
Setelah mbak Tya, membantuku melepas hiasan dan aksesoris yang menempel dibajuku, aku segera mandi dengan air hangat. Tubuh ini terasa begitu lelah, hingga saat keluar dari kamar mandi dan melihat tempat tidur itu aku langsung ambruk diatasnya.
Tak butuh waktu lama, akupun terpejam seakan nyawaku terlepas dari raga dan tak dapat merasakan apapun lagi.
Tanpa mimpi, tanpa gelisah, seakan mati rasa. Hingga samar-samar kudengar suara memanggil namaku.
"Dek....bangun dong...." kurasakan usapan lembut dipipiku.
Dengan mata masih terasa berat, kucoba untuk membuka mata. Sedikit demi sedikit terlihat siluet wajah yang kukenal.
" Mmmmm..." rasanya nyawaku belum juga terkumpul.
" Bangunlah dulu...nanti boleh tidur lagi, makan dulu yuk ...."
Suara-suara itu begitu menggangguku, dengan mata masih terpejam kucoba mengerutkan dahi , mengumpulkan kesadaran dan menyesuaikan dengan cahaya yang mulai menyilaukan kedua mataku...
"Yuk ah...bangun dulu..." wajah pria itu tersenyum saat aku berhasil membuka mata.
"Mas..Ryan..." kulihat wajah itu sekali lagi dengan menyipitkan kedua mataku yang masih terasa sangat berat itu.
Senyuman itu sungguh mengembangkan hatiku, kenapa pria ini selalu berhasil membuatku bahagia.
Eh...sebentar, kedua mataku melebar menyadari mas Ryan berada begitu dekat dengan wajahku. Reflek kudorong tubuhnya hingga hampir terjungkal kebelakang. Akupun terduduk menatapnya dengan panik...
" Kenapa kamu dikamarku!!!"ucapku dengan nada tinggi sambil menarik selimut dan menutupi tubuhku karena aku hanya memakai piyama lengan pendek.
Aku masih menatapnya dengan nanar saat dia mengerutkan dahinya lalu tertawa lebar membuatku semakin ingin marah padanya.
" Sayangku....lihatlah sekelilingmu, kamulah yang ada dikamarku..jadi kenapa berani-beraninya tidur dikamarku hmm ...?" mas Ryan kembali mendekat dan membuatku bergidik.
Kuedarkan pandanganku keseluruh sudut ruangan ini...
Cup...sebuah kecupan singkat mendarat dipipi membuatku terlonjak.
Kukumpulkan kembali semua kesadaran ku saat melihat senyuman kembali menghiasi wajah pria yang selalu mengisi hatiku itu.
__ADS_1
Astaghfirullah...apa tadi bukan mimpi? Apa benar aku telah menikah dengannya....
" Sudah ingat...nyonya Adryan..." dia mulai menarikku dalam pelukannya dan menciumi ujung kepalaku
Benar ... aku benar-benar sudah menikah, dan pria disampingku adalah suamiku. Ya...Allah...
Aku mulai merasa geli mengingat tingkah reflekku tadi.
" Maaf..."gumanku kemudian.
" Kamu sungguh menggemaskan..sayangku..."
" Jam berapa ini? Aku tertidur lama ya..."
" Ini jam sembilan malam, dan kamu tertidur hampir tujuh jam lamanya...kamu benar-benar menakutiku ..." mas Ryan melepaskan pelukannya dan berhadapan denganku.
" Kamu harus makan, aku nggak mau kamu sakit kayak dulu hingga berakhir dirumah sakit...mau makan dikamar aja? biar kuambil kan.."
"Diluar aja...apa diluar masih ada orang ?"aku beranjak dan mengambil sisir dimeja rias. Merasa malu melihat pantulan wajahku dicermin yang terlihat kusut ..
" Ya...hanya beberapa warga yang masih meramaikan samping rumah, karena kupasang proyektor dengan pertunjukan wayang kulit kesukaan mereka ..."
" Mereka memaklumi saat kuceritakan kondisimu kurang fit...dan sepertinya mereka lebih tertarik tentang drama percintaan kita yang telah menyebar ... jadi jangan kaget bila tiba-tiba ada produser film yang ingin mengangkat cerita kita dalam sebuah film..."
