat kemudian kami sampai rumah. Tania merebahkan diri disofa rumah keluarga dan aku berjalan menuju dapur, melihat Bu Rismi masih sibuk menyiapkan makan siang.


"Siang Bu Rismi, Kinan bantu apa nih..?"


"Eh mbak Kinan..udah biar saya saja, mbak Kinan pasti capek habis jalan-jalan.."


" Nggak kok Bu, saya hanya main ke rumah Adel...?"


" Oh..Adel pasti lagi dipingit ya, nggak boleh keluar rumah sampai hari H..."


" Masih ada ya, yang kayak gitu? setauku itu cuma adat jaman dulu ..."akhirnya aku hanya membantu Bu Rismi mengupas buah mangga


" Kalau disini masih ada mbak, satu Minggu menjelang hari H, pengantin harus tetap didalam rumah supaya orang-orang pangling saat dia jadi pengantin nantinya..."


" O.. gitu, pengantin pria juga?" aku masih penasaran dengan keberadaan mas Ryan..


" Nggak mbak, kalau pengantin pria yang penting tak bertemu dengan calonnya...biar kangennya semakin besar gitu deh..he..he..."

__ADS_1


Jawaban yang sama sekali tak memberiku petunjuk apapun..


__ADS_2