Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Keganjilan


__ADS_3


Sore hari, sebagai uji coba, tempat ijab qobul yang sudah siap dengan segala pernak-perniknya itu, semakin tampak hidup saat cahaya lampu mulai memberi background yang begitu indah.


"Kinan..." ibu melingkarkan tangannya di bahuku


Aku yang sedari tadi menikmati keindahan itu, menoleh dan tersenyum pada ibu.


" Ibu sudah pulang ...."kulihat wajah ibu begitu capek, entah apa saja yang dikerjakannya seharian ini.


" Indah sekali bukan? apa kamu menyukainya?"mata ibu menatap tempat yang dipersiapkan untuk ijab qobul besok pagi.


" Iya Bu, ini indah sekali....Adel juga pasti sangat menyukainya..."ucapku tulus.


" Dulu waktu rencana resepsi dengan Devan, ibu sempat melihat pilihan dekorasi yang sama indahnya dengan ini, Kinan...sayang sekali.." kulihat ibu menghapus air mata yang seketika mengalir saat teringat kepergian mas Devan.


" Ibu...mas Devan akan sedih kalau melihat ibunya yang tersayang ini menangis, besok adalah hari yang sibuk untuk ibu, sebaiknya ibu istirahat sekarang ya...." kuajak ibu kembali kedalam rumah.


"Kinan...ibu juga ingin melihatmu bahagia nak, ibu ingin melihatmu menikah..."


" Iya Bu, siapa lagi yang kupunya sekarang selain ibu...jadi ibulah yang akan menikahkan aku ..."


Ibu tersenyum penuh arti. Sungguh aku lega dengan semua yang berjalan dengan lancar, semoga besok tidak ada hal yang kurang.


Setelah ibu masuk kedalam kamar, Tania menghampiriku. Dia terlihat segar karena habis mandi dan keramas.


" Tante kenapa?"


"Hhh...teringat mas Devan, mungkin masih merasa trauma..." aku menelan ludah teringat saat-saat aku masuk kekamar mayat dan melihat suamiku terbujur kaku disana.


Tania mengusap punggungku dan menghela nafas seakan ikut merasakan kepedihan hatiku.


" Hei...apa kamu pernah bertemu mas Devan dalam mimpi?" tanyanya kemudian mengajakku duduk diruang tengah.


"Hmm..tentu saja, cuma...terakhir kali kulihat dia tampak sedih, aku takut hal itu jadi pertanda buruk, jadi aku berziarah ke makamnya. Dan disana aku bertemu mas Ryan, ternyata dia juga bermimpi hal yang sama..."

__ADS_1


" Menurut ku saat itu mas Devan sedang merasakan kesedihanmu, apa saat itu kamu dan mas Ryan ada masalah...?"


Aku mencoba mengingat saat itu, apa yang sedang terjadi. Ah iya bukankah aku sedang merasa sebal dengan mas Ryan gara-gara dia memutuskan untuk berterus terang pada Adel tentang kami. Benarkah mas Devan sengaja mempertemukan kami?


Tanpa sadar aku jadi tersenyum sendiri.


"Kinan...kok jadi senyum-senyum sendiri sih..."


"Ah..nggak papa bumil...apa keponakanku sudah menendang-nendang hari ini..hmm?" ucapku sambil berbicara pada perutnya.


" Kalo nendang sih sering, ini yang membuatmu bolak-balik ke kamar mandi karena pengen pipis terus..."


Aku tergelak mendengarnya. Jadi begitu ya, aku baru mengetahuinya sekarang...Bersama Tania, begitu banyak hal baru yang banyak memberiku pelajaran berharga.


Suara ketukan dan salam dari ruang tamu menghentikan obrolan kami.


"Assalamualaikum..."suara pria itu membuatku berjalan menghampirinya.


"Waalaikum salam..." sahutku kemudian. Aku mengernyitkan dahi, sepertinya pernah melihat pria ini tapi dimana ya?


" Sore...apa kita pernah bertemu?"tanyaku


"Mmm...belum mbak..." diapun tersenyum.


"Ah iya...silahkan duduk..."aku seperti baru tersadar membiarkan tamuku berdiri saja.


Aku mengajaknya duduk dikursi teras.


""Terima kasih mbak..."


Entah mengapa rona bahagia begitu terpancar dari wajahnya yang selalu membingkai senyumnya itu, dan membuatku jadi terbawa suasana.


" Saya Muhammad Fadhillah, sering dipanggil Fadhil mbak..."


"Dan darimana kamu tahu namaku?"

__ADS_1


"Karena Bu Yahyu sering menyebut nama Kinan, dalam setiap obrolan ..he..he.."


Aku hanya bisa manggut-manggut menanggapinya.


"Saya kesini, mau mengembalikan pinjaman sepatunya mas Ryan ini..." pria bernama Fadhil itu menyerahkan sebuah kotak padaku


" Baiklah, tapi saat ini mas Ryan tidak ada dirumah...besok baru bisa aku sampaikan padanya .."


" Iya mbak saya tau kok...saya benar-benar bahagia bisa mengenal keluarga mas Ryan, saya sangat berhutang budi pada Bu Yahyu .."


Aku mencoba mencerna ucapannya itu.Memangnya apa yang telah dilakukan ibu hingga pria ini begitu bahagia.


" Ya..kamu kelihatan sekali sedang bahagia..memangnya apa yang telah ibu lakukan?"


Dia masih saja tersenyum malu-malu sambil memainkan telapak tangannya.


" Maaf mbak, saya belum bisa mengatakannya...belum saatnya..he..he.."


"Kok aku jadi penasaran ya..." akupun terkekeh melihatnya malu seperti itu.


" Sebenarnya hari ini saya baru saja menikah ... jadi memang sedang bahagia..sepatunya mas Ryan tadi saya pakai untuk ijab qobul.."


" Wah benarkah? Selamat ya...tapi kenapa kamu malah kemari, nanti dicari istrimu Lo..."


" Ah iya juga...kalau begitu saya pamit dulu mbak, besok saya kesini lagi menghadiri pernikahan mas Ryan...sekali lagi terima kasih mbak Kinan ... assalamualaikum.." Fadhil segera beranjak dan tergesa-gesa melangkahkan kakinya meninggalkanku.


"Waalaikum salam..."aku hanya bisa menatap kepergiannya yang membuatku sangat heran itu. Dasar pria unik...


Kubawa masuk kotak berisi sepatu hitam itu, lalu kumasukkan kekamar mas Ryan. Mungkin besok sepatu ini juga akan dipakai ijab qobul oleh mas Ryan.


Aku merasa, semua kejadian yang kualami akhir-akhir ini begitu aneh dan penuh dengan teka-teki. Meski telah kucoba melupakan hal-hal itu, namun semakin lama aku semakin penasaran apa yang sebenarnya telah terjadi.


Seandainya aku tak melihat ibu begitu lelah, mungkin aku akan tidur bersama ibu dan merengek agar ibu menjelaskan hal-hal yang menurutku ganjil belakangan ini.


Ataukah ini hanya perasaanku saja?-------------

__ADS_1


__ADS_2