
" Mbak Kinan ya.." seorang gadis manis dengan rambut panjang dikepang menyapaku saat aku baru saja keluar kamar.
"Ah..iya, kamu..?"
" Saya Adelia..putrinya pak Agung ..." ucapnya tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya.
Dialah orangnya, yang akan mendampingi mas Ryan. Ada sesak di dada entah dari mana datangnya...
"Hai Adel...ibu banyak cerita tentangmu.."
Kata ibu , Adel ini dua tahun dibawahku.
Namun mungkin karena pertumbuhan tubuhku yang kurang, jadi Adel lebih tinggi dariku. Dengan mata bulat dibingkai bulu mata hitam yang lentik dan lesung pipi yang menghiasi wajah cantiknya. Penampilannya juga feminim dengan overall bermotif bunga menambah kecantikannya.
Sangat pantas bila bersanding dengan mas Ryan.
Aku menghela nafas terasa mengganjal dihati. Ah ..bagaimana cara menghilangkannya?
Dan kamipun berjalan menuju ruang makan. Disana sudah ada ibu dan sepasang suami istri yang belum kukenal.
"Kinan ... ayo sini.." ibu mengajakku duduk disampingnya.
"Inilah Kinan .. putriku.."ucap ibu lagi
Akupun mengangguk pada tamu kami itu.
"Mbak Kinan cantik ya...dulu waktu berkunjung kerumah Bu Yahyu, katanya mbak Kinan sedang berada dirumah ayahnya, jadi kita belum sempat bertemu ya ..." ucap wanita paruh baya itu.
"Kinan...mereka lah keluarga pak Agung, yang selama ini membantu ibu menghandle semua urusan perkebunan dan pabrik kopi kita..."sahut ibu
"Iya mbak Kinan, untung sekarang ada mas Ryan yang ikut terjun langsung, saya sangat terbantu olehnya...dia pemuda yang bersemangat..."
"Oh iya..dimana anak tengil itu sekarang?Sebentar ya pak , saya panggil Ryan dulu..."ibu beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruang makan.
"Mbak Kinan...kami sekeluarga turut berbela sungkawa atas kepergian mas Devan..." ucap pak Agung padaku.
"Terima kasih pak, mohon dimaafkan kesalahan mas Devan selama ini..."
"Mas Devan sangat baik, kami mengenalnya sejak kecil, dia begitu dewasa dan selalu melindungi mas Ryan adik kesayangannya itu..."Bu Agus menggambarkan sosok suamiku.
"Iya benar, Mas Devan orang yang sabar, persis seperti ayahnya yang juga seorang guru yang dulu memang mengajar di daerah sini...dan karena keuletannya pak Wisnu membantu kami para petani kopi dengan membangun pabrik disini" Pak Agus melanjutkan kisahnya.
Kami masih asyik dengan kisah masa lalu keluarga ini, saat ibu kembali diikuti mas Ryan dan temannya.
"Ternyata dia malah asyik ngobrol di depan..." ucap ibu kembali duduk disampingku.
"Maaf...kami baru saja bertemu setelah sekian lama, jadi lupa waktu..."
__ADS_1
"Kalo gitu ayo silahkan makan, semua ini hasil masakannya Adel lo ... sungguh beruntung yang jadi suaminya Adel , udah cantik pinter masak lagi.. bagaimana Ryan? enak kan masakannya Adel?" ucap ibu yang telah memasang umpannya.
Kulirik mas Ryan yang berada tepat didepanku sedang melahap makanannya.
"Mm..iya Bu, enak ..."sahutnya sambil menganggukkan kepalanya" Tolong sambalnya dek..."
Deg...panggilan itu ...sudahlah Kinan, berhentilah terbawa perasaanmu.
Adel segera menyerahkan mangkuk sambal kearah mas Ryan.
"Kinan..makan ikan yang banyak, biar tumbuh tinggi...nih pake sambal biar mantab"mas Ryan terkekeh sambil mendekatkan mangkuk sambalnya padaku.
Sontak mereka yang ada dimeja makan tertawa mengikutinya. Sedangkan aku hanya bisa nyengir menanggapi hal itu.
" Ryan...kamu tuh udah gede, tapi masih suka gangguin orang aja..." ibu menimpali.
"Benar Bu, si Ryan ini nggak akan sembuh usilnya kalo belum dinikahin..." sahut temannya yang bernama Dika itu.
