
Hari itu malam Minggu, pukul tujuh malam saat sebuah mobil hitam berhenti dihalaman. Saat itu aku menemani ayah diteras rumah.
Ya, aku tau itu mobil mas Ryan. Namun aku sudah terbiasa tak mengharap kehadirannya lagi, daripada dia merasa terbebani saat bertemu denganku.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam..." sahut aku dan ayah hampir bersamaan
Mas Ryan masuk dan duduk dikursi berseberangan denganku. Bukan..aku merasa pria di depanku bukanlah mas Ryan meski dengan fisik yang sama. Tentu saja aku begitu merindukannya, tapi melihat mendung diwajahnya membuat perasaanku tak semakin menentu.
"Bagaimana keadaan bapak? Masih ada keluhan?" ucapnya basa basi
"Hmm...bapak sudah jauh lebih baik nak, terima kasih. Apa kalian akan pergi...?"
Mas Ryan hendak menjawab, namun segera kusela.
" Nggak ayah, kami ngobrol disini aja kok.." sahutku.
Dan mata kami bertemu, namun detik kemudian aku menunduk, mengalihkan pandanganku darinya
__ADS_1
" Ohh ya udah, kalo gitu ayah masuk dulu..."
Setelah ayah masuk kedalam, tinggal kami berdua dengan suasana mencekam.
" Bicaralah mas.." ucapku setenang mungkin "keluarkanlah apa yang kau tahan selama ini, jangan biarkan kita saling menyakiti..."
"Aku..."
Aku berusaha tersenyum padanya, kurasa begitu berat beban yang sedang dihadapinya. Mungkinkah ini akhirnya...aku harus siap.
" Kinan...aku akan pergi lama dek.."dia menghela nafas sejenak.
Aku masih berusaha mencerna setiap perkataannya itu.
" Hmm...lha kok sedih gitu, selamat ya mas, bukankah itu kabar baik? Ee... langsung aja deh kebagian terburuknya ...aku ..sudah siap"sahutku menahan agar tak meneteskan air mata dihadapannya.
Dan ucapanku itu berhasil membuatnya terkejut.
" Maafkan aku dek...proyek ini akan memakan waktu begitu lama, aku..nggak bisa..." diapun mengusap wajahnya dengan kasar dan terlihat begitu frustasi.
__ADS_1
" Udahlah mas, aku ngerti kok, percayalah semua ini sudah dalam rencana Allah. Aku ikhlas...kamu baik-baik ya disana, semoga kamu selalu bahagia .." sahutku sambil meremas bajuku menahan emosi
" Aku nggak mau kamu sedih, kamu harus bahagia dek, aku yakin kamu akan menemukan pria lain yang bisa berkomitmen..bukankah kamu ingin segera menikah setelah lulus kuliah.."
"Terima kasih mas, kita saling mendoakan ya ..." Hhh...akhirnya ...
Seandainya kamu paham mas, bukan itu yang kuinginkan. Bila kamu memintaku untuk menunggu, dengan senang hati aku pasti melakukannya. Tapi ternyata tidak, kamu memilih untuk melepasku pada pria lain, mungkin memang tidak ada jodoh antara kita.
Begitulah, akhir dari cerita cintaku yang kandas ditengah jalan. Ternyata begitu menyakitkan, mungkinkah ini yang dirasakan Tania saat memutuskan berpisah dengan Dion. Namun kini mereka berdua kembali bahagia bersama, mungkinkah aku juga akan begitu?
Hari-hari yang kulalui terasa hambar, apa yang kulakukan hanyalah rutinitas yang kadang membosankan. Aku sudah berusaha melupakan mas Ryan, tapi kenapa semakin aku berusaha, semakin menyakitkan.
"Hei Kinan...!!" suara temanku menyadarkan lamunanku saat aku berada dikantin tempatku bekerja.
"Ya...ada apa mbak?" sahut ku pada mbak Virni rekan kerjaku
" Tuh ponselmu dari tadi berdering loh..."
"Eh...halo assalamualaikum ayah, ada apa?" aku langsung menyambar ponsel dimeja, ternyata ayah yang menelfonku
__ADS_1
Hari ini Bu Yahyu dan teman-teman lamanya akan menjemput ayah untuk reunian. Katanya sih cuma makan-makan di pemancingan aja. Rencananya mereka berangkat jam sembilan, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 12 lebih, apakah mereka udah selesai ya?
"Waalaikum salam, Kinan...ini saya, Bu Yahyu ibunya Devan...ee..ayahmu ada dirumah sakit..apa kamu bisa ijin?"