
Malam itu aku sedang sibuk dengan rasa malasku dikamar.
"Tumben mas Ryan tak berkabar..." pikirku sambil mengutak atik ponselku yang dari tadi diam seribu bahasa.
Mungkinkah ini yang dinamakan cemburu, saat pria yang kita sukai sedang bersama ibunya seharian? Ya..Tuhan , Kinan...ngapain juga cemburu ma ibunya, harusnya cemburu tuh sama cewek bohey yang manja dan selalu nempel dilengan kekasihmu!!
"Adryan Syahputra..." kulihat foto dikontak ponselnya " Aku kangeeeen..."
Tapi rasa gengsi ku terlalu besar untuk menghubunginya lebih dulu. Karena menurutku seorang pacar belum cukup punya hak untuk posesif.
Tak lama kemudian, samar-samar kudengar suara ayah dari teras rumah.
" Sebentar ya, bapak panggilkan..."
Memang dari dulu, ayah sering menghabiskan waktu diteras, menikmati keramaian jalanan depan rumah kami. Bedanya sekarang tanpa ibu yang menemani. Sejak kepergian ibu lima tahun lalu, kondisi kesehatannya juga naik turun karena jantungnya sudah lama bermasalah, hingga mengharuskannya control rutin sebulan sekali.
"Kinan...ada nak Ryan didepan.." panggil ayah didepan kamarku.
"Iya ayah...sebentar" kurapikan rambut dan bajuku, tak lupa kusambar kerudung instan lalu akupun melangkah dengan hati berbunga. Orang yang dari tadi kurindukan, sekarang ada didepan mataku.
"Assalamualaikum, Kinan..."suara itu seolah mengandung mantra yang dapat menghapus mendung dari hatiku.
"Waalaikum salam, mas..." aku tersenyum padanya, sambil meredam rasa bahagia dalam hati. Soalnya kalo nggak kutahan, bisa-bisa aku melompat kepelukannya sekarang juga.
"Kita diteras aja yuk..."ajaknya, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruang tamu.
Kenapa jadi dia yang seperti tuan rumah yak!?!
Akhirnya aku mengekor dibelakang tubuhnya itu.
__ADS_1
"Pengen rebahan kayak ayahmu tadi..."ucapnya sambil merebahkan diri ke kursi panjang dari bambu. Terdengar helaan nafas yang mengisyaratkan rasa lega karena terlepas dari penat akan kesibukannya hari ini.
"Kayaknya capek banget yah...harusnya istirahat dirumah aja mas" kulihat dia memejamkan mata, menikmati posisi nyaman rebahan dikursi panjang itu.
Sedangkan aku duduk dikursi yang terpisah dari tempatnya berada. Mataku menoleh saat kulihat bungkusan kecil dimeja kecil di sampingku.
"Apaan nih..." sedikit kutengok bungkusan itu, dan kuangkat dari meja.
" Oleh-oleh dari camer.." sahutnya asal sambil membenarkan bantal kursi dan mengubah posisi menyamping menghadap kearahku sambil memamerkan senyum tampannya itu.
" Eh..Solo Flossroll? Kamu dari Solo mas? Jadi aku salah dengar ya, waktu kamu bilang mau nganterin ibumu ke bezuk ke Semarang...?"kutatap wajah lelahnya dengan bingung.
Diapun menganggukkan kepalanya. Lalu bercerita, ada miss informasi. Katanya teman arisannya di Karyadi ternyata di Moewardi Solo. Sebenarnya mengasuh emak-emak arisan lebih rempong dari anak balita. Banyak maunya.
Sekali lagi Mas Ryan menghela nafas, sambil menatapku yang sedang menahan tawa membayangkan dia dikerjain emak-emak arisan.
" Yang sabar ya mas, namanya juga ibu-ibu. Pasti ibumu pamer pada teman-temannya, punya anak sabar dan penurut ..."ledekku
Akupun merenggut sambil menimpuknya dengan bantal kursi. Dan dia tertawa lepas melihat reaksiku.
"Tenang aja Ki, ibuku tau kok kalo aku milik seseorang, yang dipromosikan tuh kakakku. Ibu pengen banget kakakku segera menikah, karena udah cukup umur..padahal dia tuh cakep kayak idol Korea, harusnya kan banyak yang suka. Untunglah kamu nggak mau kenal keluargaku dulu, takutnya kamu lebih milih kakakku deh.."
" Benarkah kakakmu cakep? Tapi harusnya kamu tau kalo aku tuh sukanya cowok hitam manis, agak tengil nggak papa, asal setia..." sahutku sambil meliriknya.
Mas Ryan masih saja menatap, membuatku salah tingkah.
"Alhamdulillah, tipemu tuh aku banget Ki.."
" Heleh, pedenya jangan ketinggian mas, ntar jatuh sakit loh..."
__ADS_1
Diapun tertawa lebar sambil menggaruk kepalanya.
Meski hanya sekedar mengobrol seperti ini, aku sudah sangat senang. Yang kutakutkan dia merasa bosan, karena aku memang hanya anak rumahan yang jarang hang out seperti cewek gaul lainnya.
Saat mas Ryan mau pulang, aku mengantarkan sampai halaman tempat motor hitamnya terparkir.
"Ki..."
"Hmm.."
"Boleh aku memanggilmu dek?"
Akupun menoleh heran padanya.
" Kenapa mas? Apa kamu mau jadi kakakku?"
"Enak aja, maunya ya jadi imammu lah..."
"Tapi aku udah punya ayah yang jadi imamku..."
"Terus aja menghindar, awas saja kalo udah halal, kugelitikin sampe minta ampun..."
Aku jadi bergidik mendengarnya.
Mas Ryan terkekeh melihatku melotot. Lalu dia memakai helm dan menghidupkan mesin motornya.
" Tidur yang nyenyak ya dek, Assalamualaikum.."ucapnya berpamitan padaku.
" Waalaikum salam..." sahutku sambil melambaikan tangan, saat dia mulai melaju.
__ADS_1
Aku berbalik dan melangkah kembali kedalam rumah sambil tersenyum sendiri mengingat pembicaraannya kami tadi.
Kurasa aku harus menenangkan hatiku ini agar tak berlebihan mengagumi pria itu. Yeah...aku hanya bisa berusaha, karena sepertinya dia selalu berhasil membuatku berbunga-bunga dengan sikapnya padaku.