Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Saling menghindar


__ADS_3

Setelah selesai membersihkan diri ditoilet rumah makan tempat kami berhenti dalam perjalanan dari butik, aku berjalan keluar menuju tempat duduk kami tadi. Sambil membawa tas besar berisi aneka merk pembalut, aku merasa seperti seorang sales saja.


"Maaf...lama..." sapaku saat sampai dimeja makan kami. Terlihat berbagai menu yang kami pesan sudah memenuhi meja.


" Hmm...nggak papa, ayo makan ..."ucapnya sambil menyodorkan lemon tea hangat padaku.


" Aku nggak pesan ini kok.." sahutku sambil menatapnya.


" Jangan minum es dulu, minumlah yang hangat, agar perutmu nyaman ..."


Ah...tau juga dia tentang hal itu.


"Terima kasih..." akhirnya akupun menurut, bagaimanapun dia benar, setelah menyesap minuman hangat itu, perutku juga terasa hangat dan meredakan rasa sakit yang sedang kurasakan.


Disela-sela menikmati makan malam kami, kulirik pria didepanku yang dari tadi diam tiba-tiba cengengesan sendiri. Pasti diotaknya ada sesuatu yang konyol.


" Apa sih..." ucapku saat dia menatapku.


"Nggak..aku hanya teringat Bibi tadi, kamu lihat tadi dia berbisik padaku saat kita berpamitan..."


"Huh...pasti omongin aku kan..?" tuduhku padanya


"Hmm ..iya..tapi nggak usah dibahas deh, kamu pasti marah..." dia masih saja menahan tawa.


"Kamu udah terlanjur ngomong, terusin..."


"Tapi janji jangan marah Lo ya.."


"Nggak mau..."


"Kalau kamu ngambek, ngeri juga deh Ki..."


"Cepetan ngomong...!"


"Iya..iya..tadi itu si Bibi berbisik gini...#Eh bang Ryan, kamu beruntung deh, bini Lo asetnya gede semua..he..he..#"


Hah..langsung kulempar selada ke piringnya.


"Dasar mesum.."


"Nah kan..." dia masih terbahak melihat reaksiku.


Pipiku memanas melihat dia terbahak, pasti pikirannya kotor dan perlu dicelupin washbak.


"Oh .. iya, tadi kamu janji bakal cerita masalah yang telefon ibu kan..." ucapku untuk mengalihkan perhatiannya.


"Hah... mati aku!!"seketika dia terdiam dari tawanya.


Gantian aku yang menahan tawa melihatnya kaget.

__ADS_1


"Eee..Kinan, apa kamu pengen nambah menu? Atau cemilan ? Mau dibungkus ?"


"Nggak usah ngeles, cepet katakan apa yang ibu katakan tadi..."


Kulihat dia menghela nafas dan mengusap rambutnya beberapa kali, menghilangkan rasa gugup karena harus menceritakan suatu hal yang membuatku semakin penasaran.


"Baiklah Kinan,..tapi aku mohon tolong saat kamu mendengarkan ceritaku, cobalah lihat dari sisi diriku...meski terdengar egois, namun aku ingin hal ini menjadi akhir terbaik untuk semuanya..."


Sebenarnya apa yang ingin dia sampaikan, kenapa harus berbelit-belit seperti itu. Aku hanya melipat bibirku dan menatapnya tanpa ekspresi.


" Begini...aku telah menceritakan semuanya pada Adel, tentang kita...bagaimana perasaanku yang dulu dan sekarang, bagaimanapun dia harus tahu dariku, bukan dari orang lain...."


Seakan nafasku lolos dari tubuhku. Apa maksudnya? Disaat semua persiapan pernikahan sudah dilakukan dan bisa-bisanya dia berbuat hal konyol seperti itu.


"A..apa yang kamu katakan pada Adel..?" ucapku lirih, tak mampu mengucap dengan benar.


"Aku jujur padanya, karena aku ingin menjalani semua dengan keterbukaan..."


"Jujur yang bagaimana maksudmu?"


"Kinan, aku masih seperti yang dulu, aku masih mencintaimu...."


"Kamu gila ya..." kugelengkan kepalaku dan menatapnya nanar.


"Kinan...aku tak mau membohonginya.."


" Bagaimana reaksinya...."


"Dia...menangis..."


" Dasar egois kamu, kenapa tak kamu pikirkan perasaannya? perasaan keluarganya? perasaan ibu? pernikahan kalian adalah impian mereka semua... "


"Kinan aku janji, pernikahan ini tak akan batal...aku janji"


Kuusap air mata yang mengalir dipipiku.


"Baiklah, aku pegang janjimu itu...kalau sampai batal, aku akan pergi dari kalian, karena gara-gara kehadiranku semua jadi berantakan..."


Kulihat mas Ryan terhenyak mendengar pernyataan ku itu.


Setelah selesai dengan drama dirumah makan , kami melanjutkan perjalanan pulang dalam diam.