"Eh..sialan, kamu aja yang udah nikah malah pisah gitu, ngajarin orang segala..."tukas mas Ryan membela diri.
"Hei..benarkah kalian akhirnya pisah, Dika?"tanya ibu
"Hmm... iya Bu, dia lebih memilih pergi dengan kehidupannya yang serba mewah...setelah ini aku harus memilih wanita sederhana yang bisa menerimaku apa adanya..."
"Dengar itu Ryan, tak semua wanita bisa menjadi pendamping setia.. jadi pilihlah wanita yang sudah kamu kenal dengan baik..."kata ibu.
"Tentu saja Bu, aku pasti akan menemukannya...siapa tau setelah makan ini, aku akan bertemu dengannya..."sahutnya sambil mengedarkan pandangannya, termasuk bertemu dengan tatapanku.
Entah kenapa aku merasa dia mengarahkan senyumnya padaku.
Makan siang itupun berakhir.
Mas Dika pamit pulang lebih dulu
"Mbak Kinan, maukah besok pagi kuajak untuk berkeliling ? " ucap Adel setelah berpamitan pada kami.
Aku menoleh kearah ibu, untuk meminta ijinnya.
"Pergilah Kinan...kebetulan besok ibu akan ikut Ryan ke pabrik,kamu bisa bersenang-senang dengan Adel..."
" Baiklah..aku akan siap pukul delapan ya..."
Adel pun mengangguk puas.
"Terima kasih Bu Yahyu, kami senang bisa bergabung makan siang dengan semua keluarga Bu Yahyu..."
"Hei..jangan sungkan, siapa tau keluarga kita akan semakin dekat..he..he.." ibu mengatakannya sambil melirik mas Ryan yang ada disampingnya itu.
__ADS_1
Merekapun pulang dengan berjalan kaki, karena rumahnya pun terlihat dari tempat kami berada.
Ibu membuntuti putranya yang lebih dulu masuk kedalam rumah.
"Hei..Ryan ..bukankah Adel itu gadis yang baik hmm..."ibupun ikut menjatuhkan dirinya bersama mas Ryan disofa depan televisi.
"Hmm...lalu?"
"Kinan...kemarilah, bagaimana menurutmu tentang Adel?"
Akupun ikut duduk dihadapan mereka.
"Kurasa Adel sangat cocok menjadi menantu ibu..." ucapku
"Apa!!" mas Ryan melotot kearahku
"Nah..betul kan kata ibu, bagaimana menurutku Ryan hmm?"
Mas Ryan menegakkan badan dan menghela nafas.
"Ibu...apa menurut ibu Ryan terlihat tertarik dengannya? Adel hanya kuanggap sebagai apa ya...semacam adek lah..."
"Huh..kamu ini!! Lalu kapan kamu akan menikah Ryan, umur ibu sudah lima puluh tahun..masa setua ini belum juga dipanggil nenek.."ibu terlihat sewot
"Sabarlah Bu, biar Ryan menata hati dulu..."
"Jadi kamu belum bisa melupakan mantanmu, hah?"
Mas Ryan menatapku sekilas
"Begini saja Ryan...bawa ibu kerumah mantanmu, biar ibu yang menyatukan kalian berdua!"
Sekarang gantian aku yang terbelalak.
"E..nggak bisa begitu Bu.."
"Kenapa nggak bisa, ibu ini mak comblang yang berkompeten, jangan ragu lagi, kapan kita menemuinya" ujar ibu dengan penuh semangat.
"Dia..sudah menikah Bu.." mas Ryan mengatakan itu dengan menundukkan kepalanya.
Sedangkan aku hanya bisa diam ,menonton drama secara langsung.
"Apa!! Jadi kamu masih cinta sama istri orang heh??!! Parah kamu Ryan, satu-satunya cara melupakannya hanya dengan menerima wanita lain...ibu nggak mau kamu berlarut-larut seperti ini.. bisa-bisa ibu yang gila karena masalahmu itu"
"Astaga ibu...Ryan pasti menikah, ibu jangan khawatir deh...lagian ibu kan sudah punya seorang anak yang lain, kenapa tidak menikahkannya dulu, biar cepat punya cucu..." mas Ryan melirikku dan tertawa kecil
Seperti orang linglung, aku mencerna ucapannya itu.
__ADS_1
"Kinan...apa benar kamu bersedia untuk segera menikah lagi?"ganti ibu yang menatapku.
"Hah..?!?" kenapa jadi aku yang kena...