Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Jangan bilang hari ini, hari sialku


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian, bis mulai bergerak.


Kulirik pria jangkung disebelahku yang telah lelap dengan nyamannya itu. Dengan topi yang agak melorot menutupi wajahnya dan kedua lengannya bersedekap didada, sepertinya dia tak peduli dengan semua hal disekitarnya.


Mungkinkah semua pria memang mudah nyaman dalam kondisi apapun?!?


Kalau aku sih, berada dalam sebuah bis yang epnuh sesak seperti ini nggak muntah aja sudah bagus..


Ternyata ni orang lengannya besar juga. Dengan kulitnya yang kecoklatan terlihat berotot karena memakai kaos hitam lengan pendek.


"Eh...ngapain aku menilainya"batinku sambil mendengus dan membenarkan letak kerudungku.


Seorang pengamen wanita mulai bernyanyi dengan lantang sambil memetik gitar kecilnya. Ciri khas kendaraan umum.


Meski suara pengamen itu terdengar sangat berisik, aku masih juga heran pria bertopi disebelahku, seakan tak terusik dengan suaranya.


Setelah dua lagu selesai dinyanyikan dan dilanjutkan doa-doa untuk para penumpang dengan harapan banyak yang bersimpati padanya, pengamen itu berjalan sambil menyodorkan plastik tempat uang pada satu persatu penumpang.


Semakin kedepan , aku juga mulai menyiapkan uang dengan mencari dompet kecilku yang biasanya sudah ada disaku depan tasku.

__ADS_1


Tapi entah kemana, barang itu sekarang. Masih kuaduk-aduk tasku dan mulai panik karena belum juga menemukannya. Mungkin aku harus menolaknya batinku frustasi.


Dan saat pengamen itu menyodorkan plastiknya padaku, hampir kulambaikan tanganku sebagai tanda bahwa tidak ada yang bisa kuberikan padanya, tiba-tiba pria disebelahku memasukkan lembaran uang kedalam plastik pengamen itu dan mengisyaratkan bahwa itu dari kami berdua.


Aku menghela nafas lega, mungkin tadi dia menyadari kesibukanku mencari dompet kecilku.Aku bahkan tidak melihatnya telah bangun dari tidurnya.


Pria itu membenarkan letak topinya, lalu menoleh dan tersenyum padaku. Aku hanya bisa nyengir malu lalu mengalihkan pandanganku karena tak tau harus bicara apa. Kuputuskan untuk diam dan menghadap kearah luar jendela.


Tanpa ada percakapan, perjalananpun hampir sampai tujuan.


Sampai terminal kota tujuanku, hampir semua orang turun. Orang-orang pun seakan berebut untuk segera turun, sedangkan aku harus menunggu pria disebelahku beranjak dari duduknya.


Sejenak setelah berdiri memakai tas ransel besarnya itu ponselnya berdering.


Saat dia bergerak, akupun beranjak dan berjalan dibelakangnya. Rasanya tubuhku semakin mengecil, dengan tinggi tak genap 160 cm, terasa kontras dengannya yang mungkin tingginya 180 cm.


Karena sibuk dengan pikiranku sendiri, saat turun dari tangga pintu bis itu, kakiku tersangkut hingga hampir saja terjatuh. Untung saja kuraih ransel besar di depanku saat terhuyung kedepan.


Si pemilik ranselpun reflek meraih lenganku, untuk menyeimbangkan agar kami tidak sama-sama jatuh.

__ADS_1


"Ah...maaf mas..." ucapku padanya sambil menganggukkan badanku.


"Kamu nggak papa?" suara berat itu terdengar menghawatirkan ku


"Iya, nggak pa-pa kok, tadi sempat nyangkut aja..."


Kubenarkan letak tasku, lalu kutinggalkan pria itu. Aku tak berani menoleh kebelakang, maluuuu banget...,hhh.. jadi pengen punya jurus menghilang deh.


Meskipun tadi aku bilang nggak pa-pa, sebenarnya sepatuku sebelah kanan terlepas dari alasnya dan kaki kananku itu sepertinya kesleo, agak sakit saat kupaksa jalan.


Kuputuskan untuk duduk di salah satu bangku halte terminal itu, sambil memesan ojol melalui aplikasi.


5 menit...10 menit...akhirnya kulepas sepatuku, dan kutaruh dibangku sebelahku, biarin deh pulang tanpa alas kaki. Mungkin karena hampir malam, kios penjual kebanyakan tutup, sehingga aku tak menemukan penjual sandal jepit yang biasanya banyak disini.


"Maaf pengemudi kami sedang sibuk, coba kembali beberapa saat lagi..." sudah beberapa kali kucoba memesan ojol, namun suara merdu operator yang selalu menjawabnya


"Astaghfirullah..."batinku mulai lemas.


Kata ayah tidak ada hari sial, maka aku harus menikmati saat menyebalkan seperti ini.

__ADS_1


Motor berhenti didepan ku dengan dua orang yang berboncengan. Astaga...ransel itu!!


Benar juga, setelah helm dibuka, nampaklah pria bertopi yang tadi duduk disebelahku.


__ADS_2