Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Kado terindah


__ADS_3

Pagi ini ibu mengajakku menyusuri jalan setapak dengan aliran parit yang mengalir deras disampingnya. Suara air jernih yang mengalir dari hulu itu begitu menjernihkan pikiranku. Seperti nada lagu yang menenangkan terdengar di telingaku.


"Kinan...lihatlah sungai kecil yang disana..." ibu menunjuk sebuah sungai dengan bebatuan besar dan mengalir air yang terjun rendah dikelilingi pepohonan hijau yang sangat indah.


"Cantiknya...Kinan pengen mandi disana..." mataku berbinar melihat pemandangan itu.


"Kalau kamu mandi disana, ada Jaka Tarub yang akan ambil bajumu..dan kamu harus jadi istrinya...mau?" ibu terkekeh melihatku melongo.


" Ihh...emangnya Kinan putri dari khayangan..." aku ikut tertawa


Seketika tawa ibu terhenti dan menghela nafas.


" Mungkin iya Kinan...ada dua Jaka Tarub yang sering mandi disana, dan kamu juga sudah jadi istrinya..."


" Eh..."


" Devan dan Ryan dari kecil hingga dewasa sering mandi dan menghabiskan waktu disana..."


Dan aku telah menjadi istri keduanya. Legenda masa kini, siapa yang menyangka kisah turun ranjang benar-benar kualami, meski mereka berdua bukan saudara kandung.


" Suatu saat nanti gantian kamu yang ngomel gara-gara kelamaan nunggu anak-anak mu pulang, bila itu terjadi carilah ditempat ini..."


"Apa ibu memarahi mereka berdua saat pulang dengan basah kuyup..."tanyaku kemudian


" Ibu menyambutnya dengan batang kayu, dan Devan selalu menjadi tameng bagi Ryan saat kupukul keduanya ...hhh...tak terasa waktu cepat sekali berlalu..." ibu terlihat sedih


" Kurasa aku juga akan menghukum mas Ryan bila tak bisa membuat anak-anaknya pulang tepat waktu.."ucapku terkekeh.


"Hmm...benar, ibu jadi tak sabar melihat anak-anak tengil berlarian saat kamu menghardiknya.." aku berhasil membuat ibu tersenyum lagi.


Sesaat kemudian kami melanjutkan perjalanan. Kamipun mengobrol tentang masa kecil mas Devan dan mas Ryan.


Ketika sampai pada jalan beraspal


sebuah mobil bak terbuka berhenti disamping kami.


"Bu Yahyu...kebetulan sekali, saya ingin menjemput anda dirumah, ternyata kita bertemu disini..."seorang pria bertubuh tambun turun dari mobil itu


"Ada apa pak Heri? "


"Ada investor yang tertarik pada ide desa wisata yang sedang direncanakan mas Ryan, dan beliau ingin sekali bertemu dengan Anda sekarang..."


" Begitukah...?"ibu menoleh kearahku


" Biar Kinan pulang sendiri Bu, kan sudah dekat.." ucapku pada ibu, bagaimanapun aku sudah tau jalannya


" Tapi.." ibu masih ragu padaku, mungkin ibu mengira aku akan tersasar padahal jalan aspal ini juga langsung menuju rumah.


" Nggak papa Bu...Kinan duluan ya, mari pak..." kuanggukkan kepala pada pria yang bernama pak Heri tadi.


"Hati-hati Kinan...langsung pulang ya..."


Akupun mengangguk dan melanjutkan langkahku.


Pagi ini beberapa ibu muda sudah berangkat kekebun kopi, akupun berjalan dibelakang rombongan para ibu itu.

__ADS_1


Suara obrolan merekapun mengusik telingaku.


" Oh iya jeng, suami si Milah meninggal lagi loh.."


" Hah...suami ketiganya?!!"


" Iya...bukankah sudah jelas, dia itu wanita bahu Laweyan kan..."


" Ih ngeri, ternyata didesa ini ada yang seperti itu ya...wanita panas yang selalu bawa sial"


" Iya, mungkin perlu rukyah juga tuh..."


Otakku mencerna obrolan itu, dan entah mengapa jadi kepikiran hingga aku sampai dirumah.


Saat masuk kamar hendak membersihkan diri, kudengar suara orang dari kamar mandi. Jadi kuputuskan untuk mandi dikamar ibu, karena badanku sudah mulai lengket ..


Setelah mandi di kamar ibu, kubawa tempat perhiasan yang kata ibu adalah mas kawin dari mas Ryan menuju kamar.


" Kinan..kamu dari mana hmm.."


Aku yang terpengaruh oleh obrolan para ibu muda tadi, refleks mundur saat mas Ryan akan menjangkau diriku.


