
"Sudah lama ibu berniat mendekatkan Ryan dan anaknya pak Agung, namun saat aku mengatakan pada Ryan, saat itu sudah punya pilihan sendiri dan dia bilang sangat serius dengan gadisnya itu. Sempat ibu tak mempercayainya, karena dia tak kunjung mengenalkannya, bahkan fotonyapun tak pernah dilihatkan pada ibu. Namun melihat kesungguhannya, ibupun dengan sabar menunggunya berkomitmen. Tapi...akhirnya kini dia sendiri lagi, jadi apa salahnya ibu melanjutkan niat ibu dulu..."
Sedih rasanya mendengar kisahku sendiri dari kacamata orang lain. Ingin sekali menertawakan kisahku yang terasa cukup unik, karena harus berputar-putar pada poros yang sama.
Sudahlah...bukankah semua sudah tertulis dalam suratan takdir, kita sebagai manusia hanya bisa berencana, namun hanya Allah yang Maha Berkehendak, kita harus tetap berbaik sangka terhadap takdirNya.
"Kinan...kamu melamun nak..? Apa kamu teringat Devan?"
Aku menatap ibu , seraya mengangguk dan tersenyum. Aku tak mau ibu menganggapku menyesal karena telah menikahi putranya itu.
"Sebelumnya ibu tidak bisa mengikhlaskan kepergian Devan, namun saat menyadari semua ada hikmahnya, Allah telah menggantinya dengan seorang putri, ibu sangat bersyukur Kinan...dulu setelah Devan beranjak remaja, ibu ingin sekali punya seorang putri, namun dokter menyarankan agar rahim ibu diangkat karena tumbuh tumor ganas..."
__ADS_1
"Jadi mas Devan anak tunggal?" tanyaku meski mas Ryan pernah bercerita bahwa dia anak angkat.
" Ah ..iya, memang hanya Devan yang lahir dari rahimku sedangkan Ryan adalah anak dari sepupu ayahnya Devan. Kedua orang tuanya meninggal. Mereka beda tiga tahun, namun dari kecil sudah sangat dekat dan saling menyayangi. Kamipun tak pernah membedakannya dengan Devan..."
"Ibu...terima kasih telah membawa Kinan dalam keluarga yang hangat ini...terima kasih telah memberi Kinan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama hilang..." aku tersenyum menatap ibu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ibupun terisak dan memeluk ku.
"Kinan merasa ibu kandungku hidup kembali... dalam sosok yang berbeda, Bagi Kinan, ibu adalah ibu, mertua, teman, partner ke salon..he..he..."sahutku seraya mengusap punggung ibu.
"Ah..iya..ya, sekarang kita adalah partner. Ayo kita jalankan misi agar Ryan menerima anak pak agung !!! Bantu ibu ya Kinan.." ujar ibu bersemangat kembali.
__ADS_1
"Baik!! Siap laksanakan..." jawabku seraya hormat padanya. Meski ada hal kecil yang masih mengganjal disudut hati ini, dan itu membuatku merasa lemah.
Bagaimanapun aku berhutang banyak pada mereka semua, tak ada salahnya bila aku bisa menjadi jalan untuk kebahagiaan ibu dan mas Ryan.
Keesokan harinya aku diperbolehkan pulang oleh dokter Mauren.
Dan ibu langsung membawaku kerumahnya, tak ada tawar menawar lagi. Beberapa barang yang kutinggalkan dirumah ayahpun diambil oleh pak Joko.
Sore harinya mas Ryan langsung bertolak ke Thailand untuk menyelesaikan tanggung jawabnya yang tertunda.
Hari-hari berikutnya, aku dan ibu hanya melakukan hal-hal yang menyenangkan. Kami mengunjungi tempat-tempat wisata, menginap disebuah resort yang merupakan salah satu karya mas Ryan, menikmati fasilitas mewah dan berbelanja sepuasnya. Mungkin ibu bermaksud agar aku bisa melupakan kesedihan yang berturut-turut hadir dalam hidupku dengan waktu yang cukup singkat.
__ADS_1
Setelah pulang dari liburan berdua, ibu juga menunjukkan kesibukannya dalam menjalankan perkebunan dan pabrik kopi milik keluarga. Bagaimanapun kelak aset itu akan dibagi antara mas Ryan dan aku sebagai ahli waris dari mas Devan. Ibu berharap aku bisa bekerja sama dengan mas Ryan untuk mengembangkan usaha dari suaminya itu.