
Siang itu kami hanya makan bertiga. Aku , Tania dan ibu, sedangkan pak Joko, Bi Sumi , Bu Rismi dan pak Didik menikmati makan siang dibalai-balai samping rumah dengan menu utama sambel korek. Sepertinya mereka sedang piknik, sedang makan siang sambil menikmati pemandangan kebun kopi.
Untung saja sopirnya Tania langsung pulang setelah mengantarkan kami, karena bila bergabung dengan mereka, pasti baper karena tak bawa pasangan...
" Tania..apa kamu sudah mengabari suamimu kalau sudah berada disini?" tanya ibu sambil menikmati makan siang dengan kami.
" Sudah Tante, dia minta maaf tidak bisa menghadiri acara besar Tante ini..."
"Mmm...tidak apa-apa Tania, Tante sudah sangat senang dan berterima kasih padanya karena dia mengijinkanmu disini menemani Kinan..."
Aku yang dari tadi diam saja sedang berpikir apa yang harus aku tanyakan agar mengetahui dimana keberadaan mas Ryan. Bagaimana bisa orang-orang sama sekali tak membicarakannya , sementara pernikahannya tinggal dua hari lagi.
"Oh..iya Kinan, besok pagi sudah ada pihak WO yang mulai mengirimkan barang-barang untuk menata dekorasi di taman samping, mungkin mereka akan bertanya padamu dimana akan diletakkan barang-barang itu..."
Ah aku punya ide untuk mengorek informasi tentang mas Ryan.
"Baik Bu, lalu bagaimana dengan barang-barang untuk pengantin, dimana harus diletakkan? Apakah kamar pengantin pria juga dihias? Kamarnya dikunci tidak? "
" Ah iya... barang-barang perlengkapan pengantin biar dikamar ibu saja, kamar Ryan juga dihias, tapi dikunci tidak ya ...sejak dia pergi ibu tak pernah membukanya..."
" Memangnya dia pergi kemana Bu?" ucapku sebiasa mungkin, akhirnya aku bisa bertanya tanpa menimbulkan asumsi bahwa aku terlalu peduli padanya.
" Si Ryan tengil itu, ibu titipkan dirumah Tante Lusi..biar nggak ketemu dengan pengantinnya, biar bisa kangen banget pas hari H...he..he.."ibupun tertawa
Jadi begitu..... ya udah sekarang rasa penasaran ku sudah terjawab, setidaknya aku tahu dia tidak kenapa-kenapa.
Selesai makan siang, ibu mengajak kami kesebuah spa yang berjarak setengah jam perjalanan dari rumah.
"Ibu...kenapa Adel tidak ikut, bukankah pengantin wanita yang lebih membutuhkan semua ini...?" tanyaku pada ibu saat kami bertiga berada diruang tamu disana.
"Kinan...bagi warga desa, pengantin wanita tidak boleh keluar rumah selama satu Minggu sebelum dan sesudah hari H, hal itu sudah menjadi adat yang dipercaya akan menjadi pergunjingan warga bila tak dilakukan...kamu jangan khawatir, ibu sudah mengirimkan petugas spa untuk memberikan perawatan calon pengantin untuk dia dan ibunya..."
" Tapi kenapa kita bertiga juga memilih wedding package Bu..." aku menahan tawa, karena ibu membuat kami diperlakukan seperti calon pengantin.
__ADS_1
" Kinan...kenapa kamu cerewet sekali, aku udah merasakannya dan sangat menyenangkan, jadi biarkan aku merasakannya lagi..." Tania protes padaku
" Iya Kinan, hanya paket itu yang paling komplit jadi mari kita menikmatinya...sudah lama sekali ibu tak seperti ini..."sahut ibu santai
Memang benar kata ibu, hanya paket itu yang memberikan perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Dulu waktu menikah dengan mas Devan aku belum sempat merasakan paket seperti ini, ternyata benar-benar membuat rileks. Kami diperlakukan seperti putri raja bahkan aku sempat tertidur saat sampai pada bodies care.
Hampir magrib , kami baru selesai semuanya. Dan saat ibu membayar semua tagihannya, aku kembali menelan ludah ternyata menembus angka dua puluh juta hanya untuk tiga orang. Allahu Akbar....
