Biarkan Waktu Bicara

Biarkan Waktu Bicara
Terbangun dari tidur panjang


__ADS_3

Rasa nyaman ini, sangat ringan. Dimana aku? Apa aku sudah masuk alam lain, apa aku telah mati. Kuserahkan padaMu ya Allah. Engkaulah yang Maha Bijaksana, aku yakin apapun yang terjadi padaku kini, adalah yang terbaik untukku.


"Kinan..." seseorang memanggilku, mengapa aku sama sekali tak bisa melihatnya?


Namun aku yakin suara itu milik mas Ryan, kurasakan tanganku dalam genggaman. Mungkinkah ini tangannya, rasanya begitu menenangkan.


"Bangunlah Kinan...! Jangan tidur terlalu lama.."


Memangnya apa yang terjadi denganku?


"Kau boleh membenciku, menghukumku..tapi jangan dengan melihatmu seperti ini. Sungguh ini membuatku sangat tersiksa..."


Mengapa kau mengkhawatirkan aku, bukankah kamu telah melepaskan ku, sudah tak ada lagi kisah tentang kita lagi. Mungkin sebaiknya kita saling menjauh, karena saat berada didekatmu, aku masih merasa sakit hati...


" Kau tau Kinan, aku nggak pernah bisa berhenti menyayangimu...aku tak bisa melenyapkan rasa itu, meski aku telah berusaha menjauh darimu..."


Kamulah yang membuatku patah hati, kenapa kau begitu egois, tak peduli dengan perasaanku. Kamu sudah memulainya kan, jadi tetaplah jauh dari ku biarkan aku dengan hidupku yang lain tanpamu..


Seketika aku merasa terhenyak, mataku terbuka. Cahaya menyilaukan membuatku mengerjapkan mata berulang kali. Kuedarkan pandanganku.. lagi-lagi berada dirumah sakit, bahkan saat ini aku berada diruangan kecil penuh alat medis yang asing bagiku.


Ada suara orang diruangan sebelahku yang dibatasi tirai.


Beberapa menit kemudian, seorang dokter dan perawat yang mendampinginya mendekatiku dan tersenyum ramah.


"Hai putri tidur...akhirnya bangun juga. Kenapa lama sekali tidurnya, kasihan suamimu, sudah seperti orang gila terlalu gampang panik saat terlihat sedikit saja pergerakanmu..." ucapnya sambil memeriksa beberapa bagian tubuhku.


"Berapa lama aku disini dok ....?"


"Dari setelah operasi, berarti lima hari yang lalu...well sekarang semua sudah stabil. Sebentar lagi pindah ke ruang ranap biasa ya..."


"Terima kasih dok"


Operasi ya, jadi rasa perih diperutku ini ternyata bekas operasi.


"Kinan..." seseorang kembali membuka tirai tempatku berada.

__ADS_1


Wajahnya terlihat sangat lelah, cambang didagunya semakin tebal tak terawat dengan benar, namun senyum merekah terlihat sangat senang.


Meskipun masih terasa sakit hati karena ditinggalkannya, namun melihatnya seperti ini, hatiku melemah aku merasa kasihan padanya.


Aku masih bingung bagaimana harus bersikap terhadapnya.


"Apa yang kamu rasakan? Masih sangat sakit.."


"Jauh lebih baik...terima kasih"


"Alhamdulillah..."raut kekhawatiran masih melekat diwajah pria itu.


Setelah melewati beberapa prosedur, akhirnya aku dipindahkan dari ICU ke ruang rawat inap biasa.


"Kamu pasti lelah ..istirahatlah dirumah..." ucapku , aku tau dia seharian menjagaku tanpa meninggalkan ruangan ku.


Meski aku merespon segala ucapannya dengan singkat, dia masih saja merepotkan diri selalu bertanya apa yang kubutuhkan dan apa yang kurasakan.


"Apa kamu ingin ibu yang menjagamu?" ucapnya lagi


"Jadi...jangan mengusirku, aku akan menunggumu sampai kamu boleh pulang kerumah..."


" Disini ada dokter dan perawat yang menjagaku, aku juga udah baikan..."


" Aku memaksa, bukan menawar..biarkan aku...sedikit menebus kesalahanku..." mas Ryan menundukkan kepalanya saat mengatakannya.


Percuma berdebat dengannya. Aku menghela nafas melihatnya kembali ke sofa dan membaringkan tubuh lelahnya.


Teringat masa lalu, suasana saat kami bertemu, pasti terasa hangat dan menyenangkan. Tak kusangka, sekarang jauh berbeda, terasa dingin dan penuh perdebatan...


Sekarang kami seperti magnet yang searah, semakin dekat, semakin ingin menjauh darinya.


Hari menjelang subuh, saat aku terbangun merasa haus. Karena takut salah, akupun menekan tombol perawat.


"Selamat malam menjelang fajar nona manis..." perawat setengah baya itu masuk dan mendekatiku" ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


" Saya haus sus...bolehkah saya duduk?"


"Ayo kita coba, kalo masih sakit mending pake sedotan dulu ya..."


Dengan perlahan, akhirnya aku berhasil duduk


"Jangan terlalu dipaksakan ya..."


" Iya sus ..terima kasih.."lalu perawat itu memberiku segelas air putih.


Saat aku sedang minum, dia menoleh kebelakang tempat mas Ryan tidur dengan lelapnya.


"Suamimu terlihat sangat kelelahan...kata temanku yang merawatmu di ICU, setiap hari dia rajin sekali up date, menanyakan keadaanmu...dia juga rajin mengaji disampingmu dan lihatlah doanya terkabul, kamu terbangun dengan keadaan baik..."


" Ee..suster, kenapa kalian menganggap dia suamiku...? padahal bukan?"


"Eh benarkah?" suster itu terkejut.


Akupun menahan tawa melihat reaksinya itu.


"Tak mungkin dia kakakmu, tidak mirip ... kalo saudara tak mungkin perhatiannya sebesar itu, lagian tak ada orang lain yang menjagamu selain dia, hei.. jangan bilang kalian selingkuhan...eh" suster itu tersenyum meledekku, namu seketika langsung menutup mulutnya, mungkin merasa tidak sopan pada pasien.


Aku tak dapat lagi menahan tawaku.


"Nggak apa-apa sus, santai aja ..tapi semua tebakan suster salah, dia adek iparku .."


" Oh ya...lalu dimana suamimu? Kenapa dia yang repot seperti itu?"


"Suamiku pergi jauh, dan minta tolong padanya agar mendampingiku ..."


"Hmm...tapi kalian lebih pantas menjadi suami istri deh, dia so sweet banget.."


Wow..ternyata suster separuh baya ini berjiwa muda dan mudah berhalusinasi.


Hei... jangan-jangan Mas Ryan melakukan sesuatu yang diluar kendali, hingga semua orang yang melihatnya so sweet terhadapku. CK...awas aja kalo dia berani membuatku baper lagi... eh...

__ADS_1


__ADS_2