Hatiku merasa sangat sakit, karena akulah mas Ryan dan Adel jadi bermasalah, semoga Adel tetap bersedia melanjutkan pernikahan ini, kalau tidak aku tak akan mampu berhadapan dengan mereka.


Saat sampai rumah, seakan kami menjadi pribadi yang berbeda. Mas Ryan yang biasanya suka bercanda kini menjadi pendiam.


Dan dua hari kemudian mas Ryan pergi ke perkebunan seorang diri, entah memang ada urusan atau memang menghindar dariku yang memang lebih dulu selalu menghindar saat bertemu dengannya.


"Kinan... boleh kah ibu tanya sesuatu?"ucap ibu saat menemuiku diteras samping yang sore itu sedang memberi makan si Tania berkumis.

__ADS_1


Meeooong...si Tania mengeong, karena kedatangan ibu.


"Mm..tentu saja Bu, sebentar ya Kinan cuci tangan dulu.." setelah memegang makanan kucing, akupun cuci tangan lalu menyusul ibu yang duduk diteras samping itu.


"Kinan ...apakah kamu dan Ryan sedang bertengkar? Kulihat beberapa hari terakhir, kalian tidak seperti biasanya..."


Aku menunduk dan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Tentu saja kami tidak bertengkar Bu, Kinan hanya sebal saja padanya...dia begitu egois, tak memikirkan perasaan orang lain..." jawabku.


" Mm.. apa dia menceritakan sesuatu padamu?"


" Iya Bu, katanya dia jujur pada Adel tentang perasaannya padaku..Kinan takut sekali, pernikahan mereka akan berantakan gara-gara hal itu.."


"Saat ibu mendengar pernyataannya, reaksi ibu juga sama sepertimu Kinan..,namun lama-kelamaan ibu paham, bahwa dia benar tak baik menyembunyikan sesuatu pada Adel, itu seperti menyimpan bom waktu, karena suatu saat pasti Adel mengetahuinya.."


" Maafkan Kinan Bu, Kinan merasa jadi biang yang menyebabkan pernikahan mereka terganggu..."


"Hei...jangan begitu, sebenarnya sampai sekarang pun, ibu masih sangat menyesal telah memisahkan kalian .. karena ibu tau benar begitu besar sayangnya Ryan padamu, bahkan saat inipun ibu masih merasakan hal itu.."


Aku hanya menerawang ke pemandangan taman samping, tanpa menanggapi perkataan ibu. Bahkan tanpa mas Ryan mengucapkan nya aku juga masih merasakan perhatiannya padaku lebih dari seorang kakak ipar.


"Beberapa tahun yang lalu, saat kami duduk-duduk santai dan mengobrol seperti ini, ibu selalu mendengar celotehnya tentang seorang gadis yang begitu berarti baginya dan dia bilang semakin tak sabar untuk segera melamarnya... seandainya saja ibu lebih memahami nya .."mendung mulai menjalari wajah ibu.


" Ibu...jangan kembali kemasa lalu, bukankah sekarang kita sedang menatap masa depan... kita harus yakin, rencana Allah pasti lebih indah pada waktunya..." aku mengusap lengan ibu seraya tersenyum padanya untuk menghilangkan kegundahan hatinya itu.


" Kinan .. jujurlah pada ibu, apakah kamu juga masih punya perasaan sayang pada anak ibu yang tengil itu..?"tanya ibu sambil menarik sudut bibirnya


Hhh...pertanyaan itu mengapa masih saja muncul pada saat-saat seperti ini...


"Tentu saja, Kinan masih sayang padanya , namun saat ini lebih ke perasaan sayang untuk keluarga, bukan seperti dulu..."


" Hei...benarkah itu? Tapi ibu masih sering melihatmu malu-malu saat bersamanya..." ibu melirikku dan tersenyum menggodaku, masih saja suka membuatku terpojok.


Aku hanya bisa cemberut menanggapinya.


" Kinan...kisah cinta kalian sungguh membuat ibu baper, ingin sekali ibu menyatukan kalian lagi..."


"Apa!!" aku terkejut ibu berkata demikian. Bisa-bisanya ibu berkata seperti itu disaat detik-detik menuju acara besar yang dibuatnya sendiri.


Dan kulihat ibu malah tertawa melihat reaksiku.


"Ibu...jangan berkata seperti itu lagi ya, Kinan mohon ...kata ayah pamali seorang ibu berkata sembarangan..."


"Kamu takut ya...karena ucapan seorang ibu adalah doa, saat ini ibu hanya peduli dengan kebahagiaan dua orang anak ibu...Kamu dan Ryan, semoga saja apapun yang terjadi nanti adalah yang terbaik bagi kalian.." ibu kembali tersenyum padaku.


Akupun menggangguk sambil mengamininya.


Hmm ucapan itu lebih baik dibanding yang sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2