Namun hanya aku yang terkejut, sedangkan Tania dan ibu tampak biasa saja dengan semua ini. Hhh...aku harus bisa beradaptasi dengan lingkungan seperti ini.
Karena sedang dapat tamu bulanan dan tidak melaksanakan sholat, setelah membersihkan diri aku merebahkan diri ditempat tidur, sedangkan Tania sepertinya masih mengobrol dengan ibu diruang depan. Kurasakan tubuhku terasa ringan dan nyaman sekali, hingga tak terasa aku mulai terlelap dan melupakan makan malam.
Keesokan harinya aku terbangun dan tak kudapati Tania disampingku.
Kutoleh jam dinding menunjukkan pukul lima pagi, aku segera beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri. Setelah meraih kerudung akupun keluar kamar dan mencari Tania.
Terdengar suara tawa khas Tania dari samping rumah, lalu aku menghampiri suara itu.
" Iya nih, rasanya udah lama aku bisa tidur senyenyak ini..." ucapku nyengir lalu menjatuhkan diri disebelah Tania.
Disana ada pak Joko dan pak Didik sedang menyesap kopi masing-masing sambil ngobrol bersama Tania.
"Dimana Ibu?"tanyaku pada Tania
"Oh iya, tadi ibu pesan agar kamu membukakan pintu kamar mas Ryan saat ada pegawai WO datang, nih kuncinya..." Tania menyerahkan sebuah kunci dengan gantungan buah kepadaku.
"Apa ibu pergi?"ucapku seraya memainkan kunci itu ditanganku
" Iya, katanya tadi mau pergi bersama pak Agung..."
"Ooh..."
__ADS_1
Pukul delapan sebuah truk besar memasuki halaman, terlihat barang-barang besar diatasnya.
Ternyata benar dari WO sudah mulai datang, dengan beberapa orang yang membongkar barang-barang dari atas truk itu.
" Selamat pagi, bisa bertemu dengan mbak Kinan?"ucap seorang pria paruh baya yang menemuiku diteras.
" Ya pak, saya Kinan..."
" Saya Pardi dari WO Bu Susi...mohon ijin membongkar barang..."
" Silahkan pak, nanti untuk yang didalam akan saya tunjukkan tempatnya..."
" Iya mbak, sementara untuk yang garden party dulu..."
" Oh iya, bapak bawa berapa orang ? saya siapkan es sekedarnya ..."
"Wah.. terima kasih mbak, ada delapan orang termasuk saya...kalau gitu saya kesana ya MBK..permisi"
" Iya silahkan pak..."
Sejenak kuperhatikan kesibukan orang-orang yang menurunkan barang-barang besar dari atas truk itu. Pasti besok akan menjadi acara yang sangat meriah.
Lalu aku berbalik dan menuju dapur untuk memberitahukan pada Bu Rismi dan Bu Sumi, agar menyiapkan minuman dan makanan untuk orang-orang tadi.
Tania terdengar sedang menelfon seseorang, mungkin suaminya, karena suaranya manja banget. Hatiku merasa rindu pada suasana seperti itu, kapan lagi aku bisa bermanja-manja pada seseorang...
Alih-alih menghilangkan perasaan baperku, aku malah menuju kamar mas Ryan. Kubuka pintu itu dengan kunci yang diberikan Tania tadi. Seketika aroma yang pernah kukenal ini membuat jantungku berdebar. Kuedarkan pandanganku dikamar yang luas itu, sebenarnya ini adalah kamar tamu, karena kamar mas Devan dan mas Ryan yang biasa ditempati kini menjadi kamarku dirumah ini.
Mataku tertuju pada sebuah meja tulis yang ada disebelah jendela besar dengan pemandangan langsung ke halaman tempat pesta besok akan dilaksanakan.
Akupun duduk dikursi yang memang sepasang dengan meja tulis tadi.
Ada beberapa buku besar tertata rapi diatas meja itu.
__ADS_1
Sebuah kertas terselip diantara buku yang mencuat keatas, aku bermaksud untuk merapikannya, dan ternyata terpisah dari buku, hingga dengan mudah aku mencabutnya..
Kubaca tulisan diatas kertas itu kata demi kata, meresapinya dan dadaku semakin sesak. Buliran air mata memaksa mengalir dikedua pipiku....