Rasanya sungguh berat untuk dekat dengannya. Bagaimana bila aku juga wanita bahu Laweyan, pasti akan mencelakainya. Apa yang harus kulakukan...


" Kinan...ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu.."


" Aku.."


Bagaimana menjelaskannya.


Namun aku tak bisa bergeming dari tempatku berdiri.


"Maaf mas.. seandainya aku tahu perhiasan ini untukku, aku tak akan memilih yang semahal ini, sayang sekali uang yang kamu kumpulkan untuk membelikanku ini.."ucapku tanpa ekspresi.


Mas Ryan tersenyum, rambut basahnya yang belum tersisir membuatnya tampak lebih mempesona. Akankah pria itu akan mengalami sial bila dekat denganku....


" Jadi itu yang membuatmu seperti ini ... " dia berdiri dan kembali berjalan kearahku.


Makin mendekat, detak jantungku menjadi cepat, seketika serangan panik mulai menjalar.


" Jangan mas...jangan mendekatiku..."


Dengan pelan diusapnya lenganku hingga pada telapak tanganku yang bergetar dengan membawa tempat perhiasan tadi. Diambilnya kotak itu dan diletakkannya ditempat tidur..


" Kinan ... maaf bila aku terlalu memaksamu, tapi aku ingin kamu tau, apapun akan kulakukan untuk mendapatkanmu..jangan hiraukan benda itu bila kamu tak menyukainya.. kenapa tubuhmu bergetar seperti ini..." dia memelukku dengan erat meski aku berontak.


"Bu..bukan karena itu, a..aku takut.."


" Kenapa? Aku akan selalu ada untukmu, apa yang kamu takutkan.."


" Justru kalau kamu dekat denganku, aku takut mencelakaimu .. seperti yang terjadi pada mas Devan .." airmataku mengalir mengingatnya.


" Apa maksudnya?" dia melepaskan pelukannya dan menghapus air mata dari kedua pipiku.


Mas Ryan menarikku duduk di pangkuannya.

__ADS_1


" Bagaimana bila aku seorang wanita bahu Laweyan?"


" Bahu Laweyan? apa itu? "


" Wanita yang berulang kali menikah namun suaminya selalu meninggal ..."


" Oh ya...sejak kapan kamu percaya hal-hal mistik seperti itu? Jangan Kinan...jangan percaya lagi hal itu, percayalah pada takdir Allah..."


" Aku hanya takut kamu celaka..."


" Ssshh...pasti warga sini yang membicarakannya kan..."


Aku yang masih terisak hanya mengangguk.


"Kita orang muslim Kinan, hanya percaya pada Allah dan nabinya, jangan biarkan hal-hal yang akan menggoyahkan iman kita..."


Hatiku mulai melunak. Astaghfirullah...benar kata mas Ryan kenapa aku harus mempercayai hal-hal mistik seperti itu.


Kuusap wajahku dan kulihat senyumnya mengembang menatapku.


"Kalau kamu tak menyukai perhiasan itu, aku punya penggantinya yang pasti kamu akan menyukainya..."


Dia menggeser tubuhnya dan mengambil sesuatu dilaci.


" Kemarikan tanganmu..." ia meraih tangan kiriku dan memasangkan sebuah gelang disana.


Mataku terbelalak melihat benda yang melingkar di tanganku itu.


" Ini..." aku menatapnya dengan mata berbinar-binar.


" Kamu suka?"


Tak kusangka aku bertemu lagi dengan gelang pemberian ibuku yang sempat hilang dulu.


Seketika aku memeluknya dan diapun terdorong kebelakang hingga kami jatuh bersamaan ditempat tidur.


" Terima kasih ..." tanpa sadar kucium pipinya dengan posisi aku diatas tubuhnya.


"Hmm...sudah pinter merayu ya..sekalian minta bonusnya dong.." dengan pelan dia menarik tengkukku dan menyatukan bibir kami, mengecap dan ********** dengan lembut.


Sekali lagi aku terlempar dari dunia nyata.


Mataku mengerjap beberapa kali saat ciuman itu berakhir.


Aku segera beranjak dari atas tubuhnya sebelum ada yang mengeras sebelum waktunya.


"Bukannya aku tak suka semua perhiasaan darimu mas..."


"Ya..aku tau, kamu pasti menolak saat kuminta untuk memilihnya, jadi kupasrahkan Tania saja semuanya..."


"Itu terlalu mewah mas..."


"Tak apa Kinan ... setidaknya kamu akan teringat hari pernikahan kita..."


Aku tersenyum padanya. Teringat hari pernikahan kami ya...hari yang begitu aneh bagiku, seakan takdir membalikkan hidupku begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2