Aku tertawa kecil sambil memakai cardigan dan kerudung instan.
Saat sudah siap untuk keluar kamar, dan aku berbalik hingga berhadapan dengannya, dia masih saja menatapku.
" Dek .. terima kasih telah menerimaku kembali..." diusapnya kedua lenganku
" Dan kamu berhutang banyak penjelasan padaku..."
" Hmm...baiklah aku akan menyiapkan kopi, karena ceritaku sangat panjang...sekarang ayo kita makan..." diraihnya jemariku dan mengajakku keluar dari kamar kami.
Suasana dalam rumah memang sudah sepi, mungkin mereka lelah dengan acara hari ini. Namun diluar rumah masih terdengar banyak orang mengobrol dan tertawa mengiringi lelucon dari dalang milenial yang sedang naik daun itu.
__ADS_1
Dimeja makan sudah ada dua porsi selat solo hangat dan wedang jahe madu yang akan menambah daya tahan tubuh.
" Apa kamu ingin makan nasi saja?" tanya mas Ryan
" Nggak mas, aku makan ini aja...aku suka kok...kamu yang pasti nggak kenyang dengan ini.."
" Hmm...tadi aku udah makan bersama teman-teman kantorku, tak kusangka mereka jauh-jauh bersedia datang sore tadi...padahal aku tak mengundang siapapun kecuali Vanya..."
" Ah..mbak Vanya yang hamil itu ya, dia pasti meledek kita kan .." ucapku sembari menikmati makananku
" Yeah ..gitu deh, tapi cuma sebentar karena kusodorkan si Tania agar menemaninya. Dan kedua bumil itu langsung akrab..."
Aku terkekeh membayangkan Tania bertemu dengan teman ngobrol yang seimbang.
Setelah makan malam, aku kembali kekamar mandi dan membersihkan diri, karena memang hari ini haidku sangat banyak, jadi aku sering mengganti pembalut. Untung aku punya stok banyak dari bulan lalu yang dibelanjakan oleh pria yang ternyata kini jadi suamiku itu.
Keluar dari kamar mandi, kulihat mas Ryan bersandar ditempat tidur dan memainkan ponselnya. Dan wajahku memanas hanya dengan melihatnya memakai celana boxer yang selama aku mengenalnya tak pernah melihatnya pakai celana sependek itu.
"Kemarilah..lihat hasil foto tadi siang..." mas Ryan memintaku mendekatinya.
Dengan ragu aku naik ketempat tidur dan duduk disampingnya. Lengan kirinya langsung melingkari tubuhku.
Dia menunjukkan foto-foto yang diambil tadi siang dalam ponselnya. Beberapa memang terlihat kocak saat adegan bersama Tania dan Adel serta suaminya. Beberapa lagi terlihat kemesraan kami berdua yang memang diambil oleh profesional hingga terlihat sangat natural.
" Kita memang serasi ya..." gumannya kemudian.
" Tapi kayaknya emang fotografer nya yang keren deh mas he..he.."ledekku
" Eh...kenapa jadi muji cowok lain ...aku cemburu nih.."dia menoleh kearahku dan menarik sudut bibirnya.
Jarak kami yang begitu dekat, membuatku tersentak saat lengannya yang melingkar di pinggangku, menarik lebih dekat hingga tubuh kami menempel tak berjarak.
Detik kemudian, bibir kami kembali bertautan, saling menghantarkan getaran rindu yang telah lama terpendam. Seluruh tubuhku melemah, begitu pasrah saat sentuhan-sentuhan lembut mulai kurasakan. Aku hanya bisa mengerang saat tangannya mulai menjalar kedalam piyamaku dan menyentuh kulit punggungku.
Kami melepaskan ciuman karena kehabisan oksigen, namun bibirku masih saja merasakan saat dia memanjakan bibirku selama beberapa menit tadi.
__ADS_1
Kupejamkan mata, saat dia merebahkan tubuhku dan bibirnya dengan nakalnya menjelajahi setiap jengkal wajahku, menjalar ke leherku menghisapnya beberapa kali membuatku terengah-engah, tak mampu mengendalikan diriku lagi untuk meremas lengannya yang kekar.
Rasanya begitu asing namun sangat nikmat.