Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Mengartikan mimpi


__ADS_3

Seminggu sudah,aku tak mendengar celotehan mas Ryan karena dia pergi ke perkebunan seorang diri dan rencananya hari ini ibupun akan menyusul kesana.


"Kinan...ibu akan ke perkebunan, apa kamu mau ikut? Soalnya ibu agak lama disana..."


Aku tau ibu akan membantu keluarga Adel untuk mempersiapkan acara pernikahan. Mungkin sebaiknya aku tak mengganggunya, lagipula aku takut kehadiranku akan memperkeruh keadaan.


"Kinan ada janji dengan Tania Bu , dan juga penjualan online juga sudah mulai ramai. Jadi Kinan menyusul ibu kalau sudah dekat hari H saja ya .."


" Baiklah..sekalian kalau ada yang mengantar baju dari butik, kamu terima... pembayarannya sudah ibu transfer..."ucap ibu sambil memasukkan beberapa barang di tasnya.


" Iya Bu .... mm..Kinan titip salam sama Adel ya Bu, nanti bila Kinan kesana akan menjelaskan semuanya ..." masih saja hal itu begitu mengganjal dihatiku.


"Kinan ... kamu tak perlu memikirkan hal itu, serahkan semuanya pada ibu..." ibu menghampiri dan mengusap lenganku


Sebelum kupastikan semua berjalan lancar, hal itu selalu memenuhi kepalaku. Menjadi beban yang sangat berat, hingga terasa lelah untuk melakukan apapun.


"Sekarang kamu harus menjaga kesehatanmu, lihatlah kenapa tubuhmu lebih kurus...ibu tak mau ya, kamu kurang makan dirumah ini..." ibu tersenyum menghiburku.


"Iya Bu, maaf membuat ibu khawatir...Kinan akan mulai program penggemukan deh..he..he.." kubalas senyuman ibu, bagaimanapun selama ini kasih sayang ibu yang membuatku bertahan dirumah ini.


Siang itu setelah ibu pergi bersama pak Joko, aku kembali menelfon Tania mengenai janji kami nanti sore. Dan ternyata suaminya yang berencana hari ini akan kembali ke Jakarta, mengundurkan keberangkatannya jadi acara kami harus dicancel.


Akhirnya aku pergi sendiri, karena harus membeli bahan wrapping untuk para custumerku.


Setelah sholat Ashar, kulajukan motor matic milikku membelah jalanan menuju toko grosir bahan-bahan yang kubutuhkan.


Semua barang belanjaan ku kukirimkan sampai rumah lewat jasa ojol. Lalu kulanjutkan perjalananku ke makam suamiku. Beberapa hari ini mas Devan menemuiku lewat mimpi, meski setiap selesai sholat aku selalu menyebut namanya dalam doa, namun kulihat dalam mimpiku dia sedang menatapku penuh kekhawatiran. Ingin sekali kuceritakan pada ibu, namun aku takut ibu merasa sedih.

__ADS_1


Suasana sore itu sedikit mendung. Saat kakiku melangkah mendekati makam , kulihat seseorang telah mendahuluiku bersimpuh disamping makam.


Sejenak kuhentikan langkahku.


" Mas Ryan..." gumanku lirih


Apakah aku harus melanjutkan langkahku? Ataukah pergi saja agar aku tak mengusiknya?


Seakan menyadari kehadiranku, mas Ryan menoleh kearahku. Akupun menghela nafas dan mendekatinya.


"Assalamualaikum..." sapaku saat aku berada disamping.


"Waalaikum salam..." mata hitam itu menatapku lekat dengan ekspresi datar.


Kualihkan pandanganku kearah pusara yang bertuliskan, dan kuusap nama bertuliskan Devano Rahardian. Seseorang yang sempat memberikan kesempatan bagiku untuk menjadi seorang istri, meski jauh dari kata sempurna. Yang sempat memberikan kesabaran dan perhatiannya pada cewek egois sepertiku.


Aku menghela nafas, memejamkan mata, menengadahkan tangan dan melantunkan ayat-ayat Allah SWT untuknya.


"Beberapa malam aku memimpikannya..." ucap mas Ryan dengan sendu.


Dan ucapannya itu membuatku terkejut, ternyata kami mempunyai mimpi yang sama.


" Kupikir...mungkin karena pernikahanku yang sebentar lagi berlangsung...jadi aku kesini untuk minta restu darinya..."


Tentu saja, bukankah kata ibu mereka mempunyai ikatan yang melebihi saudara kandung. Lalu kenapa dalam mimpiku wajahnya terlihat murung.


"Mas Devan, pasti senang sekali melihatmu menikah...kata ibu, dia sangat menyayangimu..."ucapku

__ADS_1


"Tentu saja dia akan ikut bahagia, jika aku juga bahagia...."


Kalimat itu terasa abu-abu, terkesan saat ini dia tak merasakan kebahagiaan.


"Mm..aku akan kembali, hari sudah mulai gelap..."ucapku untuk mengalihkan pembicaraan.


"Ya...aku juga akan kembali ke perkebunan...kamu kesini pake apa?" sahutnya sambil beranjak mengikutiku.


" Naik motorku sendiri..apa kamu yakin akan melakukan perjalanan ke perkebunan?Bukankah akan terlalu malam sampai sana?"sahutku saat kami berjalan beriringan menuju tempat parkir.


" Mm..tak apa, aku sudah sering melakukannya..."


"Bagaimana persiapan pernikahan kalian, apa ibu terlihat masih sibuk? Aku akan menyusul kesana setelah mengirim semua barang ke pelanggan ku.."


Kamipun berhenti, saat sampai disamping motor matic yang tadi kukendarai kesini.


" Semua sudah ditangani oleh keluarga pak Agung, ibu hanya sedikit membantu jadi kamu nggak usah khawatir ..."


Akupun menganggukkan kepalaku, merasa lega karena sepertinya tak ada lagi yang bisa kulakukan.


"Kalau gitu, aku pulang dulu..." ucapku padanya seraya mengambil helm ku dan langs kupakai.


" Hati-hatilah..." dia mengiyakan.


Setelah kuhidupkan mesin motorku diapun mundur dan berbalik menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dariku berada.


Sepanjang perjalanan pulang, dari kaca spion motor matic ku terlihat dengan jelas mobil hitam milik mas Ryan masih membuntuti ku, padahal arah kami berlawanan.

__ADS_1


Hhh... semoga dia memperlakukan aku seperti ini sebagai adik ipar yang merasa khawatir pada kakaknya ini.


Saat aku berbelok ke gang yang menuju rumah, barulah mobil hitam tadi menghilang melanjutkan perjalanannya sendiri.


__ADS_2